Berbagi Kemenangan, Solusi Jitu Warga Solo Mengatasi Dualisme Politik di Pilkada Surakarta

Dihadapkan pada pilihan calon kepala daerah yang diusung PDI-P atau yang direkomendasikan Joko Widodo, pemilih Surakarta punya resep politik manjur.

08 Des 2024 06:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Bestian Nainggolan

Dibandingkan dengan ratusan arena pertarungan politik Pilkada 2024 lainnya, medan tarung Surakarta terbilang paling istimewa. Pasalnya, di wilayah dengan jumlah pemilih 442.975 jiwa ini menjadi sentral pertarungan politik sesungguhnya, tatkala suatu kekuatan ideologis partai yang telah berurat akar di kota ini ditantang oleh kekuatan aktor politik yang juga menjadi bagian tidak terlepaskan dari Surakarta.     

Bagi PDI-P, Surakarta merupakan poros kekuatan politik yang paling loyal. Terbukti, tidak mudah bagi warga Surakarta berpaling pilihan dalam berbagai tekanan politik yang dihadapi. Tidak hanya pada skala kota, hingga berbagai perubahan rezim kepemimpinan politik nasional pun loyalitas tidak tergoyahkan.

Pemilu Legislatif 1999-2024 menjadi bukti yang menempatkan PDI-P sebagai pemenang di kota ini. Pemilu 1999, misalnya, tatkala PDI-P  meraih hingga sekitar sepertiga bagian pemilih (33,7 persen) di negeri ini, di Surakarta 56,9 persen terkuasai PDI-P. 

Saat pamor PDI-P secara nasional pudar, pemilih Surakarta tetap terbilang paling tinggi kontribusinya. Pemilu 2004, misalnya, PDI-P  hanya mampu meraih seperlima bagian (18,5 persen) suara pemilih. Di Surakarta, lain cerita. Kendati juga menurun, masih bagian terbesar warga Surakarta (35,9 persen) setia pada PDI-P.   

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (tengah) menemani pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta Nomor Urut 2 Respati Ardi - Astrid Widayani saat berkunjung ke Pasar Notoharjo, di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (14/11/2024). Pasar itu dibangun semasa kepemimpinan Jokowi.

Keterpurukan PDI-P makin parah saat menghadapi Pemilu 2009.  Saat itu, PDI-P  hanya menguasai 14 persen pemilih. Kendati demikian, lagi-lagi warga Surakarta menunjukkan loyalitasnya. Tidak kurang dari 37,7 persen pemilih setia dan mengantarkan PDI-P masih sebagai pemenang di Surakarta.

Pada periode persaingan politik pemilu selanjutnya, posisi Surakarta semakin bersinar. Munculnya Joko Widodo, putra Surakarta yang mengawali karier sebagai Wali Kota Surakarta hingga dua periode, menjadi aktor politik yang kian memperkuat posisi politik Surakarta.

Terlebih, setelah selanjutnya Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan tidak lama kemudian melesat menjadi Presiden di negeri ini. Tidak terbantahkan, kehadiran Joko Widodo dan pamor politik PDI-P menjadi dualitas politik ideal yang kian memperkokoh daya tarik pemilih di Surakarta ataupun secara nasional.

Sayangnya, dualitas politik PDI-P dan Joko Widodo tidak bertahan. Dalam ajang pemilu kali ini, baik pemilu nasional maupun pilkada, yang terjadi justru dualisme politik yang memilah secara diametral, saling berhadap-hadapan dalam persaingan kekuatan pengaruh. Persoalannya, dihadapkan pada dualisme peolitik semacam ini, ke mana loyalitas pemilih di Surakarta berlabuh?

Infografis Proporsi Dukungan Pemilih PDI-P di Surakarta

Pilihan warga PDI-P di Pilgub Jateng 2024

Becermin dalam pertarungan Pilkada 2024 lalu, tampaknya warga Surakarta memiliki resep jitu politik. Seolah tidak ingin terjebak dalam dilema politik yang berkepanjangan, para pemilih di kota ini cenderung memilih langkah ”berbagai kemenangan”.

Langkah politik yang dilakukan tidak menjadikan kota ini menjadi milik satu kekuatan politik. Namun, memenangkan kedua kekuatan politik yang sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari orientasi politik warga Surakarta.

Langkah jitu politik berbagai kemenangan ditunjukkan dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah dan wali kota Surakarta yang dilakukan secara bersamaan. Dalam ajang persaingan antarpasangan calon gubernur, hadirnya pasangan calon gubernur Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang diusung PDI-P mendapatkan tantangan dari koalisi besar.

Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen didukung koalisi sembilan partai, antara lain Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, PKB, PPP, Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS.

Di balik koalisi dukungan pada Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen, koalisi yang tergabung dalam barisan pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilu Presiden 2024 lalu itu, sosok mantan Presiden Joko Widodo secara langsung memberikan dukungan politik.

Ahmad Luthfi melambaikan tangannya saat datang bersama tim pemenangan dan partai koalisi untuk menyambut keunggulan perolehan suara pada Pilkada Jateng di Posko Pemenangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/11/2024). Pada hitungan cepat hingga pukul 18.04 wib pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen unggul 59,30 persen persen atas pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi. Dalam sambutannya calon gubernur dan wakil Jawa Tengah ini berjanji akan menyelesaikan beragam persoalan di Jawa Tengah dan membuka ruang dialog dengan masyarakat. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 27-11-2024

Dihadapkan pada dualisme politik semacam ini, ambiguitas politik berkembang. Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang khusus dilakukan di Surakarta sebulan sebelum hari pencoblosan, misalnya, sebanyak 42,1 persen pemilih Surakarta mengaku belum memiliki pilihan.

Sebaliknya, bagi pemilih yang sudah menjatuhkan pilihan, tampak peta persaingan dikuasai oleh pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi, dengan  meraih dukungan 40,4 persen pemilih. Pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin hanya meraih 17,5 persen dukungan.

Kekuatan dukungan kepada Andika Perkasa-Hendrar Pribadi tidak lepas dari pemilih PDI-P. Di Surakarta, hasil survei menunjukkan tidak kurang dari 57,1 persen pemilih PDI-P terbilang solid mendukung pasangan yang diusung partai. Berbeda dengan yang terjadi pada pasangan calon gubernur Ahmad Luthfi-Taj Yasin.

Di Surakarta, belum tampak kekuatan dari para pemilih partai-partai pendukung pasangan ini. Sekalipun pasangan ini didukung oleh banyak kekuatan partai politik, kadar loyalitas dukungannya belum sekuat yang ditunjukkan oleh para pemilih PDI-P pada calon dukungan partainya.

Terbukti, hasil penghitungan Pilkada 2024 sejauh ini memenangkan pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi. Sebanyak 161.008 pemilih (52,8 persen) pemilih di Surakarta berhasil dihimpun. Sementara pesaingnya, Ahmad Luthfi-Taj Yasin, mengumpulkan 143.738 dukungan (47,2 persen).

Jika dicermati dari kelima wilayah kecamatan di Surakarta, baik Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres, dan Banjarsari, kekalahan Ahmad Luthfi-Taj Yasin terjadi di setiap wilayah. Dengan hasil seperti ini, kendati pada level Jawa Tengah Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dikalahkan Ahmad Luthfi-Taj Yasin, di Surakarta calon yang diusung PDI-P itu mampu menjaga kandang banteng dari ancaman kekalahan.

Infografis Hasil Pemilihan Gubernur Jawa Tengah di Surakarta

Pilihan warga PDI-P di Pilkada Surakarta 2024

Akan tetapi, pada ajang pemilihan wali kota Surakarta, kondisi yang sebaliknya terjadi. Pasangan calon wali kota Teguh Prakosa-Bambang Nugroho yang diusung PDI-P dihadapkan pada pesaingnya, Respati Ardi-Astrid Widayani.

Pasangan calon wali kota ini didukung  gabungan 11 partai politik antara lain Gerindra, PSI, PKS, PKB, Golkar, dan PAN. Di balik  dukungan parpol, terdapat sosok Joko Widodo yang mendukung langsung Respati Ardi-Astrid Widayani.

Seperti juga pada pemilihan gubernur, dihadapkan pada dualisme politik semacam ini, sebulan sebelum hari pencoblosan, barisan pemilih di Surakarta lebih banyak yang belum menyatakan pilihannya. Tidak kurang sebesar 41,6 persen pemilih masuk kategori  pemilih bimbang.   Jika mengacu pada jumlah pemilih di Surakarta, diperkirakan masih terdapat sekitar 184.000 pemilih belum menyatakan pilihannya.

Tingginya proporsi pemilih bimbang mengindikasikan besarnya potensi perubahan konfigurasi dukungan. Hasil survei sebulan menjelang hari pencoblosan, Teguh Prakosa-Bambang Nugroho yang diusung PDI-P diunggulkan.  Saat itu, pasangan ini meraih dukungan sekitar 34,9 persen pemilih. Sementara Respati Ardi-Astrid Widayani meraih dukungan 23,4 persen pemilih.

Hanya saja, saat hari pencoblosan, justru pasangan calon wali kota Respati Ardi-Astrid Widayani yang unggul, mampu meraih dukungan sebanyak 185.970 (60,5 persen) pemilih. Sebaliknya, Teguh Prakosa-Bambang Nugroho meraih dukungan 121.471 (39,5 persen) pemilih.

Keunggulan pasangan calon wali kota Respati Ardi-Astrid Widayani tidak lepas dari pengaruh politik Joko Widodo dalam menghimpun para pemilih, termasuk para pemilih di Suarakarta yang bimbang. Sebagaimana hasil survei menunjukkan, keberadaan faktor Jokowi di Surakarta tampak signifikan, turut memengaruhi pilihan tidak kurang dari 48,7 persen pemilih di Surakarta. 

Infografis Hasil Pemilihan Wali Kota Surakarta

 

Harmoni politik warga PDI-P Surakarta

Berkaca pada dua pertarungan politik yang terjadi, dihadapkan pada dua pilihan politik yang serba dilematik, tampaknya strategi berbagi kemenangan yang dilakukan terbukti ampuh. Setidaknya, loyalitas pemilih pada PDI-P ataupun Joko Widodo tidak luruh.

Sebenarnya, strategi berbagai kemenangan semacam ini pula yang mirip dijalankan saat menghadapi  dualisme politik Pemilu 2024 lalu. Dalam Pemilu Legislatif 2024, loyalitas pemilih Surakarta pada PDI-P tidak luruh, mampu menjadi pemenang di Surakarta dengan dukungan 32,8 pemilih.

Hanya, pada Pemilu Presiden 2024, pemilih di Surakarta justru memilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (50,8 persen) ketimbang pasangan calon presiden yang didukung PDI-P, Ganjar Pranowo-Mahfud MD (34,2 persen). Rumusan pilihan pemilih Surakarta yang cenderung berbagi kemenangan itu terbilang manjur, menghindarkan warga dari pertentangan pengaruh politik. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bestian Nainggolan
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Infografik:

Arie Nugroho