Tunisia hadir dengan wajah berbeda setelah dinakhodai pelatih baru. Sebaliknya, Jepang harus menghadapi Tunisia dengan kondisi pincang karena Takefusa Kubo cedera.
20 Jun 2026 19:27 WIB · Olahraga
AFP
GUADALUPE, SABTU — Laga kedua Grup F di Stadion Monterrey, Guadalupe, Meksiko, Sabtu (21/6/2026) siang WIB, bukan sekadar duel perebutan tiga poin. Bagi Tunisia, laga itu menjadi hidup-mati yang menentukan napas mereka di Piala Dunia 2026. Sebaliknya, laga itu menjadi ujian krusial untuk kedalaman skuad Jepang di tengah badai cedera.
Tunisia menatap laga ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia itu dengan kondisi terguncang seusai dilumat Swedia 1-5 pada laga pembuka di Monterrey, Meksiko, Senin (15/6/2026).
Kekalahan yang membuat mereka terpuruk di dasar klasemen Grup F itu berbuntut panjang pada pemecatan pelatih Sabri Lamouchi. Federasi bergerak kilat menunjuk Herve Renard untuk membangun ulang mental tim yang hancur lebur.
Renard bukan sosok asing dalam peta sepak bola global. Dia adalah arsitek di balik kemenangan sensasional Arab Saudi saat menumbangkan Argentina 2-1 pada laga pembuka Piala Dunia 2022, serta memimpin Maroko di edisi 2018. Dengan pengalamannya, Renard diharapkan mampu meningkatkan motivasi skuad ”Elang Kartago”.
Namun, penunjukan pelatih baru di tengah turnamen bisa menjadi perjudian. Tanpa adanya waktu adaptasi yang ideal, belum tentu strategi yang diinginkan Renard bisa teraplikasi secara instan.
Lagi pula, catatan kurang menjanjikan membayangi Renard. Sepanjang kariernya, pelatih asal Perancis itu belum pernah meloloskan tim asuhannya dari fase grup Piala Dunia.
Tanpa jaminan kemenangan, itu sama saja memberikan Tunisia tiket untuk pulang lebih awal. Mereka berisiko menyusul Haiti di Grup C dan Turki di Grup D yang lebih dahulu tereliminasi karena tumbang dalam dua laga.
”Tidak ada alasan lain. Kami harus berjuang keras dan mengerahkan segala kemampuan untuk memenangi pertandingan dan mengembalikan kepercayaan diri, serta membangkitkan semangat seluruh negeri yang masih terpukul oleh hasil mengecewakan laga pembuka,” ujar Renard, Sabtu (20/6/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/a25e1c3e227a653fd0c990d18f6551d7-Tunisia_Sweden_WCup_Soccer.jpg)
Sebelumnya, seusai ditunjuk menggantikan Lamouchi, Renard langsung menggelar pidato pembakar semangat yang telah menjadi cirinya kepada seluruh tim.
”Jika kita harus pulang hari ini, kalian tahu apa yang akan terjadi, masyarakat marah dan itu sangat bisa dimaklumi. Namun, kita berada di Piala Dunia. Kita harus memberikan respons dan itu harus cepat. Kalian beruntung berada di sini. Jadi, sekarang, mari kita mulai lagi, mari kita perbaiki situasi ini,” tegasnya.
Kapten Tunisia Ellyes Skhiri menyatakan, seluruh skuad menyambut baik kedatangan Renard. Dalam waktu singkat, semuanya merasakan dampak positif dari penunjukan nakhoda baru tersebut.
”Dia (Renard) langsung membawa energi dan pola pikir berbeda. Kami mengikuti setiap arahannya demi kebaikan tim,” kata gelandang Eintracht Frankfurt tersebut.
Secara psikologis dan statistik, Jepang berada di posisi yang jauh lebih diunggulkan saat meladeni Tunisia. Pada laga perdana, ”Samurai Biru” sukses menahan imbang salah satu kekuatan utama sepak bola dunia, Belanda dengan skor 2-2. Hasil itu menempatkan mereka di peringkat kedua klasemen sementara Grup F dengan 1 poin.
Berdasarkan peringkat resmi FIFA, jurang pemisah kedua tim pun terbentang cukup lebar. Jepang bertengger di peringkat ke-17 dunia, sedangkan Tunisia berada jauh di urutan ke-54.
Data Transfermarkt.com menegaskan dominasi wakil Asia tersebut. Dari enam pertemuan sejak 1996 hingga 2023, Jepang berhasil menyapu lima kemenangan. Satu-satunya kemenangan Tunisia terjadi pada 14 Juni 2022 di Osaka, Jepang, dalam laga persahabatan dengan skor telak 3-0.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/15/7c025bee-3a50-4b3f-a199-c344711af1d9.jpg)
Kendati berada di atas angin, skuad asuhan Hajime Moriyasu kini dihadapkan pada krisis kelengkapan tim. Sejumlah media Jepang sebagaimana dilansir The Chosun Daily, Sabtu (20/6/2026), melaporkan, daya gedor lini depan Jepang berpotensi berkurang setelah motor serangan, Takefusa Kubo, cedera saat bentrok melawan Belanda.
Hasil pemindaian MRI menunjukkan, Kubo mengalami cedera lutut kiri. Karena itu, dia tidak terlihat mengikuti sesi latihan tim pada 17 dan 18 Juni.
Asosiasi Sepak Bola Jepang menyebutkan, pemain Real Sociedad itu tidak sepenuhnya keluar dari tim, tetapi dia kemungkinan besar melewatkan laga kontra Tunisia. Pemain berusia 25 tahun itu harus melanjutkan pemulihan di kamp pelatihan tim di Nashville, Amerika Serikat.
”Saya bertanya-tanya bagaimana peluang kami dalam dua hari ke depan tanpa ide, kreativitas, dan sentuhan magis darinya (Kubo). Kami akan bertanding demi dia. Dia tidak keluar dari skuad, tetapi hanya absen untuk pertandingan dua hari lagi (menghadapi Tunisia). Saya yakin dia akan segera kembali dan saya sama sekali tidak khawatir,” ungkap penyerang Jepang, Keito Nakamura, Jumat (19/6/2026).
Absennya Kubo kian mereduksi kekuatan Jepang. Sebelumnya, mereka sudah lebih dahulu kehilangan tiga pilar utama karena cedera, mulai dari Kaoru Mitoma, Takumi Minamino, dan Wataru Endo. Ketiganya cedera jelang Piala Dunia sehingga urung masuk dalam daftar skuad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/74ceaabf24350e76c2f8f57ae887c99d-Netherlands_v_Japan__Group_F_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Kini, Moriyasu harus memutar otak untuk menghindari ledakan kebangkitan Tunisia yang tidak mustahil untuk mengejutkan. Tentunya, Moriyasu tidak bisa menganggap remeh lawan. Sebab, sama dengan Jepang, Tunisia juga memiliki bahan bakar motivasi masif untuk mengakhiri kutukan sejarah.
Kalau Jepang ingin melangkah melebihi babak kedua (dahulu babak 16 besar sebelum peserta menjadi 48 negara) yang diukir di empat edisi, Tunisia ingin lolos dari fase grup untuk pertama kalinya setelah selalu gagal di enam edisi yang pernah diikuti.
”Mereka (Tunisia) akan memiliki motivasi besar untuk memberikan kemampuan terbaik demi melaju ke babak berikutnya. Saya yakin mereka akan menghadapi kami dengan mentalitas tersebut dan kami tidak boleh bersikap pasif. Untuk bisa menang, kami harus memiliki tekad yang lebih kuat daripada mereka,” tutur Moriyasu dilansir France24.com, Jumat (19/6/2026).
Moriyasu menambahkan, Jepang merasa sangat terhomat karena bisa terlibat dalam laga ke-1.000 Piala Dunia. Karena itu, mereka akan menyajikan performa memukau demi menorehkan tinta manis dalam sejarah tersebut.
”Kami ingin memastikan, ini akan menjadi pertandingan luar biasa yang layak untuk laga ke-1.000 Piala Dunia,” pesannya.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul