Berkah ATP Cincinnati untuk Atmane Terence

Perjalanan petenis kualifikasi, Terence Atmane, di Cincinnati Masters berakhir di semifinal. Dia mendapat pengalaman, poin ranking, dan hadiah untuk bekal ke depan.

17 Agt 2025 13:13 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Setidaknya tiga turnamen tenis profesional pada 2025 diwarnai kejutan dari petenis muda dengan status ”bukan siapa-siapa”. Tak hanya kebanggaan bisa mengalahkan petenis top dunia, pencapaian itu sangat berarti bagi kelanjutan karier mereka.

Di arena Grand Slam Perancis Terbuka, 25 Mei-8 Juni 2025, salah satu semifinalis tunggal putri adalah petenis tuan rumah yang tampil karena mendapat wildcard, Lois Boison. Sebelum dikalahkan Cori Gauff, yang akhirnya juara, Boison menyingkirkan unggulan ke-24, Elise Mertens, di babak pertama, Jessica Pegula (3), pada babak keempat, dan Mirra Andreeva (6) di perempat final. Setelah Perancis Terbuka, peringkat dunia petenis berusia 22 tahun itu naik dari urutan ke-361 menjadi ke-65.

Pada pekan pertama Agustus, tunggal putri Kanada berusia 18 tahun, Victoria Mboko, membuat publik tuan rumah bangga. Dia menjuarai WTA 1000 Kanada yang berlangsung 27 Juli-7 Agustus 2025, juga dengan status petenis wildcard.

Dalam perjalanan meraih gelar pertama dari turnamen WTA, Mboko mengalahkah para juara Grand Slam, yaitu Gauff, Elena Rybakina, dan Naomi Osaka pada babak keempat, semifinal, dan final. Berkat gelar itu, Mboko yang berada di peringkat ke-284 pada awal 2025 melesat ke posisi ke-24.

Pada turnamen ATP Masters 1000 Cincinnati, 7-18 Agustus 2025, kejutan dibuat petenis putra asal Perancis, Terence Atmane. Perjalanannya berakhir di semifinal setelah dikalahkan petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, dengan skor 6-7 (4), 2-6 di Lindner Family Tennis Center, Ohio, Amerika Serikat, Sabtu (16/8/2025) sore waktu setempat atau Minggu dini hari waktu Indonesia.

MASON, OHIO - AUGUST 16: Terence Atmane of France returnsa shot to Jannik Sinner of Italy during the semifinals of the Cincinnati Open at Lindner Family Tennis Center on August 16, 2025 in Mason, Ohio.   Matthew Stockman/Getty Images/AFP (Photo by MATTHEW STOCKMAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Atmane tak bisa membendung terjadinya final impian antara Sinner dan Carlos Alcaraz yang mengalahkan Alexander Zverev, 6-4, 6-3 pada semifinal lain. Petenis yang tampil sejak babak kualifikasi itu gagal menambah kejutan setelah menyingkirkan unggulan keempat, Taylor Fritz, dan Holger Rune (7) pada babak keempat dan perempat final.

Namun, ATP Cincinnati menjadi pencapaian tertinggi petenis berusia 23 tahun itu sejak bersaing di kompetisi profesional pada 2023. Pertandingan pertamanya di arena profesional adalah saat dikalahkan Yoshihito Nishioka pada babak pertama ATP 250 Zhuhai, China, 20 September 2023.

Pada level lebih tinggi, yaitu ATP Masters 1000, Atmane mencapai babak ketiga di Roma pada 2024. Adapun pada turnamen Grand Slam, dia baru bisa bermain pada babak utama di Australia Terbuka dan Perancis Terbuka 2024, serta Perancis Terbuka 2025. Semua perjalanan di panggung Grand Slam berakhir dengan kekalahan pada babak pertama.

Maka, performa dan hasil di Cincinnati menjadi momen paling bermakna bagi Atmane, setidaknya hingga saat ini. ”Rasanya gila dan sulit dipercaya bahwa saya bisa mencapai semifinal di sini. Pertandingan melawan Sinner termasuk memori bagus yang tak akan saya lupakan,” ujar Atmane yang memberikan kartu Pokemon koleksinya kepada Sinner sebagai hadiah ulang tahun, sesaat sebelum mereka dipanggil masuk ke lapangan.

Sinner menjadi petenis peringkat sepuluh besar ketiga yang menjadi lawan Atmane setelah Fritz dan Rune. Meski kalah, Atmane setidaknya mendapat banyak hal yang bisa dia pelajari untuk tantangan lain.

Petenis Perancis Terence Atmane melepas pukulan servis ke arah petenis Italia Jannik Sinner dalam turnamen  ATP Masters 1000 Cincinnati di Lindner Family Tennis Center, Mason, Ohio, AS,  Minggu (17/8/2025) WIB. Atmane kalah dengan skor 6-7 (4), 2-6.
Quote

Saya belajar bisa lebih kuat dalam faktor mental agar bisa bertahan dalam situasi sulit. Saya juga belajar mengelola emosi supaya lebih stabil.

Atmane bisa mempertahankan semua servis dan tak berhadapan dengan satu pun break point lawan pada set pertama. Akan tetapi, Sinner memperlihatkan apa yang harus dilakukan petenis ketika bertanding, yaitu tampil konsisten. ”Sinner bermain lebih baik dari saya pada set kedua. Sesimpel itu,” kata Atmane dalam laman resmi ATP.

Dari perjalanan di Cincinnati Atmane belajar untuk bertahan dalam pertandingan level tinggi selama lebih dari sepekan. Otot-otot tubuhnya tegang saat melawan Sinner yang menjadi pertandingan kedelapan sejak kualifikasi. Dia bersyukur bisa mengatasi kondisi tersebut dengan kekuatan mental dan itu akan menjadi pengalaman berharga untuk tampil sejak babak kualifikasi Grand Slam Amerika Serikat Terbuka, 24 Agustus-7 September 2025.

”Saya belajar bisa lebih kuat dalam faktor mental agar bisa bertahan dalam situasi sulit. Saya juga belajar mengelola emosi supaya lebih stabil,” kata petenis yang akan menempati peringkat 70 besar dunia, naik dari ranking ke-136 ini.

Tabungan poin dan uang

Selain pengalaman berhadapan dengan petenis-petenis top, mencapai babak-babak akhir turnamen besar, apalagi menjuarainya, memberi bekal lain bagi petenis seperti Atmane, Mboko, dan Boison. Mereka mendapat tambahan poin besar sehingga bisa menaikkan posisi dalam daftar peringkat. Dengan ranking lebih tinggi, Atmane dan kawan-kawan memiliki kesempatan lebih besar untuk tampil dalam lebih banyak turnamen level tinggi.

”Masuk ranking 100 besar dunia, artinya saya tak akan sering tampil sejak babak kualifikasi. Hadiah yang didapat juga bisa saya investasikan untuk pelatih dan untuk disimpan karena saat bermain di ATP Challengers, saya lebih banyak kehilangan uang (pengeluaran lebih besar dibandingkan hadiah),” tutur Atmane.

Petenis Perancis Terence Atmane berjabat tangan dengan petenis Italia Jannik Sinner setelah pertandingan turnamen  ATP Masters 1000 Cincinnati di Lindner Family Tennis Center, Mason, Ohio, AS,  Minggu (17/8/2025) WIB. Atmane kalah dengan skor 6-7 (4), 2-6.

Dengan mencapai semifinal Cincinnati Masters, Atmane mendapat hadiah sekitar Rp 5,3 miliar. Jumlah itu (sedikit) lebih besar dibandingkan hadiah yang diterimanya dari 25 turnamen tahun ini sebelum tampil di Cincinnati, yaitu Rp 5 miliar.

Atlet yang bermain tenis sejak usia tujuh tahun karena sering memainkan tenis melalui gim video ini juga berharap ada perusahaan yang bisa menjadi sponsor. Selain Technifibre yang mensponsorinya untuk raket, Atmane tak punya sponsor lain. Dia tampil di Cincinnati dengan kaus berbeda merek yang dibelinya sendiri. Tanpa agen, dia mengurus semua kebutuhan sendiri, temasuk membeli semua kebutuhan.

Dia pernah disponsori Asics, tetapi perusahaan produk olahraga asal Jepang itu memutus kontrak pada 2024. Ini terjadi karena Atmane membawa sepatu Nike ke lapangan, meski tidak dipakai saat bertanding, dalam turnamen Shanghai Masters.

”Setelah Cincinnati, saya harus lebih pintar dalam mengelola semuanya. Saya pun harus bekerja lebih keras dan menunjukkan diri bahwa saya memiliki kemampuan untuk bersaing di ATP Tour dengan tantangan lebih besar,” kata petenis yang mengidolakan mantan petenis Chile, Fernando Gonzalez, itu. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji