Swedia tidak memiliki jawaban atas serangan mematikan Belanda dari dua sisi sayap. Dikritik karena pendekatan hati-hati, Koeman menginjak gas penuh di laga kedua.
21 Jun 2026 05:34 WIB · Olahraga
AP Photo/Ashley Landis
HOUSTON, SABTU — Nuansa pertandingan Belanda versus Swedia terasa seolah duel antara pecatur profesional dan amatir. Belanda terus mengulang pola simpel yang sama, dari sisi sayap, untuk menghukum Swedia. Serangan sederhana nan mematikan itu bagai skema skakmat tiga langkah.
Belanda berbenah total setelah ditahan imbang Jepang. Mereka enggan lagi bertele-tele dalam penguasaan dan bermain dengan tempo lambat. Itu dibuktikan dengan kemenangan meyakinkan ”Si Oranye” atas Swedia 5-1 di Stadion NRG, Houston, Texas, AS, Minggu (21/6/2026) WIB.
Tim asuhan Pelatih Ronald Koeman itu unggul empat gol lebih dulu. Ada satu kesamaan dari seluruh gol tersebut, semuanya berasal dari serangan sayap. Tiga gol pertama mereka bahkan diciptakan dengan skema yang serupa, berawal dari umpan silang tepat ke depan gawang Swedia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/12b13719e6429f70d0cd3aea24ffdbb4-wires_photo_7_.jpg)
”Mereka menyakiti kami di area sayap. Gol pertama tercipta dari umpan panjang yang tidak kami tangani dengan baik. Kami mengawali babak pertama dengan kurang baik. Kadang-kadang, Anda membutuhkan pengalaman seperti ini untuk belajar,” kata Pelatih Swedia Graham Potter.
Dua gol awal Belanda disumbang oleh penyerang Brian Brobbey. Pemain klub Inggris, Sunderland, itu tampil sebagai starter untuk pertama kali setelah dicadangkan di laga sebelumnya. Niat Koeman bermain ofensif tampak dari pergantian itu, mereka akhirnya menurunkan penyerang murni.
Hasilnya sangat efektif. Belanda memiliki sosok ”rubah” yang bisa mencium peluang di kotak penalti. Brobbey berturut-turut memanfaatkan umpan silang dari penyerang sayap Cody Gakpo dan bek sayap Denzel Dumfries. Dia tinggal menyontek bola masuk berkat umpan yang amat presisi.
Si Oranye sudah unggul dua gol ketika laga baru berlangsung 17 menit. Setelah jeda, baru dua menit babak kedua dimulai, mereka menambah gol lewat Gakpo yang memanfaatkan tusukan dan umpan silang Dumfries. Lagi-lagi, Swedia tidak mampu menghentikan serangan sederhana Belanda.
Swedia yang memainkan formasi 3-1-4-2 semestinya bisa membatasi serangan-serangan sayap lawan. Formasi mereka bisa menjadi lima bek sejajar ketika bertahan. Namun, tim asuhan Pelatih Potter selalu kecolongan dari umpan terobosan dan penetrasi di dua sisi sayap.
Serangan Belanda sangat mematikan karena mereka begitu lugas. Virgil van Dijk dan rekan-rekan langsung mengeksekusi peluang ketika ada kesempatan. Mereka banyak mengirim umpan terobosan ke sisi sayap tanpa takut kehilangan bola. Kelugasan itu tidak tampak di laga versus Jepang.
Pastinya kami membutuhkan kemenangan ini. Tekanan untuk menang di laga ini lebih besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/c4d274bdb0bf0fbcdf9dc6ec6336c900-Netherlands_v_Sweden__Group_F_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Statistik laga memperlihatkan perbedaan timpang tersebut. Belanda mencatat penguasaan hampir 60 persen ketika ditahan Jepang 2-2. Di laga tadi, penguasaan bola kedua tim seimbang. Belanda bahkan kalah dalam jumlah tembakan, 10-16, tetapi lebih efisien berkat serangan langsung nan cepat.
Setelah tiga gol dari kerja sama tim, Belanda menutup laga dengan tambahan sepasang gol dari aksi individu. Gol itu disumbangkan oleh dua pemain andalan di sisi sayap, yaitu Gakpo dan Crysencio Summerville. Adapun Swedia sempat mencetak gol hiburan di menit ke-59 lewat pemain pengganti Anthony Elanga.
Koeman menjawab kritik. Dia tidak lagi menginjak rem ketika unggul. Saat lawan Jepang, dia memainkan bek tambahan saat hanya unggul 2-1. Pendekatan hati-hati itu menjadi bumerang di penghujung laga. ”Pastinya kami membutuhkan kemenangan ini. Tekanan untuk menang di laga ini lebih besar,” kata sang pelatih.
Belanda berada dalam jalan yang benar. Koeman memang seharusnya memanfaatkan serangan dari sisi sayap. Mereka memiliki banyak penyerang sayap tajam. Saat bersamaan, mereka kekurangan pengatur serangan murni di lini tengah seiring ketidakhadiran gelandang serang Xavi Simmons akibat cedera.
Terlepas dari ketajaman di lini serang, Belanda masih jauh dari sempurna. Pertahanan mereka masih tampak rentan ketika menghadapi serangan-serangan balik lawan. Swedia berkali-kali mendapatkan peluang dari duet striker kelas dunia, Alexander Isak dan Viktor Gyokeres.
Beruntung, Isak dan Gyokeres sedang tidak berada dalam malam terbaik mereka. Para penyerang Swedia terlalu sering melewatkan peluang emas, selain juga penampilan apik dari kiper Bart Verbruggen. Adapun jumlah tembakan dari Gyokeres dan gelandang Yasin Ayari menyamai total seluruh pemain Belanda (10 kali). (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto