Berpotensi Longsor Susulan, Masyarakat Diminta Mengungsi dari Sekitar Lokasi Longsor Majenang

Tanah di lokasi terdampak longsor Majenang dianggap rawan mengalami longsor susulan. Masyarakat diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

16 Nov 2025 07:00 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI BPBD CILACAP

Oleh Adrian Fajriansyah

JAKARTA, KOMPAS — Dari analisis geologi, longsor atau gerakan tanah susulan berpotensi terjadi di lokasi terdampak longsor Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Atas dasar itu, masyarakat diminta segera mengungsi dari sekitar lokasi tersebut ke tempat yang lebih aman.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam surat tanggapan bencana gerakan tanah di Majenang, Sabtu (15/11/2025), meminta masyarakat di sekitar lokasi terdampak bencana segera mengungsi ke tempat lebih aman. Sebab, longsor atau gerakan tanah susulan berpotensi terjadi, terutama di lokasi sekitar lereng curam dan saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama.

Surat tanggapan bencana gerakan tanah di Majenang yang ditandatangani Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid AN itu berisi analisis penyebab bencana dan sejumlah rekomendasi kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gubernur Jawa Tengah, dan Bupati Cilacap. Penjelasan dalam surat itu turut diunggah di laman vsi.esdm.go.id, Sabtu.

Menurut Badan Geologi, secara umum, morfologi lokasi terdampak bencana dan lokasi di sekitarnya berupa perbukitan struktural bergelombang sedang dengan kemiringan landai curam. Ketinggian lokasi terdampak bencana mencapai 22-115 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bentuknya seperti perbukitan yang terpotong dengan beda tinggi 50-90 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar 1308-5 Majenang (Kastowo dan Suwarna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1998), lokasi terdampak bencana terletak pada batas kontak batuan Formasi Tapak (Tpt) dan Formasi Kumbang (Tmpk). Formasi Tapak berada di atas Formasi Kumbang. Kondisi itu dipengaruhi struktur geologi berupa lipatan dan patahan.

Tanah pelapukan terlihat sangat tebal, berwarna coklat, gembur, lepas, dan jenuh air dengan ketebalan lebih dari 10 meter. Struktur geologi secara regional dipengaruhi proses tektonik berupa lipatan, sesar naik, dan sesar geser.

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

Oleh karena itu, merujuk Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) pada bulan November 2025, daerah bencana di Majenang termasuk ke dalam zona prakiraan terjadinya longsor atau gerakan tanah menengah. Zona yang paling rawan terutama di kawasan yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau lereng yang mengalami gangguan.

Gerakan tanah lama pun dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat. Longsor bisa terjadi diperkirakan karena kemiringan lereng tebing yang curam. Selain itu, tanah pelapukan mudah runtuh, gembur, dan jenuh, batuan dasar terkekarkan kuat yang dipengaruhi struktur geologi, serta curah hujan tinggi dengan durasi lama sebagai pemicu terjadi gerakan tanah.

Quote

Longsor bisa terjadi diperkirakan karena kemiringan lereng tebing yang curam. Selain itu, tanah pelapukan mudah runtuh, gembur, dan jenuh, batuan dasar terkekarkan kuat yang dipengaruhi struktur geologi, serta curah hujan tinggi dengan durasi lama sebagai pemicu terjadi gerakan tanah.

Oleh sebab itu, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat untuk segera mengungsi dari sekitar lokasi terdampak bencana. Selain itu, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban yang masih hilang diminta memperhatikan kondisi cuaca. Semua personel di lapangan harus segera menghentikan kegiatan saat dan setelah hujan deras. Sebab, lokasi itu masih berpotensi terjadi longsor susulan.

Di sisi lain, diperlukan pemasangan rambu rawan bencana longsor di sekitar lokasi terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan semua pihak. Pemahaman masyarakat mengenai longsor dan tanda-tandanya harus ditingkatkan sebagai upaya mitigasi. ”Masyarakat juga mesti selalu mengikuti arahan mengenai kebencanaan dari instansi terkait,” papar Badan Geologi.

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

Fokus penanganan darurat

Sementara itu, hingga Sabtu sore, sejumlah pihak terkait masih fokus pada penanganan tanggap darurat bencana berupa operasi SAR pascalongsor Magelang terjadi pada Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 20.00 WIB. Sebab, hingga Sabtu sore, masih ada korban hilang yang diduga tertimbun material longsor.

Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, longsor Majenang menyebabkan 11 orang meninggal. Tiga korban dari Dusun Tarukahan ditemukan pada pencarian Jumat (14/11/2025) dan delapan korban dari Dusun Cibuyut ditemukan pada pencarian Sabtu.

Hingga Sabtu sore, 13 korban belum ditemukan, terdiri dari tujuh orang di Cibuyut (worksite A) dan enam orang di Tarukahan (worksite B). Korban hilang itu tersebar di empat worksite, yakni dua orang di worksite A-1, lima orang di worksite A-2, empat orang di worksite B-1, dan dua orang di worksite B-2.

”Operasi SAR diutamakan selama periode emas atau golden time yang berlangsung 6 x 24 jam,” ujar Kepala BNPB Suharyanto.

Kendati demikian, Suharyanto mengatakan, pihaknya sudah mengimbau masyarakat untuk menjauh dari sekitar lokasi terdampak bencana demi keamanan dan keselamatan. ”Kita ungsikan dulu yang berada di lokasi terdekat dengan lokasi terdampak untuk menghindari potensi longsor susulan,” katanya.

Selain itu, tambah Suharyanto, langkah relokasi masyarakat yang masih tinggal di sekitar lokasi terdampak bencana pasti dilakukan setelah penanganan tanggap darurat tuntas. Sejauh ini, ada 28 warga yang masih tinggal di wilayah kritis atau rawan longsor.

”Seusai tanggap darurat, kami akan mengambil langkah relokasi kepada warga yang tinggal di wilayah kritis agar lebih aman. Pemerintah Kabupaten Cilacap pun sudah menyiapkan lahan khusus yang lebih aman untuk relokasi para warga tersebut,” tuturnya.

Tim SAR gabungan mengerahkan 9 anjing pelacak dan 9 alat berat untuk membantu pencarian 20 korban hilang memasuki hari ketiga pascalongsor Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (15/11/2025).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi hampir merata di Majenang hingga Minggu (16/11/2025). Itu bisa meningkatkan faktor risiko longsor. Apalagi topografi Majenang berbentuk cekungan sehingga sangat berisiko terdampak longsor.  

Kombinasi cuaca buruk dan topografi yang berisiko itu juga disinyalir menjadi penyebab longsor Majenang. Untuk itu, BNPB mengimbau tim SAR gabungan ataupun masyarakat di sekitar lokasi terdampak agar selalu waspada terhadap kemungkinan longsor susulan. ”Jika hujan turun dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam, semuanya diimbau segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman,” ujar Abdul.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar