PIALA DUNIA 2026

Benarkah Iran Jadi Satu-satunya Tim yang Dirugikan Aturan Perjalanan Piala Dunia 2026?

Iran merasa diperlakukan tidak adil di Piala Dunia 2026. Namun, aturan perjalanan serupa ternyata dirasakan tim peserta lain.

21 Jun 2026 19:32 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP

Oleh Adrian Fajriansyah

Iran merasa diperlakukan tidak adil di Piala Dunia 2026. Mereka harus melakukan perjalanan ke lokasi pertandingan sehari sebelum laga dan langsung segera kembali setelahnya.

Namun, jadwal seperti itu sebenarnya bukan hal asing untuk tim-tim lain. Lantas, bagaimana sistem perjalanan 48 tim peserta yang harus melintasi 16 kota di tiga negara turnamen kali ini?

Jelang Piala Dunia 2026, kamp pelatihan Iran dipindahkan dari Tucson, Arizona, Amerika Serikat (AS), ke Tijuana, Meksiko. Mereka tinggal di hotel yang berjarak sekitar 6,4 kilometer dari perbatasan AS dan Meksiko.

Untuk menjalani pertandingan, skuad Iran diharuskan melakukan perjalanan sehari sebelum laga. Adapun semua lokasi pertandingan Iran pada penyisihan Grup G berada di AS, yakni menghadapi Selandia Baru pada 16 Juni dan Belgia pada 22 Juni di Los Angeles serta kontra Mesir di Seattle pada 27 Juni.

Iran diminta segera terbang kembali ke Tijuana sesaat setelah pertandingan itu berakhir. Aturan tersebut ditetapkan akibat dampak perang antara Iran dan AS.

”Team Melli”, julukan Iran, tidak nyaman dengan aturan tersebut. Setidaknya, mereka harus melakukan penerbangan dengan pesawat sewaan sejauh 204 km dari Bandara Tijuana ke Bandara Los Angeles, sehari sebelum laga yang berakhir imbang 2-2 dengan Selandia Baru itu.

Namun, menurut kapten Iran, Mehdi Taremi, perjalanan yang seharusnya ditempuh 2 jam 30 menit tersebut justru memakan waktu hingga 5 jam. ”Itu dikarenakan kami harus menjalani proses pemeriksaan keamanan dan imigrasi yang melelahkan,” ujarnya.

Mehdi Ghayedi (10) dari Iran dan Finn Surman (16) dari Selandia Baru bereaksi setelah pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia antara Iran dan Selandia Baru di Inglewood, California, Los Angeles, Senin (15/6/2026).

 (AP Photo/Andre Penner)

Seusai pertandingan yang berakhir pukul 20.00 waktu setempat, Iran sempat meminta penundaan perjalanan pulang selama sehari agar skuad bisa segera rehat. Namun, permintaan itu ditolak otoritas AS.

Permintaan Iran untuk bertolak ke Los Angeles dua hari sebelum laga kontra Belgia juga ditolak. Padahal, datang lebih cepat dibutuhkan agar pemain bisa beristirahat optimal sebelum pertandingan tersebut.

Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) berniat melayangkan protes resmi kepada FIFA atas perlakuan yang dianggap tidak adil tersebut. Mereka menyebutkan, perjalanan seperti itu tidak konsisten dengan prinsip kesetaraan kondisi bagi semua tim peserta dan dapat berdampak negatif terhadap proses persiapan tim.  

”Kami adalah satu-satunya tim peserta Piala Dunia yang hanya berada di kota tuan rumah selama 24 jam. Itu tidak adil. Semua pembatasan yang diberlakukan kepada kami juga memberikan dampak negatif pada kondisi fisik dan mental para pemain kami,” kata Sekretaris Jenderal FFIRI Hedayat Mombeini, Jumat (19/6/2026).

Walau sudah ada kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang, pembatasan terhadap Iran belum dicabut. Sejumlah pejabat tim dan staf pendukung belum berhasil mendapatkan visa ke AS. Pemain Mehdi Torabi bahkan harus datang ke konsulat AS di Tijuana untuk mendapatkan visa baru setelah laga pertama.

Tim-tim memasuki lapangan dengan latar belakang para penonton mengibarkan bendera Iran sebelum pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia antara Iran dan Selandia Baru di Inglewood, California, Los Angeles, Senin, (15/6/ 2026). 

AP Photo/Mark J. Terrill

Sesuai regulasi FIFA

Kepala Gugus Tugas FIFA Gedung Putih, AS, Andrew Giuliani mengatakan, aturan itu ditetapkan sebelum Piala Dunia. Penerapannya disebut sejalan dengan panduan FIFA terkait perjalanan tim secara umum.

Pasal 18.3 Regulasi Piala Dunia FIFA 2026 menyatakan, setiap tim harus melakukan perjalanan dari kamp tim ke lokasi laga sehari sebelum pertandingan (MD-1) dan dalam kasus pengecualian pada MD-2. Tim harus kembali ke kamp setelah pertandingan (pada MD/MD+1).

Akan tetapi, kepada surat kabar Inggris The Telegraph, Giuliani menyampaikan, pihaknya terbuka untuk merundingkan kembali ketentuan izin masuk Iran ke AS. Ia menambahkan, Washington dapat mempertimbangkan untuk mengizinkan Iran tinggal lebih lama di sekitar jadwal pertandingan mereka.

”Segala hal bersifat dinamis, masalah ini bisa didiskusikan. Kami tentu ingin menciptakan permainan yang adil dan kompetitif (fair play) di lapangan. Presiden pun meminta turnamen ini harus menjaga keseimbangan kompetitif, tetapi juga harus memastikan pihak-pihak yang berniat buruk tidak masuk ke negara ini,” terangnya dilansir CNBC, Sabtu (20/6/2026).

Terlepas dari polemik tersebut, jadwal perjalanan Iran bukan hal yang aneh untuk jarak pendek dalam turnamen ini. Banyak tim yang tiba di kota tuan rumah sehari sebelum laga dan langsung pulang tak lama sehabis pertandingan, termasuk tim AS.

Para pakar performa olahraga menuturkan, saat pemain tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi, khususnya beraklimatisasi dengan ketinggian, mereka sebaiknya tiba sedekat mungkin dengan waktu dimulainya pertandingan.

Contohnya, yang dilakukan sejumlah tim CONCACAF untuk mengarungi laga kualifikasi Piala Dunia di Mexico City yang berada di ketinggian sekitar 2.300 meter dari permukaan laut.

Seorang wanita berjalan melewati mural yang menggambarkan gelandang Iran Hamid Estili mencetak gol melawan Amerika Serikat selama pertandingan Piala Dunia FIFA 1998, yang dimenangkan Iran dengan skor 2-1, di dinding bekas Kedutaan Besar AS, yang sekarang menjadi museum anti-Amerika, di Teheran, Iran, Jumat, 12 Juni 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

A woman walks past a mural depicting Iranian midfielder Hamid Estili scoring against the United States during their 1998 FIFA World Cup match, which Iran won 2-1, on the wall of the former U.S. Embassy, now an anti-American museum, in Tehran, Iran, Friday, June 12, 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Jarak perjalanan yang harus ditempuh oleh Iran pun bukan yang terjauh. Sebagai gambaran, Iran harus menempuh total jarak perjalanan selama fase grup hingga 2.171 km untuk sekali jalan. Hal itu untuk dua kali penerbangan dari Tijuana ke Los Angeles sejauh 204 km dan dari Tijuana ke Seattle sejauh 1.762 km. Kalau pergi-pulang, jarak perjalanan mereka mencapai 4.342 km.

Perjalanan jauh turut dialami tim AS saat melakoni laga fase grup melawan Australia di Seattle pada Sabtu kemarin. Paling tidak, skuad ”Paman Sam” harus menempuh jarak 1.577 km dari kamp mereka di Orange Country, California, ke Seattle. Meski demikian, tim AS hanya menempuh 64 km dari kamp mereka ke stadion laga pertama dan kedua fase grup.

Bosnia-Herzegovina tercatat sebagai tim yang harus menempuh jarak perjalanan terjauh selama fase grup dengan total 4.731 km untuk sekali jalan dan 9.462 km pp.

Perjalanannya meliputi penerbangan sekali jalan 2.671 km dari kamp di Salt Lake City (AS) ke lokasi laga pertama fase grup di Toronto (Kanada) hingga 949 km ke lokasi laga kedua di Los Angeles, dan 1.110 km ke lokasi laga ketiga di Seattle.

Kendati demikian, total jarak perjalanan Bosnia itu masih jauh lebih pendek ketimbang yang ditempuh tim AS selama fase grup Piala Dunia 2014 yang mencapai 14.484 km pp. Total jarak perjalanan tim AS saat itu menjadi yang terjauh di antara 32 peserta.

Ketika itu, tim AS terbang sekali jalan 2.311 km dari kamp di Sao Paulo, Brasil, ke lokasi laga pembuka fase grup di Natal. Kemudian, mereka terbang sekali jalan 2.948 km ke lokasi laga kedua di Manaus dan terbang sekali jalan 2.126 km ke lokasi laga pemungkas di Recife.

Jarak perjalanan yang lebih singkat dialami semua tim peserta saat Piala Dunia 2022. Kala itu, semua stadion berada dalam radius 50 km dari pusat kota Doha, Qatar. Tim-tim peserta pun bisa menetap di satu hotel yang sama sepanjang turnamen.

Para penggemar mengibarkan bendera Iran prarevolusi selama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia antara Iran dan Selandia Baru di Inglewood, California, Los Angeles, Senin (15/6/2026). 

(AP Photo/Andre Penner)

Terlepas dari angka-angka pembanding tersebut, kondisi yang menimpa Iran telanjur mendapatkan simpati luas dari publik. Bahkan, hati publik di Tijuana terbelah, berbagi untuk Meksiko dan Iran.

Tak sedikit warga lokal yang datang memberikan dukungan langsung kepada para pemain Iran di hotel dan tempat latihan mereka.

”Saya datang ke sini untuk mendukung sepak bola Iran, menyemangati mereka, dan membuat mereka bahagia,” ujar Lucas Zarrabi, remaja berusia 13 tahun yang mendatangi hotel tempat skuad Iran menginap.

Sorak-sorai puluhan penggemar pun pecah saat para pemain Iran mulai berjalan beriringan melwati lobi hotel. Para pemain tampak tersenyum dan melambaikan tangan serta menyempatkan diri berhenti sejenak untuk memberikan tanda tangan.

Sebelum menaiki bus menuju Bandara Tijuana untuk ke lokasi laga kontra Belgia, setiap pemain mencium Al Quran dan menempelkannya ke dahi mereka.

”Iran, Iran! Whoop, whoop!” seru para penggemar yang kemudian mengakhiri momen tersebut dengan menyanyikan lagu dukungan bersama-sama. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati