Peringatan dua tahun perang Israel-Hamas.
08 Okt 2025 08:30 WIB · Internasional
Sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 di Israel dan 251 orang lainnya diculik. Sampai saat ini, 48 orang masih berada di Gaza dan diperkirakan 20 orang di antaranya masih hidup. Sebagian yang lain telah dibebaskan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lain.
Di Palestina, lebih dari 67.000 warganya telah tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Kementerian tersebut tidak menyebutkan berapa banyak warga sipil atau kombatan, tetapi mengatakan perempuan dan anak-anak merupakan sekitar separuh dari korban tewas.
Selebihnya, ratusan ribu warga Palestina harus mengungsi dari satu ujung wilayah yang diblokade ke ujung lainnya. Kadang kala mereka harus kembali ke tempat semula. Truk atau gerobak sapi yang dipenuhi kasur dan alat-alat rumah tangga, serta ribuan pengungsi yang berjalan kaki, adalah pemandangan sehari-hari yang terjadi di Gaza.
Beberapa dari mereka berjalan sambil menggendong anak-anaknya. Warga yang kembali ke tempat asalnya sering kali hanya menjumpai gundukan bangunan hancur atau bahkan telah rata dengan tanah.
Sudah dua tahun sejak Hamas dan kelompok bersenjata lain menyerbu Israel, menjerumuskan Palestina, terutama Gaza ke kancah perang yang belum juga berakhir. Selain kelaparan, di Gaza, pemakaman terjadi hampir setiap hari. Isak tangis di selasar rumah sakit dan di pemakaman seolah tak pernah berhenti.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/08/3b298302-6de8-4fb1-9cda-eed7fcfc3800_jpg.jpg)
Tepat dua tahun, pada 7 Oktober 2025, ada secercah harapan, ketika dua kubu bersepakat untuk berunding. Penderitaan atas kehilangan dan keinginan putus asa agar perang segera berakhir juga bergema di seluruh Gaza. Sementara di Israel, ribuan warganya juga menyatakan hal yang sama. Mengakhiri perang dan mengembalikan saudara mereka yang masih disandera.
”Keluarga kami telah meninggal, rumah kami telah hilang. Kami berdoa kepada Tuhan agar perang ini segera berakhir, hari ini, bukan besok,” kata Sanaa Adwan di Khan Younis.
Warga Gaza yang lain, Ghassan Abu Rejeila, mengatakan, perang telah merenggut segala hal yang memberi makna hidup di Gaza, baik itu kumpul keluarga maupun makanan yang layak.
Keinginannya untuk melihat anak-anaknya yang berseragam sekolah melanjutkan pendidikan pun sirna. Merek telah kehilangan momen-momen indah dalam hidupnya. Saat ini, baik warga Israel maupun Palestina, memperingati suatu hal agar tidak lagi terulang. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan