Mata-mata AS beroperasi di Venezuela sejak Agustus 2025. Replika rumah Maduro dibuat di AS untuk pasukan Delta berlatih menculik dan membawa Maduro ke AS.
04 Jan 2026 19:00 WIB · Internasional
AFP/US President Donald Trump's TRUTH So
Gelap gulita tiba-tiba menyelimuti Caracas, ibu kota Venezuela. Tiba-tiba menjelang pukul 02.00, Sabtu (3/1/2026), dentuman silih berganti terdengar di sudut-sudut Caracas. Asap tebal membubung tinggi terlihat di atas kota. Operasi Tekat Bulat (Absolute Resolve) pun digelar.
Target utama operasi militer Amerika Serikat itu adalah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Operasi pada Sabtu dini hari itu berlangsung selama kurang lebih 2 jam 20 menit.
Sebelum operasi itu digelar, unit khusus dari pasukan Delta mempersiapkan serbuan itu selama berbulan-bulan. Di sisi lain, kisah sukses dari misi tersebut tak lepas dari adanya bantuan dari ”orang dalam”.
Seiring Caracas dibalut gelap gulita, sejumlah sasaran strategis seperti pelabuhan, bandara, pusat pertahanan udara, dan pangkalan militer Venezuela dihantam bom. ”Terdengar ledakan dahsyat. Kaca-kaca jendela hancur. Lalu asap tembal menghalangi penglihatan kami,” kata Ana Vanessa Herrero, wartawan Venezuela kepada BBC.
”Kami terbangun pukul 01.55 akibat suara ledakan dan derum suara pesawat terbang. Seluruh kota dalam keadaan gelap gulita. Hanya ada cahaya dari ledakan yang terjadi,” kata Daniela, seorang saksi, kepada BBC.
Menurut dia, para tetangga di apartemennya saling mengirim pesawat lewat telepon genggam. Mereka kebingungan, takut, dan menanyakan apa yang terjadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/03/129c718e-6707-4c7c-aa04-cd0f38283ca9.jpg)
Dalam pernyataan pers seusai penyerbuan, Presiden AS Donald Trump yang dipenuhi rasa gembira atas penangkapan Maduro tidak menjelaskan cara-cara yang dilakukan AS untuk membuat daerah sasaran menjadi gelap gulita.
Berselimut gelap, serangan dadakan, dan keriuhan warga, siluet Chinook, Blackhawk terbang rendah di atas Caracas. Helikopter-helikopter yang mengangkut pasukan Delta itu menyerbu tempat perlindungan Maduro.
Sumber BBC, yakni CBS di Amerika Serikat, mendapat informasi dari Delta yang menyebutkan pasukan khusus yang diterjunkan malam itu dilengkapi senjata berat dan ditambah peralatan las. Perlengkapan tersebut dibawa dengan pertimbangan harus membobol pintu baja kamar perlindungan Presiden Maduro.
Menurut Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine, yang juga Kepala Staf Militer AS, pasukan Delta tiba di sasaran tidak lama setelah serangan awal, yaitu pukul 02.10 waktu setempat.
Saat serangan terjadi, Maduro diketahui tengah bersembunyi di sebuah save house, sebuah benteng di jantung Caracas. Saat pasukan Delta diterjunkan ke lokasi itu, mereka sempat disambut tembakan.
Tembakan itu mengenai sebuah helikopter. Namun menurut Caine, helikopter tersebut masih dapat dikendalikan dan pasukan Delta tetap bergerak cepat dan disiplin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/04/1cb925df-4834-4549-9a61-9907212ff87b.jpg)
Trump menimpali, pasukan itu tiba bertepatan dengan saat Maduro nyaris masuk ke ruang perlindungan yang dibentengi dengan pintu baja tebal. Selain benteng yang kuat, Maduro juga disebut-sebut dijaga oleh prajurit-prajurit asal Kuba.
”Mereka menanti kita. Mereka tahu kita akan menyerang,” kata Trump. Menurut Trump, Maduro sempat menggapai pintu baja tersebut, tetapi belum sempat menutupnya. ”Dia, Maduro, berusaha masuk ke ruang perlindungan. Itu pun tidak aman karena bisa kita hancurkan dalam 47 detik,” kata Trump.
Ditanya apakah Delta dapat membunuh Maduro dalam operasi tersebut, Trump mengatakan, itu bisa saja terjadi. Dalam serbuan kilat itu, beberapa prajurit AS tertembak, tetapi tidak ada yang tewas. Sementara itu, belum ada keterangan mengenai jumlah korban dari Pemerintah Venezuela.
Secara alamiah, utara Caracas dilindungi bentangan pegunungan sehingga menyulitkan pasukan pendarat musuh dari arah laut. Serbuan cepat yang dinilai paling memungkinkan adalah melalui udara.
Untuk menyiapkannya, Washington perlu mempersiapkannya selama berbulan-bulan. Satu tim mata-mata termasuk orang dalam Maduro, selama berbulan-bulan memantau kegiatan dan kebiasaan harian Maduro. Mata-mata tersebut melekat bersama Maduro.
Hasil pantauan tim itu menjadi pegangan berharga bagi pasukan khusus AS. Saat serbuan digelar, tim tersebut juga aktif. Mata-mata yang telah ditanam ikut memandu pergerakan pasukan Delta menyerbu langsung tempat persembunyian Maduro.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/05641372d6804e2d90bc7ee029f9fdc0-US_Venezueka.jpg)
Operasi presisi itu berjalan mulus karena selain laporan pantaun harian kegiatan Maduro, intelijen AS telah mengantongi denah kompleks perlindungan itu. Sejak Agustus 2025 tim Delta telah berlatih menggunakan replika rumah aman Maduro itu.
Hal itu membuat mereka hapal seluk-beluk lokasi yang menjadi target dan memudahkan mereka menculik Maduro dan istrinya. Ada lima lokasi yang menjadi sasaran AS dalam serangan ke Caracas, yaitu Pangkalan Udara Generalissimo Fransisco de Miranda alias La Carlota, Pelabuhan La Guaira di barat laut Caracas, Fuerte Tiuna, Antenas El Volcan, dan Bandara Higuerote.
Dalam prosesnya, operasi tersebut sempat tertunda. Empat hari lalu, serangan nyaris dilancarkan, Presiden Trump sudah memberi lampu hijau. Serangan ditunda karena kondisi cuaca tidak memungkinkan.
BBC melaporkan, sepanjang pekan Natal dan Tahun Baru 2026, prajurit AS sejatinya telah berada dalam ”mode” siaga penuh, menunggu perintah bergerak. ”Mereka siaga menunggu perintah Presiden untuk menyerang,” kata Caine.
Perintah Trump akhirnya diberikan pada Jumat malam, 22.46 waktu setempat dari Florida, Miami, atau Sabtu pagi di Jakarta. ”Kita akan menyerbu empat hari, tiga hari, dua hari lalu, dan tiba-tiba kita putuskan sekarang waktunya,” kata Trump dengan ceria di dalam acara stasiun TV Fox & Friends beberapa jam setelah serangan berakhir.
Perintah diberikan sesaat sebelum tengah malam agar militer beroperasi dalam senyap dan gelap. Trump menyaksikan serbuan itu secara langsung dari vila mewahnya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida. Dia ditemani Direktur CIA John Ratcliffe dan Menlu AS Marco Rubio.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/04/78bb9f25-dab6-46e2-8006-3b2723aa644c.jpg)
”Hal yang mengagumkan yang kami saksikan. Seandainya Anda ikut menonton. Saya menyaksikan detik demi detik kecepatan, serbuan, sungguh luar biasa. Betul-betul kerja yang mengagumkan dari prajurit kita,” kata Trump kegirangan di hadapan wartawan.
Sebelumnya, untuk mendukung serbuan itu, dalam beberapa bulan terakhir, ribuan serdadu AS dikerahkan di sekitar Karibia. Selain mengirim gugus tempur kapal induk dan belasan kapal perang, Pentagon juga mengerahkan ratusan pesawat tempur. Pergerakan itu adalah operasi militer terbesar yang dilakukan AS di kawasan Karibia.
Trump berdalih bahwa Maduro menjadi pelindung sindikat narkoba yang mengedarkan narkoba ke AS dan Eropa. Ancaman itu harus dipatahkan. Sebelum operasi Delta digelar pada Sabtu pagi, tercatat belasan kapal dan puluhan orang dihadang pasukan AS. Dalam sejumlah insiden, jatuh korban jiwa.
Sinyalemen serangan langsung ke daratan Venezuela menguat setelah kehadiran 150 pesawat tempur AS, termasuk siluman F-35, bomber, pesawat intai, dan drone yang dioperasikan malam hari menjelang hari-H.
”Operasi rumit karena melibatkan pendaratan dan berbagai jenis pesawat. Ada jet tempur yang terus siaga,” kata Trump kepada Fox News. Bagi Trump, Operasi Tekad Bulat itu merupakan sebuah sukses besar, tetapi dikecam para pemimpin kawasan.
Presiden Brasil Lula da Silva mengatakan, penangkapan Presiden Venezuela merupakan contoh tindakan ekstrem yang membahayakan masyarakat internasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/1d4a3623b51614018b0fea49d7b8abd9-APTOPIX_US_Venezuela.jpg)
Konggres AS pun murka karena Presiden Trump tidak memberitahukan rencana tersebut sesuai aturan di AS. Akan tetapi Trump berdalih, cara itu dilakukannya secara sengaja agar operasi tersebut tidak bocor dan demi elemen kejut.
Ketika operasi mulai dilancarkan, barulah Menlu Rubio memberi tahu para anggota Konggres adanya serangan yang dilancarkan AS ke Venezuela. ”Nicolas Maduro adalah diktator. Tapi melancarkan serangan militer tanpa izin Konggres adalah tindakan ceroboh,” kata pimpinan Partai Demokrat di Senat AS, Chuck Schummer.
Rubio di hadapan wartawan mengatakan, memberi tahu Konggres sebelum serangan dilancarkan dapat membahayakan operasi.
Di pengujung keterangannya tentang operasi militer AS, Trump mengatakan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan menghadapi keadilan di pengadilan AS atas tuduhan terorisme dan kejahatan narkotika. (REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul