Salah satu jenis cedera yang paling sering dialami oleh pelari ialah "patellofemoral pain syndrome" (PFPS). Cedera ini berupa nyeri di sekitar tempurung lutut.
16 Des 2024 15:46 WIB · Olahraga
Seseorang yang kerap melakukan olahraga lari baik pemula maupun atlet profesional memiliki risiko terkena cedera saat latihan ataupun perlombaan. Cedera lari bisa terjadi di berbagai bagian kaki yang umumnya disebabkan oleh adanya tekanan berlebih saat berlari.
Berlari memiliki risiko cedera yang lebih tinggi dibandingkan saat berjalan. Sebab, pada saat berlari akan ada satu bagian di mana kedua tungkai seseorang akan melayang sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera. Sementara saat berjalan, satu bagian tungkai masih tetap berada di tanah sehingga keseimbangan tubuh akan lebih terjaga.
Selain sendi, tentu saja kita harus memikirkan (risiko cedera) muskuloskeletal seperti otot dan tulang-tulang.
Selain itu, jalan dilakukan dengan kecepatan yang stabil dan cenderung lambat, sedangkan lari dilakukan dengan kecepatan yang tidak konstan. Kecepatan rata-rata jalan kaki adalah sekitar 3-6 kilometer (km) per jam, sedangkan lari bisa mencapai 8 km per jam atau lebih.
Dokter spesialis fisik dan rehabilitasi medik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta, Shynta Dewiyana Hantogo menjelaskan, terdapat beberapa sendi yang berfungsi ketika melakukan olahraga lari yakni bahu, pinggul, lutut, dan engkel. Sendi tersebutlah yang berisiko cedera saat seseorang melakukan olahraga lari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/3a266400-68d7-447a-b55e-e526ef83ec19_jpg.jpg)
“Selain sendi, tentu saja kita harus memikirkan (risiko cedera) muskuloskeletal seperti otot dan tulang-tulang,” ujarnya dalam diskusi tentang penanganan dan tatalaksana pada penyakit degeneratif sendi dan cedera olahraga beberapa waktu lalu.
Beberapa otot manusia juga berfungsi saat seseorang melakukan aktivitas lari. Otot tersebut seperti pectoralis major dan latissimus dorsi yang berfungsi menggerakan tangan saat berlari. Kemudian terdapat juga otot punggung, abdomen (perut), gluteus (bokong), quadriceps (bagian depan paha), dan gastrocnemius (bagian betis).
Menurut Shynta, otot-otot yang digunakan akan berbeda pada setiap fase berlari. Salah satu otot yang paling sering digunakan saat berlari yaitu tibialis anterior. Otot ini terletak sejajar dengan tulang kering memanjang dari lutut sampai pergelangan kaki yang berperan dalam stabilisasi dan dorsofleksi, serta penting untuk efisiensi dan stabilitas saat berlari.
Berdasarkan epidemiologi, cedera lari kerap terjadi pada seorang pelari yang memiliki waktu untuk berlari sejauh lebih dari 16 km setiap minggu. Risiko cedera juga bisa semakin meningkat pada pelari yang sering berpartisipasi dalam ajang lari maraton sejauh 42 km ataupun ultra maraton dengan jarak tempuh lebih dari 50 km.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/99c4f01c-8f77-4b7d-89f0-3f9495af6954_jpg.jpg)
“Memang pada saat latihan, seseorang mungkin tidak akan mencapai jarak tersebut. Akan tetapi minimal 70 persen dari jarak tersebut akan dipenuhi oleh pelari sehingga otomatis mereka sudah menempuh lebih dari 16 km per minggu,” tutur Shynta.
Selain jarak tempuh dan faktor keikutsertaan lomba lari jarak jauh, risiko cedera juga bisa terjadi pada awal tiga bulan pertama bagi mereka yang baru mulai melakukan olahraga ini. Hal ini karena pelari pemula kerap memaksakan diri saat latihan maupun berlomba. Namun, tidak menutup kemungkinan risiko cedera tetap ada setelah tiga bulan tersebut.
Cedera yang disebabkan akibat olahraga lari juga memiliki jenis yang beragam. Salah satu jenis cedera yang paling sering dialami oleh pelari yaitu patellofemoral pain syndrome (PFPS). Cedera ini berupa nyeri di sekitar tempurung lutut atau patela karena intensitas olahraga yang terlalu tinggi dan dilakukan secara terus menerus atau berulang.
Pelari yang mengalami PFPS ini perlu segera menjalani tindakan perawatan dan pengobatan agar cedera tidak semakin parah. Bila cedera ini terjadi saat atau sesudah berlari, maka perlu segera melakukan pertolongan pertama dan perawatan mandiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/10/09/fbbdda83-774e-4246-b523-bc0236760a3d_jpg.jpg)
Beberapa perawatan yang dilakukan seperti istirahat dari segala aktivitas fisik, kompres dengan air dingin, melilitkan perban elastis di bagian yang terasa nyeri, dan menyangga kaki. Perawatan ini juga dikenal dengan istilah RICE (rest, ice, compression, elevation).
Jenis cedera lainnya yang kerap dialami pelari yaitu tibial stress syndrome atau shin splint. Cedera yang terjadi pada tulang kering ini ditandai dengan rasa sakit di bagian bawah kaki, antara lutut dan pergelangan kaki. Cedera ini bisa terjadi karena berlari di permukaan miring atau menurun dan ketidakseimbangan otot.
Sama halnya dengan PFPS, cedera shin splint dalam tahap ringan bisa ditangani dengan perawatan mandiri seperti istirahat dari aktivitas fisik yang berat dan mengompres dengan es di bagian yang sakit. Setelah rasa sakit mereda baru disaranakna melakukan aktivitas fisik atau latihan ringan untuk menguatkan kembali otot tungkai bawah dan pinggul.
Selain PFPS dan shin splint, beberapa jenis cedera lari lainnya antara lain achilles tendinitis, stress fractures, illiotibial band syndrome, patellar tendinitis, metatarsal stress syndrome, adductor strain, hamstring strain, posterior tibial tendinitis, dan ankle sprain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/10/89a2a6d4-7981-44b9-bb6e-25f8c94e4fe3_jpg.jpg)
Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Sport Medicine Injury and Recovery Center (SMIRC) RS Pondok Indah-Bintaro Jaya Antonius Andi Kurniawan mengingatkan agar para pelari perlu segera merespon bila merasakan hal yang tidak nyaman seperti nyeri, kelelahan, atau kram.
Bila nyeri ataupun rasa tidak nyaman pada bagian tubuh tertentu terjadi saat perlombaan, pelari perlu segera berhenti atau mengurangi kecepatan lari. Bila rasa nyeri tidak kunjung hilang, langkah yang harus segera diambil yaitu melakukan peregangan dan menghubungi tim medis agar risiko cedera yang dialami tidak semakin memburuk.
Penulis:
Pradipta Pandu MustikaEditor:
Wisnu Aji Dewabrata