Bertahun Menanti Sajian Koki Nyentrik

Philip hanya membuka pemesanan dengan waktu yang sangat random. Jika foto profil Warung SCI berwana hijau, berarti slot masih tersedia.

13 Apr 2025 10:00 WIB · Gaya Hidup

Oleh Dwi Bayu Radius

Tak bisa disangkal, perlu kegigihan untuk bisa bersantap di Warung SCI. Polah pemilik rumah makan yang tak lumrah mewarnai keunikan rumah makan di Kelapa Gading, Jakarta, itu. Tak kurang pula konsumen berbondong-bondong untuk mengirim formulir sampai memesan menu daring.

Sekitar pukul 19.00 WIB, hampir semua kursi sudah terisi. Hanya terlihat enam meja di Warung SCI yang luasnya sekitar 50 meter persegi saja. Pegawai dengan ramah mempersilakan konsumen yang telah melakukan reservasi. Rumah makan dengan spesialisasi sajian Thailand tersebut memang tak menerima tamu yang ujug-ujug datang.

Konsumen pun sudah menyampaikan pesanannya melalui aplikasi percakapan. Tak heran, baru menunggu sejenak, hidangan sudah tersaji. Hari itu, umpamanya, tersedia yum talay yang menjadi sajian pembuka dengan racikan bayi gurita, salmon, cabai segar, dan bawang bombai.

Cocok untuk mengawali rangkaian santapan lantaran salad ala boga bahari dengan taburan kacang, tomat, seledri, dan bawang putih tersebut bercita rasa sedikit masam yang menerbitkan liur untuk melancarkan kunyahan. Sambil menunggu, pengunjung bisa mengamati tulisan-tulisan yang tertera di kertas berlaminating.

Kalimat-kalimat yang sungguh tak lazim, umpamanya, ”Warung SCI bukan rumah makan cepat saji. Makanan dimasak satu per satu. Harap sabar”. Catatan-catatan itu diselotip di dinding dengan uraian lain, seperti ”Waktu makan 60 menit dari jam booking. Usahakan untuk tidak terlambat. Semakin telat Anda datang, waktu makan semakin sedikit”.

Menu us prime boneless short ribs masak kentang di Warung SCI Prikhpun Manow, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2025). Penikmat kuliner harus jauh-jauh hari memesan untuk bisa menikmati menu di restoran Thailand tersebut.

Penampang di meja depan kasir tak ketinggalan mengundang senyum simpul lantaran mencantumkan karikatur sapi sedang mencengkeram bibir seseorang dengan wara-wara, ”Kalo masih pada mau ngobrol, sono pindah aja.”

Hidangan selanjutnya, US prime boneless shortribs masak kentang, digenangi saus pekat kuning yang sepintas mirip mayones. Selintas manis berpadu dengan bawang merah utuh, tetapi tak menyengat menambah lezat potongan-potongan daging sepanjang 10 sentimeter itu.

Quote

Waktu makan 60 menit dari jam booking. Usahakan untuk tidak terlambat. Semakin telat Anda datang, waktu makan semakin sedikit.

Sementara premium ribs bone in mixed with rump menyorongkan kenikmatan serupa daging goreng mentega. Hidangan-hidangan lain, seperti tiger prawn saus SCI, soka lada garam, dan gaeng massaman dengan kari massaman isi brisket Australia.

Pramusaji mengingatkan

Jeda antara satu makanan dan yang lain diantar hanya berkisar 5-10 menit. Di Warung SCI, pengunjung asyik menikmati makanan sambil berbincang-bincang. Sebagian tamu rela sedikit berdesakan dengan makan di meja yang idealnya untuk empat orang.

Sesekali, si empunya rumah makan, Philip Budi Harja (42), beranjak sesaat dari dapur untuk memastikan semua sajian sudah diantar sesuai pesanan. Waktu seakan berlalu sangat cepat dengan deretan kreasi kuliner nan lezat hingga tak terasa satu jam telah usai.

Suasana di Warung SCI Prikhpun Manow, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2025). Penikmat kuliner harus jauh-jauh hari memesan untuk bisa menikmati menu di restoran Thailand tersebut.

Kalaupun konsumen tak meminta bon, pramusaji akan mengantarnya untuk mengingatkan soal waktu yang sudah habis. Beberapa pengunjung lain tampak sudah mengantre di luar Warung SCI. Sekali lagi, Warung SCI menyodorkan kejutan bagi pengunjung yang tak terbiasa.

Konsumen tak bisa membayar dengan QRIS atau kartu debit. Philip hanya menerima uang tunai dan transfer lewat bank. Tak ayal, seorang pengunjung mesti pontang-panting untuk berlari selama sekitar 10 menit menuju ATM terdekat gara-gara tak membawa cukup uang.

”Memang, saya orang jadul. Lebih senang cash (kontan). Kalau yang lain, enggak, deh,” ujar Philip singkat diiringi gelak. Ia memang kerap diberondong pertanyaan konsumen soal metodenya yang tak konvensional. Konsumen, contohnya, harus memesan jadwal berkunjung melalui Whastapp.

Philip hanya membuka pemesanan dengan waktu yang sangat random. Jika foto profil Warung SCI berwana hijau, berarti slot masih tersedia. Seandainya merah, slot sudah habis. Acapkali, warna hijau hanya bertengger sekejap lalu berganti dengan merah.

Mereka yang tak sering-sering mengecek bakal melewatkan peluang untuk bertandang ke Warung SCI. Setelah reservasi, pelanggan bisa menunggu hingga sebulan sampai tanggal yang sudah dipilih. Pada hari kedatangannya, konsumen mengecek menu di Instagram Warung SCI untuk mengirimkan pesanan.

Pemberitahuan di Warung SCI Prikhpun Manow, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2025). Penikmat kuliner harus jauh-jauh hari memesan untuk bisa menikmati menu di restoran Thailand tersebut.

Pilihan-pilihan hidangan sudah diunggah pada pukul 13.00 WIB. Pesanan harus dikirim paling lambat satu jam kemudian. Menu yang ditawarkan berbeda setiap hari. Sebagian pengunjung tergagap-gagap juga, tetapi antrean konsumen begitu panjang hingga tak sedikit dari mereka yang rela menunggu bertahun-tahun.

Pinggir jalan

Ia memulai debut kulinernya dari bawah dengan tenda di pinggir jalan pada tahun 2013. Berselang dua tahun saja, pembeli sudah ramai yang tak pelak diselingi dengan ketidaksabaran karena hanya tersedia 16 bangku. Philip sejak dulu memang nyentrik.

”Ada orang enggak sabar sampai ngomong lama banget tiga kali. Saya bentak, ’Enggak lihat gua lagi masak?’ Pembeli juga lagi banyak banget,” katanya seraya terbahak. Keeksentrikannya berlanjut ketika Philip menempati ruko sejak tahun 2018. Ia memasak demi kepuasannya.

Quote

Masa bodo. Buat saya, tempat yang gede enggak penting. Justru, bisa-bisa enggak keurus. Saya juga koki. Masih masak sendiri. Paling, dibantu satu orang.

”Saya pernah dipanggil, ’situ…, situ...” Enggak ada etika. Saya marah. Mentang-mentang bayar, merasa raja terus orang dikira kacung. Saya bukan kacung siapa-siapa,” ucapnya. Saat ditanya jika konsumen tertentu memandangnya selengean atau slebor, ia tak peduli.

”Masa bodo. Buat saya, tempat yang gede enggak penting. Justru, bisa-bisa enggak keurus. Saya juga koki. Masih masak sendiri. Paling, dibantu satu orang,” ujarnya. Meski blak-blakan, ia pun mengenal banyak konsumen yang menganggapnya baik.

Suasana di Warung SCI Prikhpun Manow, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2025). Penikmat kuliner harus jauh-jauh hari memesan untuk bisa menikmati menu di restoran Thailand tersebut.

Philip sempat menimba pengalaman di Malaysia selama setahun hingga 2005. Seusai mendalami masakan laut ala China, ia kembali melanglang untuk menggeluti gastronomi Thailand selama 1,5 tahun, tetapi setelahnya masih melawat berkali-kali.

Fathia (29), ASN Kementerian Luar Negeri, sudah beberapa tahun ini mengetahui Warung SCI karena sempat viral di media sosial. Ia menunggu cukup lama untuk makan. Fathia mendeskripsikan pengalaman mendapatkan reservasi layaknya war atau perang dengan pengunjung lain.

Ia baru mendapatkan reservasi pada 28 Maret lalu. Untuk pilihan menu, bisa juga jika ingin pesan langsung di tempat seperti yang dilakukan oleh Fathia, meski pilihan menunya jadi terbatas. Ia memesan tom yam, salmon yam, dan banana prawn dengan saus khas Warung SCI. Di lidahnya, semua makanan itu pas dan enak. Rasanya sebanding dengan harga.

Clara (31), karyawan swasta, sudah beberapa kali pergi ke Bangkok, Thailand. Menurut dia, rasa masakan yang ia pesan, seperti salmon salad, cumi bumbu spesial, mango salad, kepiting soka, dan nasi goreng, itu enak saja. Namun, belum bisa menandingi rasa di negara asli.

”Kayak salmon saladnya itu agak keasinan sih. Tapi, overall enak,” katanya.

Catatan: Artikel ini merupakan kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Giofanny Sasmita, mahasiswi Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi Bayu Radius
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto