PANGAN POKOK

Beras Dilanda Kenaikan Harga dan Ancaman Penurunan Produksi

Sebelum intensitas El Nino makin kuat, harga beras terus merangkak naik. Risiko kenaikan harga beras akan semakin besar jika El Nino moderat, bahkan kuat, melanda.

22 Jun 2026 11:56 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Harga beras medium dan premium terus merangkak naik. Oleh karena itu, Perum Bulog diminta segera menggelar operasi pasar. Di tengah kondisi itu, produksi beras nasional terancam turun akibat dampak El Nino.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada pekan ketiga Juni 2026, harga rerata nasional beras medium senilai Rp 14.402 per kilogram (kg). Harga beras tersebut naik 0,38 persen dibandingkan harga rerata pada Mei 2026.

Demikian juga dengan beras premium yang harga reratanya naik 0,46 persen menjadi Rp 16.230 per kg. Harga kedua jenis beras itu berada di atas rerata harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium yang masing-masing dipatok Rp 13.500 per kg dan Rp 14.900 per kg.

”Dalam periode perbandingan yang sama, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras juga bertambah dari 110 daerah menjadi 130 daerah," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (22/6/2026).

Ateng menyatakan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta. Rapat yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir Balaw itu dihadiri perwakilan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah pengampu sektor pangan di Indonesia.

Quote

Harga beras medium di zona 1 dan 2 dikategorikan berstatus waspada dengan disparitas tinggi. Sementara harga beras medium di zona 3 dikategorikan berstatus tidak aman dengan disparitas tinggi.

Perkembangan tingkat inflasi beras pada 2024 hingga Mei 2026.

Dalam rapat itu, Tomsi meminta Perum Bulog yang memiliki cadangan beras pemerintah di atas 5 juta ton segera menggelar operasi pasar beras secara masif. Operasi pasar tersebut harus menyasar daerah-daerah yang mengalami kenaikan harga beras.

Kantor Staf Presiden (KSP) juga merekomendasikan hal serupa. KSP bahkan mengategorikan harga beras medium di zona 1 dan 2 berstatus waspada dan disparitas tinggi. Sementara harga beras medium di zona 3 dikategorikan berstatus tidak aman dan disparitas tinggi.

Zona 1 meliputi wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Zona 2 mencakup wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur. Adapun zona 3 meliputi wilayah Maluku dan Papua.

Sepanjang Januari-Mei 2026, beras mengalami inflasi tahunan secara beruntun. Berdasarkan data BPS, tingkat inflasi tahunan beras pada Januari, Februari, Maret, April, dan Mei 2026 masing-masing sebesar 3,44 persen, 3,61 persen, 3,71 persen, 4,36 persen, dan 4,55 persen.

Buruh tani mengepak panen padi di Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di kawasan tersebut dijual Rp 7.200 per kilogram. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di kawasan tersebut dijual Rp 7.200 per kilogram. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Mei 2026 sebanyak 16,57 juta ton. Volume produksi itu turun 376.292 ton atau 2,22 persen dibandingkan dengan realisasi produksi pada Januari-Mei 2025. El Nino, yang diprediksi memicu kemarau ekstrem tahun ini, berpotensi mengganggu produksi dan ketersediaan pangan. Kerentanan pada sektor pangan semakin bertambah dengan adanya perang yang menyebabkan krisis energi dan terganggunya rantai pasok internasional untuk komoditas. Namun, Kementerian Pertanian menyatakan, stok pangan nasional memadai selama masa El Nino. Stok beras disebut-sebut cukup untuk 11 bulan ke depan.


KOMPAS/AGUS SUSANTO
21-4-2026

Kompas mencatat, inflasi dan kenaikan harga beras itu disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pascapanen raya musim tanam (MT) I pada Maret 2026.

Harga GKP tersebut berada di kisaran Rp 7.000 per kg hingga Rp 8.000 per kg. Harga tersebut berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP) GKP di tingkat petani yang dipatok Rp 6.500 per kg.

Kedua, dampak berkurangnya pasokan dan kenaikan harga plastik beserta bahan bakunya akibat imbas konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketiga, pola musiman berkurangnya areal tanam padi dan produksi beras pascapanen raya MT I padi.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan April 2026, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau turun 0,35 persen dibandingkan Januari-Juli 2025 yang sebanyak 22,03 juta ton.

Perkembangan dan proyeksi produksi beras nasional pada 2024-Juli 2026.

Risiko semakin besar

Musim kemarau panjang yang dipicu oleh El Nino berpotensi membuat risiko kenaikan harga beras semakin membesar. Sepanjang periode musim kemarau itu produksi beras diperkirakan turun akibat kekeringan serta serangan hama dan penyakit.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, sejak akhir Mei 2026, Indonesia sudah memasuki El Nino dengan intensitas lemah. El Nino tersebut akan terus bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Intensitas terkuatnya diperkirakan terjadi pada Oktober-November 2026.

Quote

Saya perkirakan produksi beras nasional turun 2,5-3 persen dari realisasi produksi beras 2025 yang mencapai 34,69 juta ton.

Pengamat pertanian yang juga pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, berpendapat, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi turun akibat dampak El Nino. Ini mengingat peluang terjadinya El Nino semakin besar, termasuk El Nino intensitas kuat.

”Seiring perkembangan waktu, amat mungkin peluang El Nino kuat makin besar. Saya perkirakan produksi beras nasional turun 2,5-3 persen dari realisasi produksi beras 2025 yang mencapai 34,69 juta ton,” kata Khudori ketika dihubungi dari Jakarta.

<p>Khudori SP, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-2014)</p>

Menurut Khudori, kondisi iklim/cuaca tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pada 2025, produksi beras bisa naik tinggi—lebih dari 10 persen—karena sepanjang tahun ada hujan. Kategori kemaraunya pun tergolong kemarau basah.

Dengan begitu, lahan-lahan tadah hujan yang semula tidak bisa diusahakan dan ditanami akhirnya bisa ditanami. Inilah yang membuat luas panen padi pada 2025 naik tinggi.

Situasi pada tahun lalu, lanjut Khudori, jelas bakal berbeda dibandingkan tahun ini. Kendati demikian, pemerintah sepertinya lebih siap mengantisipasi El Nino pada 2026 ketimbang saat menghadapi El Nino kuat pada pertengahan 2023 hingga Mei 2024.

”Hanya saja, ada sejumlah tantangan yang bakal dihadapi pemerintah, yakni ketersediaan anggaran dan ketersediaan air pada awal MT I padi pada 2027,” ujarnya.

Khudori menjelaskan, perhatian Kementerian Pertanian pada 2026 bertambah. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan produksi beras dan jagung, tetapi juga kedelai, tebu, kacang hijau, dan singkong.

Berbeda dengan 2025 yang fokusnya hanya dua komoditas, yakni padi dan jagung. Ini membuat sumber daya dan anggaran pada 2026 harus terbagi.

Minimnya debit air di saluran irigasi tersier akibat musim kemarau menjadikan petani di sebagian wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memanfaatkan pompa air bertenaga generator (genset). Tak pelak, suara genset menjadi kelaziman di beberapa wilayah utara Kediri di tengah puncak musim kemarau.

Selain itu, ia melanjutkan, salah satu kesiapan pemerintah menghadapi El Nino pada 2026 adalah penyediaan pompa-pompa air. Pompanisasi untuk mengairi areal persawahan itu hanya bisa terjadi jika air tersedia.

Pada puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan kemudian berlanjut pada bulan-bulan berikut, ketersediaan air mungkin masih mencukupi. Namun, kalau mengacu pada perkiraan BMKG, El Nino bakal membuat musim kemarau lebih panjang dari normal.

”Artinya, amat mungkin El Nino juga melintas hingga awal tahun depan (2027). Jika ini yang terjadi, pertanyaan penting adalah apakah air ada atau tersedia? Pompa bisa saja tersedia. Namun, kalau airnya tidak ada atau tersedia, apa yang mau dipompa,” kata Khudori.

Khudori menambahkan, hal serupa juga berpotensi terjadi pada sumber-sumber air irigasi. Ini mengacu pada keandalan irigasi yang sumber airnya disuplai dari bendungan atau waduk yang hanya sekitar 11 persen pada akhir 2024.

Saat ini, sepertinya keandalan irigasi tidak naik signifikan dari dua tahun terakhir. Ini terjadi lantaran banyak bendungan dan waduk yang dibangun di era Presiden Joko Widodo belum terhubung dengan saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier hingga ke sawah.

”Air di bendungan/waduk bisa saja ada, tetapi tak termanfaatkan. Di sisi lain, air irigasi amat tergantung debit sungai. Kalau debit sungai turun, layanan irigasi menurun,” katanya.

Perkembangan dan proyeksi produksi beras Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) per Juni 2026.

Pada Minggu (21/6/2026), Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2026 turun sekitar 5 persen dibandingkan produksi beras pada 2025. Dari produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan 34,69 juta ton, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi turun 1,73 juta ton.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga meramalkan penurunan produksi beras Indonesia. Merujuk laporan USDA pada Juni 2026, produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 masing-masing sebanyak 33,8 juta ton dan 33,4 juta ton. Potensi produksi tersebut turun dibandingkan realisasi produksi pada 2024/2025 yang mencapai 34,1 juta ton.

Di sisi lain, Kementan menargetkan produksi beras pada 2026 dan 2027 masing-masing sebanyak 34,77 juta ton dan 34,83 juta ton. Bahkan, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2025/2026 sebesar 38,5 juta ton dan 2026/2027 sebesar 38,6 juta ton.

Infografik Proyeksi Produksi Beras FAO


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan