LONCAT GALAH

Bermodal Galah Pinjaman, Diva Jayadi Naik Podium Asia

Peloncat galah Diva Renatta Jayadi bisa mengatasi tantangan galah yang tak diizinkan masuk ke China untuk berprestasi di Asia. Itu modal berharga untuk Asian Games.

22 Mei 2026 18:22 WIB · Olahraga

KOMPAS/REBIYYAH SALASAH

Oleh Rebiyyah Salasah

Diva Renatta Jayadi mengatasi tantangan besar di Kejuaraan Asia Loncat 2026 untuk bisa menjadi runner-up. Selain tekanan mental karena lawan punya rekor pribadi dan catatan terbaik semusim yang lebih baik, Diva juga melewati tantangan krusial ketika galahnya tak bisa digunakan karena diizinkan masuk ke China. Dengan bermodalkan galah pinjaman, Diva mampu naik podium Asia untuk pertama kalinya.

Diva merebut medali perak dalam Kejuaraan Asia Loncat 2026 yang merupakan edisi pertama ini di Chongqing, China, Selasa (19/5/2026). Peloncat galah berusia 24 tahun ini menyamai rekor pribadinya, yang juga rekor Asia Tenggara, dengan meloncat setinggi 4,35 meter. Adapun peraih emas adalah atlet tuan rumah, Niu Chunge, dengan loncatan tertinggi 4,60 meter.

”Hasilnya sebenarnya sangat di luar dugaan,” kata Diva tentang keberhasilannya di China.

Prestasi Diva di Chongqing itu diraih bukan tanpa tantangan. Malah, tantangan besar justru datang dari alat utama yang berperan krusial bagi peloncat galah seperti Diva, yakni galah.

Galah merupakan tongkat khusus yang memiliki ketetentuan ukuran dan berat tertentu. Galah dipakai sebagai tolakan atlet untuk meloncati mistar dengan ketinggian yang diinginkan.

Peloncat galah Indonesia, Diva Renatta Jayadi (kiri atas), meraih perak di Kejuaraan Asia Loncat 2026 di Chongqing,China, Selasa (19/5/2026).

Setiap atlet umumnya memiliki tongkat sendiri karena disesuaikan dengan berat badannya. Begitu pula dengan Diva yang membawa galah miliknya sendiri ke China.

Namun, Diva justru nyaris tidak bisa ikut perlombaan karena galahnya tidak diizinkan masuk di bandara. Tidak hanya itu, ia juga tidak bisa menemukan galah yang sesuai dengan ukurannya di China.

”Beruntungnya ada peloncat galah dari tim Jepang yang berbaik hati meminjamkan galahnya. Tanpa galah pinjaman itu, saya mungkin tidak bisa berlomba,” ucap Diva.

Diva dituntut untuk beradaptasi dengan galah milik orang lain. Atlet yang pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Remaja Buenos Aries 2018 ini mampu melakukan itu dalam waktu yang singkat. Tantangan besar itu pun mampu teratasi.

Tak cuma itu, Diva juga mengatasi tantangan tekanan mental menghadapi lawan dengan rekor dan catatan terbaik semusim yang lebih gemilang. Peraih medali emas di SEA Games Thailand 2025 ini mampu fokus pada kemampuan sendiri dan mengulangi rekor pribadinya.

Infografik Cabang Atletik di SEA Games Thailand 2025

Di atas kertas, Diva sebenarnya tidak punya peluang untuk meraih medali di Chongqing. Sebab, rekor pribadi Diva dengan 4,35 meter maupun catatan terbaiknya selama musim ini dengan 4,20 meter masih di bawah tiga peloncat galah saingannya.

Peloncat galah tuan rumah, Wei Lingxia, dan atlet Jepang, Morota Misaki, misalnya, sama-sama memiliki catatan terbaik selama musim ini setinggi 4,40 meter. Bagi Wei, 4,40 meter juga merupakan rekor pribadinya. Sementara Morota punya rekor pribadi 4,48 meter.

Jika melihat dari rekam jejak tersebut, Wei dan Morota berpeluang finis tiga besar. Begitu pun dengan peloncat galah China lainnya, Niu Chunge, yang punya catatan terbaik semusim 4,50 meter dan rekor pribadi 4,65 meter.

Namun, saat perlombaan, semua itu pada akhirnya hanya menjadi angka-angka di atas kertas. Ketika Wei dan Morota tiga kali gagal untuk bahkan meloncat di ketinggian 4,35 meter, Diva mampu melewatinya pada percobaan kedua.

Peloncat galah putri Indonesia, Diva Renatta Jayadi, berbicara dengan pelatihnya, Frederick Saputra, saat perlombaan SEA Games Thailand 2025 di Stadion Supachalasai, Bangkok, pada Kamis (11/12/2025) malam WIB. Diva meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor nasional dan rekor SEA Games dengan loncatan setinggi 4,35 meter.

Meski tiga kali gagal pada percobaan 4,40 meter, Diva setidaknya mempertahankan rekor pribadi 4,35 meter yang akhirnya mengantarkan ke podium. Wei dan Morota, yang sama-sama mencapai 4,25 meter sebagai loncatan paling tinggi mereka, menempati peringkat ketiga.

Adapun Niu mampu meloncat hingga 4,60 meter. Niu sempat mencoba 4,73 meter untuk memecahkan rekor nasional dan rekor Asia, tetapi upayanya gagal. Meskipun begitu, 4,60 meter sudah cukup mengantarnya naik podium tertinggi.

Bagi Diva, prestasi di Chongqing melanjutkan performa positifnya selama uji coba tahun ini. Sebelumnya, di Kejuaraan Loncat Galah Internasional Sun Moon Lake Taiwan 2026 dan Kejuaraan Loncat Galah dalam Ruangan Taiwan 2026, Diva mampu merebut medali emas dengan loncatan 4,20 meter.

Pencapaian di Kejuaraan Asia Loncat ini juga merupakan prestasi pertama Diva di level Asia saat sudah masuk persaingan senior. Di Kejuaraan Asia Atletik 2025, Diva gagal naik podium setelah menempati peringkat keempat. Loncatannya saat itu adalah 3,98 meter.

Peloncat galah Indonesia, Diva Renatta Jayadi, berfoto dengan pelatihnya, Frederick Saputra, setelah meraih medali perak di Kejuaraan Asia Loncat 2026, Chongqing, China, Selasa (19/5/2026)

Diva pernah merasakan podium di level Asia ketika berlomba di kelompok umur, tepatnya di Kejuaraan Asia U-18 pada 2019. Anak dari mantan peloncat galah nasional, Nunung Jayadi, ini meraih perunggu setelah meloncat setinggi 3,55 meter.

Kesuksesan Diva pun menjadi modal berharga baginya untuk menatap Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Diva menjadi salah satu atlet yang dipersiapkan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) untuk ajang multicabor empat tahunan tersebut.

Dalam daftar yang ditunjukkan pelari jarak jauh Odekta Elvina Naibaho, terdapat 10 atlet yang mengikuti pemusatan latihan nasional mandiri untuk Asian Games. Mereka adalah peraih medali emas dan satu peraih perak di SEA Games Thailand 2025.

Masalah pendanan

Sebelumnya, PB PASI menggelar pelatnas yang terdiri dari 30 atlet. Sebanyak 15 atlet di antaranya merupakan bagian dari pelatnas PPON (Pemusatan Latihan Nasional Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional), program pembinaan intensif yang dikelola Kemenpora untuk mempersiapkan atlet menghadapi ajang internasional. Sisanya adalah atlet program pelatnas mandiri.

Per 22 April, PB PASI memangkasnya menjadi total 10 atlet karena pendanaan dari pemerintah belum turun. Status mereka pun berubah menjadi atlet pelatnas mandiri atau program yang diselenggarakan secara swadaya oleh pengurus cabor, tanpa dukungan anggaran langsung dari pemerintah.

Wakil Sekretaris Umum PB PASI Singgih Widiyastono memastikan, masalah pendanaan tidak berpengaruh pada honor maupun akomodasi atlet. PB PASI bersiasat dengan mengurangi jumlah atlet yang berlatih di pelatnas. Selain itu, atlet seperti Diva dikirimkan untuk uji coba internasional, tetapi jumlahnya keikutsertaannya dikurangi.

Adapun bagi Diva, Asian Games akan menjadi langkah selanjutnya setelah emas di SEA Games Thailand 2025. Diva meniti mimpinya mencapai puncak tertinggi, yaitu Olimpiade.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase