Ukraina dan Epstein Bikin Trump Ribut dengan Pendukung
Trump dan pendukungnya berselisih soal kasus Epstein dan pengiriman senjata ke Ukraina. Partai Republik bisa kehilangan 40 kursi di DPR karena keributan itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru enam bulan menjabat pada periode keduanya ini. Gara-gara kasus Epstein dan perang Ukraina, Trump berselisih dengan para pendukung setianya. Perselisihan itu mengancam Trump dan Partai Republik dalam pemilu sela tahun depan.
Dalam unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, pada Rabu (16/7/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB, Trump bukan hanya mengecam pendukungnya sendiri. Trump juga menuduh para pendukungnya sudah termakan tipuan Partai Demokrat terkait penanganan kasus Epstein.
Perselisihan atau kontroversi Trump dengan para pendukungnya mengenai penanganan kasus Epstein sebetulnya berawal dari sikap Trump sendiri. Tahun lalu, saat kampanye presiden, Trump kembali mendorong adanya teori konspirasi atas kematian Epstein di penjara.
Teori ini pernah ia sampaikan saat masih menjabat pada periode pertama. Seperti diketahui, Jeffrey Edward Epstein ditangkap pada masa jabatan pertama Trump. Epstein ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam perdagangan manusia dan kejahatan seksual dengan anak di bawah umur.
Epstein dan kenalannya menjadi salah satu topik kontroversial di AS. Apalagi Epstein dikenal sebagai orang penting dan berkuasa yang memiliki lingkungan pergaulan dengan kalangan superkaya dan berkuasa.
Pada 10 Agustus 2019, ia ditemukan tewas di dalam selnya. Dalam keterangan resmi penyidik, Epstein dinyatakan bunuh diri. Namun, hal itu justru memicu perdebatan bertahun-tahun.
Saat masih menjabat pada periode pertama, Trump, anggota pemerintahannya, dan para pemengaruh konservatif menyebarkan klaim tidak berdasar seputar Epstein. Trump dan pendukungnya menyebarkan teori konspirasi tentang kematian Epstein. Trump juga menyatakan adanya potensi bukti dalam kasus perdagangan seks Epstein, termasuk dugaan ”daftar klien”.
Saat Trump terpilih untuk periode kedua, pendukungnya memanfaatkan janji Trump yang berulang untuk mengungkap dan membongkar ”kelompok rahasia”. Hal itu merujuk pada sebuah jaringan rahasia yang diduga terdiri atas orang-orang berkuasa yang memanipulasi keputusan pemerintah di balik layar.
Pendukung Trump juga mendorong pengungkapan potensi bukti dalam kasus perdagangan seks Epstein. Mereka mendorong penyiaran dokumen yang disebut mencantumkan daftar klien Epstein.
Pada Februari 2025, beberapa hari setelah Trump dilantik, Jaksa Agung AS Pamela Bondi menyiarkan sebagian dari berkas-berkas Epstein atau dikenal sebagai Dokumen Epstein. Sebagian lain sudah disiarkan pada 2019. Hanya, dokumen itu tidak mengungkap bukti yang memberatkan para pesohor dan pejabat sejumlah negara.
Pada awal Juni 2025, salah satu orang terkaya di AS, Elon Musk, menuding Trump ada dalam semua dokumen Epstein. Musk melontarkan tudingan relasi Trump-Epstein lewat media sosial.
Pada hari Musk melontarkan tudingan, sejumlah anggota DPR AS rupanya menyurati Jaksa Agung AS Pamela Bondi. Robert Garcia dan Stephen F Lynch, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, meminta dokumen Epstein diungkap sepenuhnya kepada publik.
Tudingan Musk mendorong anggota DPR AS, Dan Goldman, pada Juni lalu menyampaikan, ”Saya meminta penyiaran seluruh Dokumen Epstein sebulan lalu karena saya curiga (Jaksa Agung Bondi) menutupi dokumen itu demi melindungi Donald Trump.”
Mantan pengurus Partai Republik, Tim Miller, meminta hal serupa. Kolega Goldman di DPR AS, Ted Lieu, juga menyatakan semakin yakin nama Trump bertebaran dalam Dokumen Epstein selepas unggahan Musk. ”Saya mendesak Departemen Kehakiman menyiarkan seluruh Dokumen Epstein. Apa yang disembunyikan pemerintahan Trump,” kata Lieu.
Tak ada daftar
Awal bulan ini Departemen Kehakiman AS dan FBI melalui salah satu memo mengakui, Epstein tidak memiliki daftar klien yang menjadi korban perdagangan anak perempuan di bawah umur. Departemen Kehakiman dan FBI juga mengatakan tidak akan ada lagi berkas investigasi yang dipublikasikan.
Pernyataan itu menimbulkan kemarahan para pemengaruh dan pendukung sayap kanan. Trump dengan cepat membela Bondi. Trump mengklarifikasi pernyataan Bondi pada bulan Februari bahwa ada dokumen ”terkait daftar klien” di mejanya.
Menurut Trump, dokumen itu bukanlah dokumen daftar klien. Dokumen itu adalah berkas kasus Epstein secara keseluruhan. Trump juga menyebut dokumen Epstein sebagai ”hoaks”.
Trump justru menyalahkan Partai Demokrat. Trump menuduh Demokrat melakukan penipuan terkait dokumen Epstein.
Sayangnya, pernyataan Trump tersebut tak mampu meredam kekecewaan dan kemarahan para pendukungnya. Beberapa pemilik siniar dan pemengaruh pro-Trump yang membantu menggalang dukungan untuk Trump dalam kampanye 2024 mengatakan mereka kecewa atau bingung dengan komentarnya.
Penyokong teori konspirasi sayap kanan dan podcaster Alex Jones menyebut, ”Penanganan Trump atas kasus Epstein sebagai kecelakaan terbesar yang pernah saya lihat.”
Benny Johnson, seorang podcaster konservatif, mengatakan dalam acaranya bahwa dirinya adalah penggemar gerakan Trump. Ia mencoba untuk memberikan kritik yang keras dan berbicara atas nama basis massa.
Beberapa pendukung Make America Great Again (MAGA) menyebut Trump tidak peka. Mereka menuntut transparansi atas berkas pemerintah tentang Epstein.
Tuntutan tersebut juga didukung oleh anggota kongres dari Partai Republik dan sekutu penting Trump, Marjorie Taylor Greene. ”Amerika berhak mengetahui kebenaran tentang Jeffrey Epstein dan elite kaya dan berkuasa di lingkarannya,” tulis Greene, anggota kongres dari Georgia itu, di X pada hari Senin.
Ketua DPR Mike Johnson dalam wawancara pada acara Benny Johnson meminta Departemen Kehakiman untuk mengungkapkan semuanya. Setelah itu, biar publik yang menilai.
Partai Demokrat juga menganggap pernyataan Bondi sebagai celah untuk terus mempertanyakan penanganan kasus itu. Anggota DPR Ro Khanna, seorang Demokrat dari California dan calon presiden 2028, membagikan unggahan bertanda X dari calon presiden Partai Republik 2020 dan mantan Duta Besar PBB Nikki Haley.
Dalam cuitan itu, Haley menyerukan agar pemerintahan Trump merilis berkas-berkas Epstein dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Senjata ke Ukraina
Selain kasus Epstein, pendukung Trump juga dibuat jengah terhadap keputusan Trump menyediakan senjata bagi Ukraina. Trump mengatakan bahwa senjata AS senilai miliaran dollar AS, termasuk sistem pertahanan udara Patriot, akan diberikan kepada Ukraina. Trump menekankan sekutu NATO di Eropa akan menanggung biayanya.
Greene menyebut, pengiriman senjata itu pengkhianatan terhadap agenda America First yang dikampanyekan Trump. Greene juga mempertanyakan pernyataan Trump bahwa keputusan mempersenjatai Ukraina tidak akan merugikan Washington.
Padahal, ada biaya tidak langsung seperti penggunaan pasukan AS untuk melatih pasukan Ukraina dengan senjata yang dikirim. ”Tanpa ragu, uang pajak kita sedang digunakan,” kata Greene dalam laporan Euronews.
Anggota MAGA lainnya, yang pernah jadi Penasihat Keamanan Nasional AS, Steve Bannon, juga mengecam keputusan mengirim senjata ke Ukraina. ”Kita akan mempersenjatai orang-orang yang benar-benar di luar kendali kita,” kata Bannon.
Bannon mengatakan, pemerintahan Trump berpotensi kehilangan 10 persen dukungan karena kemarahan para anggotanya. Hal itu bisa membuat Partai Republik kehilangan 40 kursi DPR tahun depan dalam pemilu sela.
Pengurangan kursi berarti Republikan kehilangan status mayoritas di DPR. Dampaknya, aneka kebijakan Trump sulit mendapat dukungan parlemen.
Reaksi keras dan kemarahan para pendukungnya merupakan hasil dari masalah yang diciptakan Trump. Masalah itu berupa teori konspirasi tersebut. ”Nilai dari pendekatan semacam itu membantu individu mendapatkan kekuasaan politik,” kata Russell Muirhead, pengajar ilmu politik di Dartmouth College.
Muirhead mengatakan, ”Trump telah mengeksploitasi hal itu lebih hebat daripada siapa pun dalam sejarah Amerika.”
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Michael Flynn, meminta Trump memperbaiki semua. ”Yang kami inginkan pada tahap ini hanyalah sedikit kepercayaan yang dibangun kembali antara pemerintah federal kami dan rakyat yang seharusnya dilayani. Itu saja (TITIK!),” tulisnya. ”Dengan rekomendasi terkuat saya, mohon kumpulkan tim Anda dan cari cara untuk mengatasi masalah ini.” (AP)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru enam bulan menjabat pada periode keduanya ini. Gara-gara kasus Epstein dan perang Ukraina, Trump berselisih dengan para pendukung setianya. Perselisihan itu mengancam Trump dan Partai Republik dalam pemilu sela tahun depan.
Dalam unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, pada Rabu (16/7/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB, Trump bukan hanya mengecam pendukungnya sendiri. Trump juga menuduh para pendukungnya sudah termakan tipuan Partai Demokrat terkait penanganan kasus Epstein.
Perselisihan atau kontroversi Trump dengan para pendukungnya mengenai penanganan kasus Epstein sebetulnya berawal dari sikap Trump sendiri. Tahun lalu, saat kampanye presiden, Trump kembali mendorong adanya teori konspirasi atas kematian Epstein di penjara.
Serial Artikel
Dokumen Epstein, Tudingan Kelam Musk pada Trump
Epstein diduga menyimpan video tidak senonoh para pesohor dan pejabat. Trump mengaku pernah dekat dengan Epstein.
Teori ini pernah ia sampaikan saat masih menjabat pada periode pertama. Seperti diketahui, Jeffrey Edward Epstein ditangkap pada masa jabatan pertama Trump. Epstein ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam perdagangan manusia dan kejahatan seksual dengan anak di bawah umur.
Epstein dan kenalannya menjadi salah satu topik kontroversial di AS. Apalagi Epstein dikenal sebagai orang penting dan berkuasa yang memiliki lingkungan pergaulan dengan kalangan superkaya dan berkuasa.
Pada 10 Agustus 2019, ia ditemukan tewas di dalam selnya. Dalam keterangan resmi penyidik, Epstein dinyatakan bunuh diri. Namun, hal itu justru memicu perdebatan bertahun-tahun.
Saat masih menjabat pada periode pertama, Trump, anggota pemerintahannya, dan para pemengaruh konservatif menyebarkan klaim tidak berdasar seputar Epstein. Trump dan pendukungnya menyebarkan teori konspirasi tentang kematian Epstein. Trump juga menyatakan adanya potensi bukti dalam kasus perdagangan seks Epstein, termasuk dugaan ”daftar klien”.
Saat Trump terpilih untuk periode kedua, pendukungnya memanfaatkan janji Trump yang berulang untuk mengungkap dan membongkar ”kelompok rahasia”. Hal itu merujuk pada sebuah jaringan rahasia yang diduga terdiri atas orang-orang berkuasa yang memanipulasi keputusan pemerintah di balik layar.
Pendukung Trump juga mendorong pengungkapan potensi bukti dalam kasus perdagangan seks Epstein. Mereka mendorong penyiaran dokumen yang disebut mencantumkan daftar klien Epstein.
Pada Februari 2025, beberapa hari setelah Trump dilantik, Jaksa Agung AS Pamela Bondi menyiarkan sebagian dari berkas-berkas Epstein atau dikenal sebagai Dokumen Epstein. Sebagian lain sudah disiarkan pada 2019. Hanya, dokumen itu tidak mengungkap bukti yang memberatkan para pesohor dan pejabat sejumlah negara.
Pada awal Juni 2025, salah satu orang terkaya di AS, Elon Musk, menuding Trump ada dalam semua dokumen Epstein. Musk melontarkan tudingan relasi Trump-Epstein lewat media sosial.
Pada hari Musk melontarkan tudingan, sejumlah anggota DPR AS rupanya menyurati Jaksa Agung AS Pamela Bondi. Robert Garcia dan Stephen F Lynch, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, meminta dokumen Epstein diungkap sepenuhnya kepada publik.
Tudingan Musk mendorong anggota DPR AS, Dan Goldman, pada Juni lalu menyampaikan, ”Saya meminta penyiaran seluruh Dokumen Epstein sebulan lalu karena saya curiga (Jaksa Agung Bondi) menutupi dokumen itu demi melindungi Donald Trump.”
Mantan pengurus Partai Republik, Tim Miller, meminta hal serupa. Kolega Goldman di DPR AS, Ted Lieu, juga menyatakan semakin yakin nama Trump bertebaran dalam Dokumen Epstein selepas unggahan Musk. ”Saya mendesak Departemen Kehakiman menyiarkan seluruh Dokumen Epstein. Apa yang disembunyikan pemerintahan Trump,” kata Lieu.
Tak ada daftar
Awal bulan ini Departemen Kehakiman AS dan FBI melalui salah satu memo mengakui, Epstein tidak memiliki daftar klien yang menjadi korban perdagangan anak perempuan di bawah umur. Departemen Kehakiman dan FBI juga mengatakan tidak akan ada lagi berkas investigasi yang dipublikasikan.
Pernyataan itu menimbulkan kemarahan para pemengaruh dan pendukung sayap kanan. Trump dengan cepat membela Bondi. Trump mengklarifikasi pernyataan Bondi pada bulan Februari bahwa ada dokumen ”terkait daftar klien” di mejanya.
Menurut Trump, dokumen itu bukanlah dokumen daftar klien. Dokumen itu adalah berkas kasus Epstein secara keseluruhan. Trump juga menyebut dokumen Epstein sebagai ”hoaks”.
Trump justru menyalahkan Partai Demokrat. Trump menuduh Demokrat melakukan penipuan terkait dokumen Epstein.
Serial Artikel
Dari Pencipta Star Wars hingga Presiden AS dalam Daftar Kontak Mucikari Jeffrey Epstein
Kasus Epstein menarik perhatian karena klien dan kenalannya orang terkenal. Banyak pihak menuding klien Epstein paedofil.
Sayangnya, pernyataan Trump tersebut tak mampu meredam kekecewaan dan kemarahan para pendukungnya. Beberapa pemilik siniar dan pemengaruh pro-Trump yang membantu menggalang dukungan untuk Trump dalam kampanye 2024 mengatakan mereka kecewa atau bingung dengan komentarnya.
Penyokong teori konspirasi sayap kanan dan podcaster Alex Jones menyebut, ”Penanganan Trump atas kasus Epstein sebagai kecelakaan terbesar yang pernah saya lihat.”
Benny Johnson, seorang podcaster konservatif, mengatakan dalam acaranya bahwa dirinya adalah penggemar gerakan Trump. Ia mencoba untuk memberikan kritik yang keras dan berbicara atas nama basis massa.
Beberapa pendukung Make America Great Again (MAGA) menyebut Trump tidak peka. Mereka menuntut transparansi atas berkas pemerintah tentang Epstein.
Tuntutan tersebut juga didukung oleh anggota kongres dari Partai Republik dan sekutu penting Trump, Marjorie Taylor Greene. ”Amerika berhak mengetahui kebenaran tentang Jeffrey Epstein dan elite kaya dan berkuasa di lingkarannya,” tulis Greene, anggota kongres dari Georgia itu, di X pada hari Senin.
Ketua DPR Mike Johnson dalam wawancara pada acara Benny Johnson meminta Departemen Kehakiman untuk mengungkapkan semuanya. Setelah itu, biar publik yang menilai.
Partai Demokrat juga menganggap pernyataan Bondi sebagai celah untuk terus mempertanyakan penanganan kasus itu. Anggota DPR Ro Khanna, seorang Demokrat dari California dan calon presiden 2028, membagikan unggahan bertanda X dari calon presiden Partai Republik 2020 dan mantan Duta Besar PBB Nikki Haley.
Dalam cuitan itu, Haley menyerukan agar pemerintahan Trump merilis berkas-berkas Epstein dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Senjata ke Ukraina
Selain kasus Epstein, pendukung Trump juga dibuat jengah terhadap keputusan Trump menyediakan senjata bagi Ukraina. Trump mengatakan bahwa senjata AS senilai miliaran dollar AS, termasuk sistem pertahanan udara Patriot, akan diberikan kepada Ukraina. Trump menekankan sekutu NATO di Eropa akan menanggung biayanya.
Greene menyebut, pengiriman senjata itu pengkhianatan terhadap agenda America First yang dikampanyekan Trump. Greene juga mempertanyakan pernyataan Trump bahwa keputusan mempersenjatai Ukraina tidak akan merugikan Washington.
Padahal, ada biaya tidak langsung seperti penggunaan pasukan AS untuk melatih pasukan Ukraina dengan senjata yang dikirim. ”Tanpa ragu, uang pajak kita sedang digunakan,” kata Greene dalam laporan Euronews.
Anggota MAGA lainnya, yang pernah jadi Penasihat Keamanan Nasional AS, Steve Bannon, juga mengecam keputusan mengirim senjata ke Ukraina. ”Kita akan mempersenjatai orang-orang yang benar-benar di luar kendali kita,” kata Bannon.
Bannon mengatakan, pemerintahan Trump berpotensi kehilangan 10 persen dukungan karena kemarahan para anggotanya. Hal itu bisa membuat Partai Republik kehilangan 40 kursi DPR tahun depan dalam pemilu sela.
Pengurangan kursi berarti Republikan kehilangan status mayoritas di DPR. Dampaknya, aneka kebijakan Trump sulit mendapat dukungan parlemen.
Reaksi keras dan kemarahan para pendukungnya merupakan hasil dari masalah yang diciptakan Trump. Masalah itu berupa teori konspirasi tersebut. ”Nilai dari pendekatan semacam itu membantu individu mendapatkan kekuasaan politik,” kata Russell Muirhead, pengajar ilmu politik di Dartmouth College.
Muirhead mengatakan, ”Trump telah mengeksploitasi hal itu lebih hebat daripada siapa pun dalam sejarah Amerika.”
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Michael Flynn, meminta Trump memperbaiki semua. ”Yang kami inginkan pada tahap ini hanyalah sedikit kepercayaan yang dibangun kembali antara pemerintah federal kami dan rakyat yang seharusnya dilayani. Itu saja (TITIK!),” tulisnya. ”Dengan rekomendasi terkuat saya, mohon kumpulkan tim Anda dan cari cara untuk mengatasi masalah ini.” (AP)