Mereka Berdoa agar Perang Berakhir Hari Ini, Bukan Esok

Peringatan dua tahun perang Israel-Hamas.

08 Okt 2025 08:30 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 di Israel dan 251 orang lainnya diculik. Sampai saat ini, 48 orang masih berada di Gaza dan diperkirakan 20 orang di antaranya masih hidup. Sebagian yang lain telah dibebaskan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lain.

Di Palestina, lebih dari 67.000 warganya telah tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Kementerian tersebut tidak menyebutkan berapa banyak warga sipil atau kombatan, tetapi mengatakan perempuan dan anak-anak merupakan sekitar separuh dari korban tewas.

Seorang anggota pasukan keamanan Israel berdiri di dekat mobil yang terbakar setelah serangan roket dari Jalur Gaza di Ashkelon, Israel selatan, 7 Oktober 2023.
Peluru dari pemboman Israel mendarat di perairan di pelabuhan laut Kota Gaza pada Kamis (11/10/2023). Menjelang peringatan kedua serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang memicu perang, delegasi dari Hamas, Israel, dan Amerika Serikat akan berkumpul di Mesir untuk pembicaraan mengakhiri konflik.
Gumpalan asap membumbung di atas bangunan di Kota Gaza pada abtu (7/10/2023), saat Israel balas menyerang Hamas.
Warga melihat rumah mereka yang rusak setelah serangan Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu, (27/1/2024).
Asap naik setelah serangan militer Israel di Kota Gaza, seperti yang terlihat dari Jalur Gaza tengah, Selasa, (7/10/2025).
Militan Palestina mengendarai kendaraan militer Israel yang direbut di Kota Gaza pada hari Sabtu, (7/10/2023.
Warga berlari untuk berlindung saat serangan udara Israel yang  menghantam gedung bertingkat tinggi di Kota Gaza, Jumat, (5/9/2025).
Militan Palestina bergerak menuju pagar perbatasan dengan Israel di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada Sabtu (7/10/2023). Menjelang peringatan kedua serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang memicu perang, delegasi dari Hamas, Israel, dan Amerika Serikat akan berkumpul di Mesir untuk pembicaraan mengakhiri konflik.

Selebihnya, ratusan ribu warga Palestina harus mengungsi dari satu ujung wilayah yang diblokade ke ujung lainnya. Kadang kala mereka harus kembali ke tempat semula. Truk atau gerobak sapi yang dipenuhi kasur dan alat-alat rumah tangga, serta ribuan pengungsi yang berjalan kaki, adalah pemandangan sehari-hari yang terjadi di Gaza.

Beberapa dari mereka berjalan sambil menggendong anak-anaknya. Warga yang kembali ke tempat asalnya sering kali hanya menjumpai gundukan bangunan hancur atau bahkan telah rata dengan tanah.

Sudah dua tahun sejak Hamas dan kelompok bersenjata lain menyerbu Israel, menjerumuskan Palestina, terutama Gaza ke kancah perang yang belum juga berakhir. Selain kelaparan, di Gaza, pemakaman terjadi hampir setiap hari. Isak tangis di selasar rumah sakit dan di pemakaman seolah tak pernah berhenti.

Ribuan warga Palestina membawa karung dan kotak makanan dan bantuan kemanusiaan yang diturunkan dari konvoi Program Pangan Dunia di Kota Gaza di Jalur Gaza utara, Senin, (16/6/2025).

Tepat dua tahun, pada 7 Oktober 2025, ada secercah harapan, ketika dua kubu bersepakat untuk berunding. Penderitaan atas kehilangan dan keinginan putus asa agar perang segera berakhir juga bergema di seluruh Gaza. Sementara di Israel, ribuan warganya juga menyatakan hal yang sama. Mengakhiri perang dan mengembalikan saudara mereka yang masih disandera.

”Keluarga kami telah meninggal, rumah kami telah hilang. Kami berdoa kepada Tuhan agar perang ini segera berakhir, hari ini, bukan besok,” kata Sanaa Adwan di Khan Younis.

Seorang tentara Israel berpatroli di dekat Kibbutz Beeri di Israel selatan, Selasa (12/10/2023), dekat dengan tempat di mana 270 pengunjung festival musik tewas oleh militan pada 7 Oktober.
Orang-orang menghadiri upacara peringatan dua tahun serangan lintas batas Hamas di Israel, di Kibbutz Kfar Aza, Israel selatan, Selasa, (7/10/2025).
Orang-orang berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Khan Younis, Jalur Gaza, Jumat, (16/5/2025).
Eliya, memegang foto kakeknya, Alex Dancyg, yang meninggal setelah diculik oleh kelompok Hamas, saat rapat umum yang menyerukan pembebasan sandera yang ditahan di Jalur Gaza, di Tel Aviv, Israel, Selasa, (23/7/2025).
Wanita berjalan melewati spanduk dengan foto-foto sandera yang diculik dan ditahan oleh Hamas di Jalur Gaza, di Yerusalem, Selasa, (7/10/2025).
Sebuah kamp pengungsi Palestina membentang di antara reruntuhan bangunan yang dihancurkan oleh pemboman Israel di Kota Gaza barat, Sabtu, (21/6/2025).
Sebuah foto tergantung di kulkas di samping lubang peluru di sebuah rumah di Kibbutz Kissufim di Israel selatan, Sabtu, (7/10/2023).
Warga Palestina mengungsi dari Gaza utara di sepanjang jalan pesisir dekat Wadi Gaza, Jumat, (26/9/2025).

Warga Gaza yang lain, Ghassan Abu Rejeila, mengatakan, perang telah merenggut segala hal yang memberi makna hidup di Gaza, baik itu kumpul keluarga maupun makanan yang layak. 

Keinginannya untuk melihat anak-anaknya yang berseragam sekolah melanjutkan pendidikan pun sirna. Merek telah kehilangan momen-momen indah dalam hidupnya. Saat ini, baik warga Israel maupun Palestina, memperingati suatu hal agar tidak lagi terulang. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan