Banyak masjid di Sri Lanka dengan sejarah panjang yang berkaitan dengan Indonesia. Buka puasa bersama menjadi jalan menjaga ikatan itu.
22 Mar 2025 04:00 WIB · Internasional
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mempersatukan persaudaraan. Dengan buka puasa bersama di masjid dengan sejarah yang saling berkaitan, Indonesia menjalin ikatan hangat dengan warga Sri Lanka, khususnya masyarakat keturunan Indonesia. Jejak dan ingatan akan Indonesia selalu ada di hati.
Angin segar pantai berembus di Kota Kinniya, sebelah timur Trincomalee. Jaraknya sekitar 240 kilometer dari Kolombo, ibu kota Sri Lanka. Di Jalan Jawa Kinniya, terdapat Masjid Jawa Jummah yang berdiri sejak abad ke-16. Masjid ini dibangun di atas tanah hibah Pemerintah Inggris.
Pada Sabtu (15/3/2025), Kedutaan Besar RI di Kolombo menggelar acara iftar Ramadhan dengan masyarakat keturunan Jawa di Masjid Jawa Jummah. Dari catatan silsilah keturunan, nenek moyang mereka berasal dari Pulau Jawa yang membangun masjid itu.
Ada pula komunitas masyarakat keturunan Jawa di Anandankulam. Lokasinya hanya sekitar 20 km dari Kinniya. KBRI Kolombo juga meluangkan waktu untuk bersua dengan mereka di Masjid Kenneth Jumma, Andankulam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/452f7015-4b91-40d6-aa55-a1c0c89779ea_jpeg.jpg)
”Kunjungan KBRI Colombo ke komunitas keturunan Jawa di Kinniya dan Andankulam, Trincomalee bertujuan mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan serta selalu ingat dengan tanah leluhur Indonesia,” kata Duta Besar RI untuk Sri Lanka merangkap Maladewa, Dewi Gustina Tobing, lewat siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (21/3/2025).
Dewi mengajak semua pihak untuk selalu menjunjung tinggi toleransi dan keharmonisan dalam kehidupan beragama. Tak lupa, ia mengingatkan untuk menjaga kesehatan selama ibadah puasa.
Silaturahmi KBRI Kolombo mendapat sambutan hangat. Masyarakat keturunan Jawa di Kinniya dan Andankulam berharap, KBRI terus melakukan kegiatan bersama, seperti pentas seni budaya. Dengan menghabiskan waktu bersama, ingatan dan kecintaan atas tanah leluhur di Indonesia tetap terjaga.
Rata-rata, komunitas masyarakat Jawa di Trincomalee masih fasih berbahasa Melayu. Bahasa Melayu adalah bahasa komunikasi di Indonesia pada abad ke-16 sampai abad ke-18.
”Kami berasal dari Jawa dan Sumatera. Pada era kolonial Belanda antara abad ke-16 dan abad ke-17, tokoh, keluarga, dan pengikut bangsawan Indonesia yang menentang Belanda diasingkan ke Sri Lanka, dulu disebut Ceylon,” tutur tokoh masyarakat Andankulam keturunan Jawa-Sumatera, Naleer Doolapandan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/a7a27aee-24d9-496d-9e3b-cb3c8389a912_jpeg.jpg)
Setiba mereka di Sri Lanka, mereka kemudian menyebar ke beberapa wilayah. Ada yang pergi Kandy, Kurunegala, dan Hambantota. Warga lainnya menetap di Kinniya dan Trincomalee.
Dengan adanya keterkaitan sejarah dan budaya antara warga Trincomalee dan Indonesia, KBRI Kolombo menyadari perlunya upaya untuk pembinaan dan peningkatan hubungan antarwarga. ”Serta upaya penggalangan Friends of Indonesia di Sri Lanka, khususnya peningkatan aspek spiritualitas-sosial kemasyarakatan,” bunyi pernyataan KBRI.
Ini bukan kali pertama KBRI Colombo menggelar acara buka puasa bersama warga Sri Lanka. Pada 12 Maret 2025, kedutaan berbuka dengan masyarakat di Masjid Agung Kolombo. Sekitar 250 orang hadir dalam acara ini.
Terletak di Hulftsdorp Pettah, Masjid Agung Kolombo merupakan masjid pertama dan terbesar di Kolombo. Usia masjid lebih dari 1.200 tahun sehingga menjadi masjid tertua kedua di Sri Lanka. ”Kami berterima kasih karena pengurus Masjid Agung Kolombo dan masyarakat selalu mengingat Indonesia sebagai saudara,” tutur Dewi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/7af741b5-96ad-49f1-bee3-b9e785ca925d_jpeg.jpg)
Jejak Indonesia juga ada di Masjid Agung Kolombo. Kembali ke masa kolonial Belanda, salah satu warga Indonesia yang diasingkan adalah Raja Gowa, Sulawesi Selatan, Gosman Oesman.
Gosman mempunyai putra seorang arsitek, yaitu Muhammad Balang Kaya. Pada 1820, Muhammad Balang Kaya mendesain ulang masjid tersebut.
Putra bungsu Muhammad Balang Kaya, Baha-UddeenTuan Bagoos Krawan Balang menjadi khalifah di Masjid Agung Kolombo. Ia merupakan tokoh berpengaruh yang menyebarkan Islam di Kolombo. Setelah wafat, beliau dimakamkan di dalam masjid.
Dalam kesempatan berbeda, Dewi turut mengapresiasi rasa persaudaraan warga Sri Lanka di Masjid Indonesia Memorial, Maskeliya. Tidak jauh dari masjid, terdapat monumen peringatan kecelakaan di kawasan perbukitan Seven Virgins.
Pada 1974, pesawat Martinair 138 yang disewa Garuda Indonesia guna mengangkut jemaah haji Indonesia jatuh di sana. Sebanyak 182 penumpang dan sembilan kru tewas.
”Saya mengapresiasi pengurus dan masyarakat di Masjid Indonesia Memorial yang terus merawat dan menjaga makam sekaligus monumen tersebut,” tutur Dewi.
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase