Benarkah Trump dan Koleganya Untung Kala Bursa Bergejolak akibat Tarif?

Sejumlah politisi mendesak dugaan penyelidikan "insider trading" oleh Trump dan koleganya. Aset keluarga Trump naik di tengah gejolak pasar.

12 Apr 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Aset Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah koleganya naik di tengah gejolak bursa saham dan pasar keuangan. Gejolak itu dipicu keputusan Trump soal bea masuk impor.

Dilaporkan Associated Press pada Jumat (11/4/2025), anggota DPR Marjorie Talylor Greene termasuk yang naik asetnya. Data otoritas bursa AS menunjukkan, politisi Republikan itu memborong saham sejumlah perusahaan sejak pengumuman Trump.

Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan pemberlakuan tarif bea masuk impor (BMI) kepada hampir semua mitra dagang AS. Tarif 10 persen berlaku mulai 5 April dan tarif puluhan persen lain berlaku mulai 9 April.

Pasar seketika bergejolak. Harga saham hingga surat utang negara (SUN) AS merosot tajam.

Di tengah kemerosotan itu, Green diketahui membeli, antara lain, saham Lululemon, Amazon, Restoration Hardware, hingga Dell. Salah satu pendukung fanatik Trump itu membeli saat harga merosot hampir 40 persen.

”Semua investasi saya dilaporkan secara transparan,” kata Green.

Data otoritas bursa AS tidak mengungkap berapa investasi Green. Hanya disebut kapan dan saham apa saja yang dibelinya.

Hal yang jelas, bursa AS kembali bergairah pada 9 April. Beberapa jam setelah tarif baru BMI berlaku, Trump mengumumkan penundaan sampai 90 hari ke depan. Saham berbagai emiten, termasuk yang dibeli Green dan para pendukung Trump lainnya, naik.

Saham Trump Media and Technology Group Corp naik 22,67 persen selepas pengumuman penundaan BMI. Hingga 53 persen saham perusahaan itu dikendalikan keluarga Trump. Kenaikan saham Trump Media selepas pengumuman Trump membuat aset keluarga Presiden itu bertambah 415 juta dollar AS atau hampir Rp 7 triliun.

Desak penyelidikan

Sejumlah politisi Demokrat mendesak ada penyelidikan terhadap Trump dan pendukungnya yang membeli saham. Mereka menuding ada dugaan pelanggaran etika hingga hukum pasar keuangan dan pasar modal.

Senator Adam Schiff, Elizabeth Warren, dan Ruben Gallego termasuk yang meminta penyelidikan itu. Mereka mengajukan beberapa hal sebagai dugaan awal pelanggaran. Kenaikan harga saham perusahaan Trump hanya salah satunya.

Alasan lain, beberapa jam sebelum mengumumkan penundaan, Trump menganjurkan orang-orang membeli saham dan aneka sarana investasi lain di pasar modal. ”Ini waktu terbaik membeli,” tulis Trump di media sosial.

”Apakah lingkaran dalam (orang dekat) Trump diuntungkan secara ilegal dari gejolak di pasar saham lewat perdagangan orang dalam (insider trading)?” tulis Schiff di media sosial.

Infografik Respons dan Langkah Negara yang Terkena Tarif Resiprokal

Sementara Warren meminta penyelidikan untuk memastikan Trump tidak membuat penyumbang dana kampanyenya untung dari gejolak pasar. ”Terlihat seperti korupsi,” tulis Warren.

Dosen hukum pada Michigan State University, Kevin Douglas, menyebut bahwa dugaan perdagangan orang dalam selalu sulit dibuktikan. Tidak ada hukum federal AS yang secara jelas melarang jenis transaksi yang memanfaatkan informasi orang dalam itu.

”Undang-undang saham, yang melarang presiden dan pegawai federal bertransaksi berdasarkan informasi terbatas, menetapkan batas amat ambigu tentang yang disebut informasi terbatas itu,” katanya kepada majalah Time.

Kolega Douglas, Adam Pritchard, malah yakin Trump tidak melakukan perdagangan orang dalam. Sebab, Trump menganjurkan pembelian secara terbuka lewat media sosial. Kasusnya berbeda kalau Trump hanya menganjurkan itu kepada orang tertentu saja.

Sementara bagi dosen etika pemerintahan di Washington University, Kathleen Clark, unggahan Trump soal anjuran lazimnya menjadi hal yang patut diselidiki. Otoritas bursa AS, SEC, perlu mencari tahu apakah Trump tahu akan segera membuat keputusan yang bisa memengaruhi pasar.

”Kalau kita masih punya sistem dan ketertibang hukum, maka akan diselidiki,” ujarnya sebagaimana dikutip Time dan The New York Times.

Adapun dosen hukum Washington and Lee School of Law, Karen Woody, mengatakan, penyelidikan terhadap Trump dan koleganya dimungkinkan secara hukum. ”Ini bukan perburuan, di mana asal-usul tuduhan tidak jelas. Ini adalah contoh jelas atas yang kita sebut potensi manipulasi pasar oleh seseorang yang mampu menggerakkan pasar,” kata Karen.

Lazimnya, SEC akan menyelidiki tudingan pada Trump dan koleganya. ”Mereka pengawas pasar,” ujarnya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Billy Khaerudin