Performa impresif Lionel Messi pada laga pembuka Piala Dunia dikaitkan dengan kepindahannya ke MLS. Intensitas kompetisi yang lebih rendah menjaga Messi tetap bugar.
22 Jun 2026 21:10 WIB · Olahraga
AFP
Lionel Messi memulai kampanye Piala Dunia 2026 dengan heroik. Ia mencetak hattrick untuk kemenangan 3-0 Argentina atas Aljazair di Stadion Kansas City, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB.
Messi dalam hitungan hari akan berusia 39 tahun. Usia tersebut merupakan pengujung karier bagi pesepak bola profesional. Namun, Messi berbeda, meski tak lagi muda, kemampuannya masih berada di level luar biasa.
”Leo akan menjadi yang terbaik selama dia mau. Dia telah melakukannya di setiap pertandingan selama 20 tahun terakhir,” kata Pelatih Argentina Lionel Scaloni.
Tiga gol ke gawang Luca Zidane, putra Zinedine Zidane, itu adalah hattrick pertama Messi di Piala Dunia. Torehan tersebut sekaligus menyamai rekor penyerang Jerman, Miroslav Klose, dengan 16 gol sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah turnamen.
Messi merasa terhormat atas rekor gol tersebut, tetapi penyerang Inter Miami ini menganggap angka itu tak berarti apa-apa.
”Pada akhirnya, itu hanyalah statistik dan tidak lebih dari itu,” kata Messi yang telah memenangi delapan penghargaan pemain terbaik dunia Ballon d'Or sepanjang kariernya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/23ed9c21099c878748ad3df45c0dcfb2-FOI_SOC_SPO_WCS_ARGENTINA_TRAINING_FIFA_WORLD_CUP_2026_139255029.jpg)
Saya senang bermain, berkompetisi. Dan di mana pun itu, hari ini saya berada di Piala Dunia lainnya, yang membawa kebahagiaan ekstra, tetapi saya mempersiapkan diri seperti yang telah saya lakukan sepanjang karier saya.
Messi meninggalkan intensitas sepak bola Eropa pada 2023 untuk bergabung dengan klub AS, Inter Miami. Transfer ini berdampak besar bagi ketenaran Major League Soccer (MLS) dengan kedatangan pemain sepak bola terbaik sepanjang masa.
Sebaliknya, kepindahan Messi ke MLS dianggap persiapan menuju pengujung karier. MLS memang terkenal sebagai tempat tujuan pemain yang mulai redup dan akan pensiun. Liga ini kurang kompetitif dibanding liga top lainnya di dunia.
Akan tetapi, di tengah isu tentang kelelahan pesepak bola karena semakin padatnya kalender kompetisi, Messi seperti mendapat berkah dari kepindahan ke MLS.
Di AS, Messi memainkan lebih sedikit pertandingan dibandingkan saat puncak karirnya di Barcelona yang bisa melakoni 50 laga dalam semusim. Hal itu mungkin membantu menjaganya tetap bugar menjelang Piala Dunia.
Meski menghabiskan tiga musim terakhir di MLS yang tak dihuni para bek top dunia, Messi tidak kehilangan ketajamannya. Itu tampak dalam penampilannya di laga pembuka Piala Dunia.
”Saya senang bermain, berkompetisi. Dan di mana pun itu, hari ini saya berada di Piala Dunia lainnya, yang membawa kebahagiaan ekstra, tetapi saya mempersiapkan diri seperti yang telah saya lakukan sepanjang karier saya,” kata Messi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/69824797bbc41744ef66c79159e4159b-FOI_SOC_SPO_WCS_ARGENTINA_TRAINING_FIFA_WORLD_CUP_2026_139254987.jpg)
Sebelum pindah ke MLS, Messi yang telah melewati masa puncak kariernya bergabung dengan PSG pada 2021. Meski PSG bersaing di Liga Champions, daya saing kompetisi domestik di Perancis dianggap tidak setinggi kompetisi di Spanyol.
Namun, justru saat bermain di PSG pada usia 35 tahunlah Messi berhasil meraih trofi Piala Dunia yang diidam-idamkannya pada 2022. Saat masih di Barcelona, Messi berulang kali gagal bersama Argentina, termasuk kekalahan pahit 1-0 di final melawan Jerman.
Messi menampilkan performa terbaiknya di Piala Dunia Qatar tahun 2022. Ia mencetak tujuh gol, termasuk dua gol di final saat Argentina mengalahkan Perancis dalam adu penalti. Pada edisi sebelumnya di Rusia, ia hanya mencetak satu gol.
”Sekali lagi, Argentina mungkin telah diuntungkan oleh keputusan ikonnya untuk turun level di klub,” tulis AP.
Empat tahun kemudian, Messi kembali ke Piala Dunia yang kemungkinan jadi turnamen terakhirnya. Ia telah berpartisipasi dalam enam edisi Piala Dunia.
Mengingat performa Messi dan hasil positif di laga pembuka, Argentina mungkin saja jadi negara pertama sejak 1962 yang berhasil mempertahankan trofi Piala Dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/87eca7591b373cf3b99ae97fd6f3bdcc-cropped_image.jpg)
Pada era sepak bola modern, belum ada negara yang bisa melakukan itu. Pada era sebelumnya, capaian itu ditorehkan Italia pada edisi 1934 dan 1938 serta Brasil pada 1958 dan 1962 saat pialanya masih bernama Jules Rimet.
Messi memang tidak mengungkapkan ambisi tersebut. Namun, merujuk pada usaha ekstra yang dilakukannya untuk Piala Dunia, impian itu tentu saja ada.
Rekan setim Messi di Inter Miami dan Argentina, Rodrigo De Paul, mengatakan, ia dan Messi melakukan latihan tambahan untuk memastikan mereka dalam kondisi terbaik saat Piala Dunia.
”Kami mengerahkan seluruh tenaga kami untuk, secara fisik, tiba dengan kondisi terbaik,” kata De Paul.
Terlepas dari target di Piala Dunia, Messi mengaku terinspirasi oleh Rafael Nadal, legenda tenis Spanyol yang memenangi 22 gelar Grand Slam. Gelar terakhir diraih Nadal pada 2022, dua tahun sebelum pensiun pada usia 38.
”Saat ini kami sedang menonton seri Rafa Nadal dan saya merasa seperti dia, dalam hal itu, memberikan segalanya dan menikmati apa yang dia lakukan,” kata Messi merujuk serial dokumenter Netflix tentang Nadal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/0784b3329defd6571cb54c56fa34ff44-Argentina_WCup_Soccer_139256811.jpg)
Sementara itu, bagi rekan-rekan setimnya, Messi adalah inspirasi terbesar. ”Apa yang Leo pancarkan sungguh luar biasa, sulit untuk dijelaskan,” kata Scaloni.
”Rekan-rekan setimnya memandangnya sebagai sosok yang dipuja sekaligus sebagai anak biasa dari lingkungan sekitar.”
Kepindahan Messi ke MLS mungkin akan benar-benar terlihat sebagai langkah brilian jika ia berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia berturut-turut. (AP/AFP/ESPN)
Penulis:
Yola SastraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase