Penyerang Perancis, Kylian Mbappe, dan megabintang Argentina, Lionel Messi, kembali memanaskan persaingan di Piala Dunia 2026. Dua pemain yang menjadi pusat perhatian pada final Piala Dunia 2022 lalu itu, lagi-lagi, menghipnotis dunia saat tim mereka memulai kiprah di Amerika Utara.
Pada laga Perancis melawan Senegal di penyisihan Grup I, Rabu (17/6/2026) dini hari WIB, Mbappe (27) memborong dua gol. Dua golnya itu membuatnya mengukir rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Perancis dengan 58 gol. Sang kapten tim ”Les Bleus” melampaui torehan Olivier Giroud dengan 57 gol.
Tak lama berselang, seolah merespons amukan Mbappe itu, Messi memborong hattrick saat Argentina melibas Aljazair, 3-0, pada laga penyisihan Grup J Piala Dunia 2026, Rabu pagi. Tak berbeda dengan Mbappe, ”La Pulga” mendobrak batasan lain, yaitu menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 16 gol. Ia menyamai legenda Jerman, Miroslav Klose.
Messi (38) juga mengukir sejarah lain dengan meraih trigol pertamanya di Piala Dunia. Ia juga tercatat sebagai pemain yang paling sering tampil di Piala Dunia dengan 27 penampilan di enam edisi Piala Dunia, yaitu 2006, 2010, 2014, 2018, 2022, dan 2026.
Penampilan eksplosif dua ”matahari” sepak bola dunia itu seolah menutupi kegemilangan ”predator” lainnya, yaitu Erling Haaland. Sang striker yang dijuluki ”Monster Viking” itu memborong dua gol saat timnya, Norwegia, memukul Irak, 4-1.
Selain Messi, Mbappe, dan Haaland, penampilan memukau sebetulnya juga diperlihatkan penyerang kreatif Perancis, Michael Olise. Mereka semua bersaing meraih trofi Sepatu Emas dan Bola Emas Piala Dunia 2026.
Lantas, apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa kemenangan Perancis dan ketajaman Mbappe melawan Senegal adalah berkat mantra Deschamps?
- Bagaimana bisa kegemilangan Mbappe sudah diramalkan oleh dirinya sendiri sejak kecil?
- Apa saja rekor dan sejarah yang diukir Messi setelah Argentina mengalahkan Aljazair?
- Mengapa penampilan Michael Olise mengingatkan Perancis akan legendanya, Michel Platini?
- Bagaimana Erling Haaland membasuh dahaganya di Piala Dunia?
Mengapa kemenangan Perancis dan ketajaman Mbappe melawan Senegal adalah berkat mantra Deschamps?
Entah mantra apa yang diucapkan oleh Pelatih Perancis Didier Deschamps di ruang ganti paruh babak, tetapi itu terbukti sangat ampuh. Setelah bermain buruk pada babak pertama, Perancis bangkit pada babak kedua dengan mencetak tiga gol kemenangan atas Senegal pada laga perdana penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) sore waktu setempat.
Dari sisi permainan, kata sempurna barangkali terlalu berlebihan. Akan tetapi, mengingat ini adalah laga perdana menghadapi lawan yang berbahaya, dari sisi hasil, kemenangan 3-1 Les Bleus atas ”Singa Teranga” terbilang sempurna.
Gol pertama Perancis dicetak oleh striker Kylian Mbappe pada menit ke-66. Gol itu adalah gol yang berkualitas. Pergerakan tanpa bola Mbappe dan kejelian Michael Olise melepas umpan, diikuti finis sempurna sang kapten, membuat gol itu istimewa.
Salah satu perubahan yang dilakukan Deschamps untuk memperbaiki permainan Perancis adalah memindah Olise yang bermain tidak efektif di sayap kanan ke tengah, bertukar tempat dengan Ousmane Dembele. Langkah itu menjadi keputusan yang brilian. Dari umpan Olise-lah, gol pembuka Perancis lahir.
Deschamps kembali menunjukkan keampuhannya mengubah jalannya pertandingan saat melakukan perubahan dengan memasukkan penyerang Bradley Barcola menggantikan Dembele pada menit ke-80. Hanya 2 menit di lapangan, Barcola memperbesar keunggulan Perancis setelah membobol gawang Edouard Mendy memanfaatkan asis dari Adrien Rabiot.
Senegal memperkecil ketertinggalan melalui sepakan penyerang remaja berusia 18 tahun, Ibrahim Mbaye, di menit ke-90+5. Akan tetapi, Mbappe melengkapi penampilan gemilangnya pada babak kedua dengan gol keduanya lewat tendangan keras yang tidak bisa diantisipasi oleh Mendy.
Dua gol yang dicetak Mbappe ke gawang Senegal membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak Perancis dengan 58 gol, melewati catatan Olivier Giroud dengan 57 gol.
Bagaimana bisa kegemilangan Mbappe sudah diramalkan oleh dirinya sendiri sejak kecil?
Karier Mbappe melesat bak meteor, membawa Perancis meraih gelar kedua Piala Dunia di usia 19 tahun, mencetak hattrick di final Piala Dunia 2022 di usia 23 tahun. Kini, di usia 27 tahun, Mbappe menjadi top scorer Perancis sekaligus menjadi pesaing peraih Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
”Saya sangat senang dan gembira bisa membuat sejarah untuk negara saya,” ujar Mbappe seusai mencetak brace dalam kemenangan 3-1 Perancis atas Senegal di Grup I Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026) dini hari waktu Indonesia.
Menariknya, Mbappe sudah meramalkan kegemilangan kariernya saat berusia 14 tahun, tidak lama setelah dia bergabung dengan akademi sepak bola AS Monako. Saat itu, dia dan rekan-rekannya mendapat tugas mendesain sampul majalah olahraga.
Mereka memilih desain majalah Time dengan foto Mbappe dengan tulisan ”El Maestro” alias ”Sang Maestro”. Desain itu bak ramalan yang menjadi kenyataan. Dia menjelma bintang sepak bola dunia dan menjadi sampul majalah Time pada Oktober 2018 dengan judul ”Para Pemimpin Masa Depan”.
Ramalan itu belum berhenti karena Mbappe terus berkembang, semakin matang dan tajam. Ia kini memasuki babak baru, belajar meredam ego. Musim ini, dia menjadi sorotan di Real Madrid karena dituding sebagai biang kerok dari kegagalan meraih trofi akibat keegoisannya di lapangan.
Ego itu dibaca oleh Pelatih Perancis Didier Deschamps. Pita kapten diberikan kepada Mbappe sejak 2023 dengan harapan sang bintang bisa lebih dewasa dan menyatukan skuad Les Bleus berjaya di Piala Dunia 2026.
Apa saja rekor dan sejarah yang diukir Messi setelah Argentina mengalahkan Aljazair?
Dalam laga Piala Dunia 2026 yang digelar di hadapan 69.000 penonton yang memenuhi Kansas City Stadium, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB, Argentina menggulung Aljazair, 3-0. Lionel Messi, bintang Argentina, memborong semua gol tersebut pada menit ke-17, menit ke-60, dan menit ke-76.
Bukan sekadar memastikan pijakan awal yang kokoh bagi tim ”Tango” dalam upaya mempertahankan gelar, hattrick tersebut juga bermakna historis bagi Messi. Trigol itu merupakan hattrick pertamanya di Piala Dunia, ajang yang telah dia ikuti sebanyak enam edisi berbeda dengan total 27 penampilan.
Hattrick itu juga memastikan namanya kini sejajar dengan Miroslav Klose, bomber Jerman yang selama ini bercokol sendirian di puncak pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 16 gol. Rekor itu kemungkinan besar akan terlampaui mengingat perjalanan Argentina dan Messi di Piala Dunia ini tampaknya masih panjang.
Laga melawan Aljazair itu sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa penyerang berusia hampir 39 tahun itu masih prima dan berbahaya. Messi tak kehilangan sentuhan, pergerakan, visi, serta penyelesaian akhir yang selama ini menjadi kekuatannya.
Dalam laga itu, Messi tercatat menghasilkan enam percobaan gol dengan empat di antaranya tepat sasaran. Artinya, dengan torehan tiga gol, tingkat keberhasilan Messi sebesar 75 persen. Semua itu dilakukan dalam waktu 80 menit sebelum ditarik keluar dan digantikan Nico Paz.
”Messi berusia 39 tahun minggu depan. Tetapi, wow, dia sangat siap untuk pertandingan ini dan sangat menginginkannya. Dia bergerak sangat banyak dan melakukan lebih banyak ketimbang yang mungkin kita harapkan. Dia mau meninggalkan arena di level tertinggi,” ujar jurnalis sepak bola Amerika Latin, Tim Vickery, kepada BBC Sport.
Mengapa penampilan Michael Olise mengingatkan Perancis akan legendanya, Michel Platini?
Kylian Mbappe memang mencetak dua gol ke gawang Senegal saat Perancis mengalahkan Senegal, 3-1, pada laga Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. Namun, justru Michael Olise yang terpilih sebagai pemain terbaik pada laga tersebut.
Selain dua gol Mbappe, satu gol Perancis lainnya diciptakan oleh Bradley Barcola yang masuk menggantikan Ousmane Dembele pada menit ke-80. Adapun Senegal memperkecil ketinggalan melalui Ibrahim Mbaye.
Pada babak pertama, Mbappe dan kawan-kawan memang lebih banyak menguasai bola, tetapi peluang berbahaya justru lebih banyak diciptakan oleh para penyerang Singa Teranga. Pelatih Didier Deschamps segera melakukan perubahan taktik demi menyelamatkan permainan Perancis.
Dalam situasi itulah kejelian seorang pelatih mumpuni diperlihatkan. Melihat penyerang Michael Olise tidak efektif di sayap kanan, Deschamps pun memindah posisi sang pemain ke tengah, bergantian dengan Ousmane Dembele. Sebuah perubahan yang genius.
Setelah perubahan itu, Perancis seperti berubah menjadi tim baru. Mereka langsung tancap gas dan menciptakan begitu banyak peluang. Olise yang sebelumnya sering ”mati gaya” menghadapi bek kiri Senegal, El Hadji Malick Diouf, seolah-olah menjelma Michel Platini, mantan pemain legendaris Perancis.
Seperti halnya Platini, Olise menjadi otak serangan Perancis di babak kedua dengan umpan-umpan terobosan dan satu-dua sentuhan yang sering kali membongkar pertahanan lawan.
Hidupnya permainan Perancis terlihat dari banyaknya peluang yang mereka ciptakan. Jika pada babak pertama mereka hanya memiliki angka expected goals (xG) 0,04, angka xG mereka naik menjadi 1,87 pada babak kedua.
Bagaimana Erling Haaland membasuh dahaganya di Piala Dunia?
Walaupun telah mencetak ratusan gol sejak debut profesionalnya, ada sesuatu yang masih terus membuat Erling Haaland merasakan dahaga. Hal itu adalah mencetak gol di Piala Dunia.
Dahaga Haaland akhirnya terbasuh ketika menyumbangkan gol yang membantu Norwegia membekap Irak, 4-1, dalam laga penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Boston, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB.
”Bukan hal mudah untuk menjadi tim debutan. Kemenangan kami di hari yang tidak begitu baik ini sungguh luar biasa. Pertandingan selanjutnya akan jauh lebih sulit daripada ini. Kami harus bermain jauh lebih baik,” kata Haaland seusai laga itu.
Norwegia bukanlah tim debutan sebagaimana dikatakan Haaland. Namun, penampilan terakhir mereka sebelumnya di Piala Dunia terjadi 28 tahun silam.
Pernyataan Haaland bukan mengarah pada kiprah Norwegia, melainkan berpusat pada dirinya. Setelah penantian panjang selama bertahun-tahun, baru kali ini Haaland berkesempatan mencicipi euforia Piala Dunia.
Ketajaman Haaland dalam mencetak gol sudah tidak perlu diragukan lagi. Hanya saja, seluruh penampilan cemerlangnya ia bukukan di level klub. Haaland belum sempat teruji ketika bermain di panggung terbesar.
Maka, ketika kesempatan itu tiba, Haaland tidak menyia-nyiakannya. Dia hanya butuh 29 menit untuk mencetak gol pertamanya di Piala Dunia.
Penyerang Perancis, Kylian Mbappe, dan megabintang Argentina, Lionel Messi, kembali memanaskan persaingan di Piala Dunia 2026. Dua pemain yang menjadi pusat perhatian pada final Piala Dunia 2022 lalu itu, lagi-lagi, menghipnotis dunia saat tim mereka memulai kiprah di Amerika Utara.
Pada laga Perancis melawan Senegal di penyisihan Grup I, Rabu (17/6/2026) dini hari WIB, Mbappe (27) memborong dua gol. Dua golnya itu membuatnya mengukir rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Perancis dengan 58 gol. Sang kapten tim ”Les Bleus” melampaui torehan Olivier Giroud dengan 57 gol.
Tak lama berselang, seolah merespons amukan Mbappe itu, Messi memborong hattrick saat Argentina melibas Aljazair, 3-0, pada laga penyisihan Grup J Piala Dunia 2026, Rabu pagi. Tak berbeda dengan Mbappe, ”La Pulga” mendobrak batasan lain, yaitu menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 16 gol. Ia menyamai legenda Jerman, Miroslav Klose.
Messi (38) juga mengukir sejarah lain dengan meraih trigol pertamanya di Piala Dunia. Ia juga tercatat sebagai pemain yang paling sering tampil di Piala Dunia dengan 27 penampilan di enam edisi Piala Dunia, yaitu 2006, 2010, 2014, 2018, 2022, dan 2026.
Penampilan eksplosif dua ”matahari” sepak bola dunia itu seolah menutupi kegemilangan ”predator” lainnya, yaitu Erling Haaland. Sang striker yang dijuluki ”Monster Viking” itu memborong dua gol saat timnya, Norwegia, memukul Irak, 4-1.
Selain Messi, Mbappe, dan Haaland, penampilan memukau sebetulnya juga diperlihatkan penyerang kreatif Perancis, Michael Olise. Mereka semua bersaing meraih trofi Sepatu Emas dan Bola Emas Piala Dunia 2026.
Lantas, apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa kemenangan Perancis dan ketajaman Mbappe melawan Senegal adalah berkat mantra Deschamps?
- Bagaimana bisa kegemilangan Mbappe sudah diramalkan oleh dirinya sendiri sejak kecil?
- Apa saja rekor dan sejarah yang diukir Messi setelah Argentina mengalahkan Aljazair?
- Mengapa penampilan Michael Olise mengingatkan Perancis akan legendanya, Michel Platini?
- Bagaimana Erling Haaland membasuh dahaganya di Piala Dunia?
Mengapa kemenangan Perancis dan ketajaman Mbappe melawan Senegal adalah berkat mantra Deschamps?
Entah mantra apa yang diucapkan oleh Pelatih Perancis Didier Deschamps di ruang ganti paruh babak, tetapi itu terbukti sangat ampuh. Setelah bermain buruk pada babak pertama, Perancis bangkit pada babak kedua dengan mencetak tiga gol kemenangan atas Senegal pada laga perdana penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) sore waktu setempat.
Dari sisi permainan, kata sempurna barangkali terlalu berlebihan. Akan tetapi, mengingat ini adalah laga perdana menghadapi lawan yang berbahaya, dari sisi hasil, kemenangan 3-1 Les Bleus atas ”Singa Teranga” terbilang sempurna.
Gol pertama Perancis dicetak oleh striker Kylian Mbappe pada menit ke-66. Gol itu adalah gol yang berkualitas. Pergerakan tanpa bola Mbappe dan kejelian Michael Olise melepas umpan, diikuti finis sempurna sang kapten, membuat gol itu istimewa.
Salah satu perubahan yang dilakukan Deschamps untuk memperbaiki permainan Perancis adalah memindah Olise yang bermain tidak efektif di sayap kanan ke tengah, bertukar tempat dengan Ousmane Dembele. Langkah itu menjadi keputusan yang brilian. Dari umpan Olise-lah, gol pembuka Perancis lahir.
Deschamps kembali menunjukkan keampuhannya mengubah jalannya pertandingan saat melakukan perubahan dengan memasukkan penyerang Bradley Barcola menggantikan Dembele pada menit ke-80. Hanya 2 menit di lapangan, Barcola memperbesar keunggulan Perancis setelah membobol gawang Edouard Mendy memanfaatkan asis dari Adrien Rabiot.
Senegal memperkecil ketertinggalan melalui sepakan penyerang remaja berusia 18 tahun, Ibrahim Mbaye, di menit ke-90+5. Akan tetapi, Mbappe melengkapi penampilan gemilangnya pada babak kedua dengan gol keduanya lewat tendangan keras yang tidak bisa diantisipasi oleh Mendy.
Dua gol yang dicetak Mbappe ke gawang Senegal membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak Perancis dengan 58 gol, melewati catatan Olivier Giroud dengan 57 gol.
Bagaimana bisa kegemilangan Mbappe sudah diramalkan oleh dirinya sendiri sejak kecil?
Karier Mbappe melesat bak meteor, membawa Perancis meraih gelar kedua Piala Dunia di usia 19 tahun, mencetak hattrick di final Piala Dunia 2022 di usia 23 tahun. Kini, di usia 27 tahun, Mbappe menjadi top scorer Perancis sekaligus menjadi pesaing peraih Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
”Saya sangat senang dan gembira bisa membuat sejarah untuk negara saya,” ujar Mbappe seusai mencetak brace dalam kemenangan 3-1 Perancis atas Senegal di Grup I Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026) dini hari waktu Indonesia.
Menariknya, Mbappe sudah meramalkan kegemilangan kariernya saat berusia 14 tahun, tidak lama setelah dia bergabung dengan akademi sepak bola AS Monako. Saat itu, dia dan rekan-rekannya mendapat tugas mendesain sampul majalah olahraga.
Mereka memilih desain majalah Time dengan foto Mbappe dengan tulisan ”El Maestro” alias ”Sang Maestro”. Desain itu bak ramalan yang menjadi kenyataan. Dia menjelma bintang sepak bola dunia dan menjadi sampul majalah Time pada Oktober 2018 dengan judul ”Para Pemimpin Masa Depan”.
Ramalan itu belum berhenti karena Mbappe terus berkembang, semakin matang dan tajam. Ia kini memasuki babak baru, belajar meredam ego. Musim ini, dia menjadi sorotan di Real Madrid karena dituding sebagai biang kerok dari kegagalan meraih trofi akibat keegoisannya di lapangan.
Ego itu dibaca oleh Pelatih Perancis Didier Deschamps. Pita kapten diberikan kepada Mbappe sejak 2023 dengan harapan sang bintang bisa lebih dewasa dan menyatukan skuad Les Bleus berjaya di Piala Dunia 2026.
Apa saja rekor dan sejarah yang diukir Messi setelah Argentina mengalahkan Aljazair?
Dalam laga Piala Dunia 2026 yang digelar di hadapan 69.000 penonton yang memenuhi Kansas City Stadium, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB, Argentina menggulung Aljazair, 3-0. Lionel Messi, bintang Argentina, memborong semua gol tersebut pada menit ke-17, menit ke-60, dan menit ke-76.
Bukan sekadar memastikan pijakan awal yang kokoh bagi tim ”Tango” dalam upaya mempertahankan gelar, hattrick tersebut juga bermakna historis bagi Messi. Trigol itu merupakan hattrick pertamanya di Piala Dunia, ajang yang telah dia ikuti sebanyak enam edisi berbeda dengan total 27 penampilan.
Hattrick itu juga memastikan namanya kini sejajar dengan Miroslav Klose, bomber Jerman yang selama ini bercokol sendirian di puncak pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 16 gol. Rekor itu kemungkinan besar akan terlampaui mengingat perjalanan Argentina dan Messi di Piala Dunia ini tampaknya masih panjang.
Laga melawan Aljazair itu sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa penyerang berusia hampir 39 tahun itu masih prima dan berbahaya. Messi tak kehilangan sentuhan, pergerakan, visi, serta penyelesaian akhir yang selama ini menjadi kekuatannya.
Dalam laga itu, Messi tercatat menghasilkan enam percobaan gol dengan empat di antaranya tepat sasaran. Artinya, dengan torehan tiga gol, tingkat keberhasilan Messi sebesar 75 persen. Semua itu dilakukan dalam waktu 80 menit sebelum ditarik keluar dan digantikan Nico Paz.
”Messi berusia 39 tahun minggu depan. Tetapi, wow, dia sangat siap untuk pertandingan ini dan sangat menginginkannya. Dia bergerak sangat banyak dan melakukan lebih banyak ketimbang yang mungkin kita harapkan. Dia mau meninggalkan arena di level tertinggi,” ujar jurnalis sepak bola Amerika Latin, Tim Vickery, kepada BBC Sport.
Mengapa penampilan Michael Olise mengingatkan Perancis akan legendanya, Michel Platini?
Kylian Mbappe memang mencetak dua gol ke gawang Senegal saat Perancis mengalahkan Senegal, 3-1, pada laga Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. Namun, justru Michael Olise yang terpilih sebagai pemain terbaik pada laga tersebut.
Selain dua gol Mbappe, satu gol Perancis lainnya diciptakan oleh Bradley Barcola yang masuk menggantikan Ousmane Dembele pada menit ke-80. Adapun Senegal memperkecil ketinggalan melalui Ibrahim Mbaye.
Pada babak pertama, Mbappe dan kawan-kawan memang lebih banyak menguasai bola, tetapi peluang berbahaya justru lebih banyak diciptakan oleh para penyerang Singa Teranga. Pelatih Didier Deschamps segera melakukan perubahan taktik demi menyelamatkan permainan Perancis.
Dalam situasi itulah kejelian seorang pelatih mumpuni diperlihatkan. Melihat penyerang Michael Olise tidak efektif di sayap kanan, Deschamps pun memindah posisi sang pemain ke tengah, bergantian dengan Ousmane Dembele. Sebuah perubahan yang genius.
Setelah perubahan itu, Perancis seperti berubah menjadi tim baru. Mereka langsung tancap gas dan menciptakan begitu banyak peluang. Olise yang sebelumnya sering ”mati gaya” menghadapi bek kiri Senegal, El Hadji Malick Diouf, seolah-olah menjelma Michel Platini, mantan pemain legendaris Perancis.
Seperti halnya Platini, Olise menjadi otak serangan Perancis di babak kedua dengan umpan-umpan terobosan dan satu-dua sentuhan yang sering kali membongkar pertahanan lawan.
Hidupnya permainan Perancis terlihat dari banyaknya peluang yang mereka ciptakan. Jika pada babak pertama mereka hanya memiliki angka expected goals (xG) 0,04, angka xG mereka naik menjadi 1,87 pada babak kedua.
Bagaimana Erling Haaland membasuh dahaganya di Piala Dunia?
Walaupun telah mencetak ratusan gol sejak debut profesionalnya, ada sesuatu yang masih terus membuat Erling Haaland merasakan dahaga. Hal itu adalah mencetak gol di Piala Dunia.
Dahaga Haaland akhirnya terbasuh ketika menyumbangkan gol yang membantu Norwegia membekap Irak, 4-1, dalam laga penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Boston, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB.
”Bukan hal mudah untuk menjadi tim debutan. Kemenangan kami di hari yang tidak begitu baik ini sungguh luar biasa. Pertandingan selanjutnya akan jauh lebih sulit daripada ini. Kami harus bermain jauh lebih baik,” kata Haaland seusai laga itu.
Norwegia bukanlah tim debutan sebagaimana dikatakan Haaland. Namun, penampilan terakhir mereka sebelumnya di Piala Dunia terjadi 28 tahun silam.
Pernyataan Haaland bukan mengarah pada kiprah Norwegia, melainkan berpusat pada dirinya. Setelah penantian panjang selama bertahun-tahun, baru kali ini Haaland berkesempatan mencicipi euforia Piala Dunia.
Ketajaman Haaland dalam mencetak gol sudah tidak perlu diragukan lagi. Hanya saja, seluruh penampilan cemerlangnya ia bukukan di level klub. Haaland belum sempat teruji ketika bermain di panggung terbesar.
Maka, ketika kesempatan itu tiba, Haaland tidak menyia-nyiakannya. Dia hanya butuh 29 menit untuk mencetak gol pertamanya di Piala Dunia.