Siapa sangka, bocah pemanjat pagar dan tiang listrik ini kini menjelma pemanjat terbaik SEA Games Thailand 2025. Perkenalkan, si ”bocah ajaib” Alma Ariella Tsany.
13 Des 2025 11:39 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Usianya memang baru 16 tahun. Namun, jangan sekalipun meragukan kemampuan Alma Ariella Tsany kalau sudah memanjat dinding setinggi 15 meter itu. Dinding yang berkontur dan miring, pegangan atau volume yang besar dan terbuka, atau jalur yang tingkat kesulitannya menantang, Alma mampu melahapnya seperti tengah menari di dinding. Dancing on the wall.
Di Bangkok Sport Climbing Center Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025) malam, Alma memukau nyaris semua orang yang datang. Bagaimana tidak, di antara delapan pemanjat putri dan putra yang berlaga di babak final, hanya Alma yang mampu menggapai puncak. Ketika puncak itu diraih, ketika itu pula medali emas dipastikan ada di tangannya.
Senyum pun merekah di wajah Alma. Tak ada selebrasi, hanya ada kedua tangan yang mengatup ketika Alma turun dari dinding panjat. ”Pengin (selebrasi), tetapi enggak keluar. Rada bingung dan kayak enggak mau terlalu senang, soalnya ini baru awal,” ujar Alma.
Total enam pemanjat tebing lead Indonesia yang berlaga di SEA Games Thailand 2025 sudah ditanamkan pola pikir demikian bahwa SEA Games hanya titik awal. Pesta olahraga se-Asia Tenggara ini adalah batu loncatan menuju ke level lebih tinggi, yakni Asia dan dunia. Alma memahami itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/9203d18b6e58b1dc77c0d7315a5da20f-DSC00120.jpg)
Iya, tiang listrik yang kecil. Manjatnya kayak manjat pohon.
Kebahagiaan diluapkan Alma dengan cara berbeda. Alma memeluk pemanjat-pemanjat putri lain yang jadi rivalnya, termasuk rekan sesama pemanjat Indonesia, Sukma Lintang Cahyani, yang meraih medali perak. Pemanjat asal Gresik, Jawa Timur, ini juga menghubungi orangtuanya yang menonton siaran langsung dari Indonesia.
Namun, selebihnya, Alma melakukan rutinitas seperti saat latihan, yakni melakukan pendinginan dan mendiskusikan jalur bersama Lintang. Yang berbeda hanyalah Alma langsung dikerubungi wartawan dan mendadak jadi punya banyak penggemar yang meminta foto bersama.
”Masih suka deg-degan kalau ditanya-tanya, sih. Mana sekarang lebih banyak (wartawannya). Cuma mama bilang, percaya diri saja,” kata Alma dengan suara pelannya.
Setahun lalu, Alma tak pernah membayangkan akan berada di puncak Asia Tenggara. Nama Alma baru muncul setelah menggondol lima medali panjat tebing di PON Aceh-Sumut 2024, tiga di antaranya medali emas. Prestasi gemilang itu diraih ketika Alma turun debutan sekaligus salah satu pemanjat termuda di tim Jawa Timur.
Sewaktu kecil, bahkan belum masuk sekolah dasar, Alma adalah bocah aktif yang senang memanjat apa pun yang ada di area rumahnya. Pagar rumah hingga tiang listrik pun sering jadi obyek panjat Alma. ”Iya, tiang listrik yang kecil. Manjatnya kayak manjat pohon,” kata Alma sambil malu-malu mengingat masa kecilnya.
Dari situlah kisah Alma dimulai. Mengetahui anaknya aktif, orangtua Alma, Lukman Hadi dan Dyah Purwaningsih, lantas memasukkannya yang baru berusia 5 tahun ke klub panjat tebing yang tak jauh dari rumah, Rock Hobbies Centre Gresik. Setiap hari, Lukman dan Dyah secara bergantian mengantar anak bungsunya latihan.
Namun, meski lebih aman karena menggunakan tali pelindung, nyali Alma justru ciut ketika memanjat di dinding panjat lead untuk pertama kali. Butuh waktu hingga berkali-kali percobaan hingga akhirnya terbiasa dan menyenangi lead.
Kesenangan Alma pada lead pun membawanya ke beragam kompetisi dan meraih berbagai prestasi. Saat baru usia 12 tahun, Alma sudah menorehkan prestasi di Kejuaraan Nasional Kelompok Umur XV-2021 di Aceh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/1af2a7b721401747dc8745b372e49ae4-DSC00071.JPG)
Meski bukan pada ajang di bawah Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC), Alma juga sudah menandai debut internasional sejak 2023 dengan ikut kompetisi di Malaysia dan Singapura. Ia turun di disiplin panjat lainnya, boulder.
Pelatih tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, mengatakan, salah satu kelebihan Alma adalah kekuatannya yang juga didukung bobot tubuhnya. Dengan perlombaan lead yang menantang gravitasi, pemanjat harus bisa tahan bergelantungan sembari mencoba memanjat hingga ke puncak.
Disiplin ini membutuhkan daya tahan, ketangkasan, dan kecepatan. Para pemanjat lead juga ditantang memecahkan jalur yang tingkat kesulitannya beragam.
Alma, misalnya, mengatasi tantangan poin ke-42, titik terjatuhnya Lintang, dengan gerakan luwesnya. Ia memaksimalkan tangan dan kakinya untuk bersilangan pada pegangan atau menahan tubuhnya melintang. Setiap gerakannya, yang juga kian maksimal karena nyaman dengan pemanjatan, itu membawanya pada puncak.
Adapun pelatih Alma ketika di pemusatan latihan daerah, Ronald Mamarimbing, mengatakan, kekuatan yang lain dari Alma adalah mentalitasnya. Alma memiliki mentalitas juara sehingga enggan menyerah dan menolak takut ketika berlomba, bahkan ketika jadi debutan dan bertemu lawan lebih senior.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/ee56a79772cef4a971428f7f0310f5d0-DSC00136.jpg)
Dengan kemampuannya dan prestasi gemilang di level nasional, Alma menembus pemusatan latihan nasional mulai tahun ini. Sebelum resmi masuk pelatnas, Alma diikutkan menjadi tim lead dan boulder yang berlaga di Kejuaraan Asia Remaja di Jamshedpur India 2024. Ia membawa pulang perak di lead.
Pada Agustus, Alma dikirim ke Kejuaraan Asia Remaja di Guiyang, China, 2025 untuk kembali mengikuti disiplin lead dan boulder. Penggemar Janja Garnbet, pemanjat Slovenia pemilik dua medali emas Olimpiade dan 10 medali emas Kejuaraan Dunia Panjat Tebing, ini menempati peringkat keempat di lead.
Bagi Alma, setahun terakhir menjadi tahun yang sibuk. Di dalam negeri pun, ia masih ikut berbagai kompetisi, termasuk Kejuaraan Nasional kelompok umur. Tahun yang sibuk itu akhirnya ia tutup dengan medali emas dari SEA Games Thailand 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/c2fe0b816163903448093d573aae8c6f-FAK_3614.jpg)
Titik awal itu sekaligus batu loncatan itu telah Alma lalui. Kini, si ”bocah ajaib” pemanjat pagar dan tiang listrik itu mantap menatap puncak-puncak lain dengan level lebih tinggi. ”Harus bertahap, tetapi impian aku dan setiap atlet pasti ke Olimpiade,” ujar Alma.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan