Sisi spiritual Peringatan Hari Orang Mati di dunia.
03 Nov 2025 12:05 WIB · Internasional
AP/Giovanna Dell'Orto
Ratusan orang mengikuti penari Aztec melalui lengkungan bunga kertas ke Sekolah Menengah El Colegio, Minnesota, Amerika Serikat, Sabtu (1/11/2025) pagi. Mereka akan mengunjungi altar yang dibuat siswa dalam rangka memperingati Dia de Muertos atau Hari Orang Mati. Mereka mengenakan topeng, merias muka, dan berpakaian sebagaimana layaknya upacara kematian.
Di sekolah yang dituju terlihat dekorasi setengah lusin altar dengan lilin yang berkelap-kelip, tengkorak yang dihias dan banyak sekali bunga kertas. Puluhan penari Aztec bergantian menari di halaman sekolah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/03/67a71b51-7602-4f64-9b1c-14ecc40d1002_jpg.jpg)
”Ini adalah cara untuk menyambut leluhur kita ke rumah kita, kembali ke kehidupan kita, tidak secara fisik, melainkan secara spiritual,” kata Daniela Rosales, siswa kelas tiga. Acara ini juga menjadi cara menyatukan seluruh komunitas.
Meningkatnya penggerebekan penegakan hukum imigrasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat membayangi para peserta yang hadir. Namun, bagi sebagian peserta yang hadir, ini juga menjadi semangat untuk tetap bersama-sama dan berjuang.
Kami memutuskan untuk tidak menyerah, kata Justin Ek, salah seorang pendiri festival Hari Orang Mati di Mankato, Minnesota. Perayaan Hari Orang Mati menjadi cara untuk berduka dan menghidupkan kembali beberapa ikatan keluarga yang lebih baru.
Bagi para imigran di Amerika, itu adalah cara menghormati apa yang telah tiada. Banyak yang percaya bahwa arwah mereka akan kembali berkunjung, dipandu oleh lilin dan bunga marigold. Sebagian besar kegiatan didanai sumbangan masyarakat.
Di sejumlah daerah, Hari Orang Mati ditandai dengan hiasan unik. Tetapi, elemen yang paling penting adalah memberi penghormatan kepada orang mati. Selain itu, juga ada tradisi ”ofrendas”, persembahan meriah berupa makanan, minuman, musik, dan hiburan favorit orang mati.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/03/6ed604de-4408-4d7b-9130-13abff2ef9a3_jpg.jpg)
Selama lebih dari satu abad, representasi artistik Hari Orang Mati juga mengalami pergeseran. Kalau dulu hanya dirayakan di keluarga atau sebatas kelompok imigran tertentu, kini berpindah ke ranah publik.
Pada 2018, keluarga seniman Pribumi Latino memulai upacara peringatan kecil di tempat parkir usaha lukis mereka. Tahun ini, sekitar 12.000 orang bergabung dalam perayaan yang digelar seharian. Perayaan ini dimeriahkan dengan musik live dan puluhan patung vatrina atau patung kerangka dari bubur kertas yang diberi pakaian.
Kini seluruh dunia merayakan Hari Orang Mati. Mereka memadukan ritual, budaya, dan perayaan Katolik pada Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan Hari Arwah pada 2 November. Sebagaimana kepercayaan mereka, ini adalah cara mengenang orang yang telah meninggal dengan cara yang positif, dengan cara yang bahagia. (AP)
(AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto