Bos Mossad Turut Pantau Negosiasi Iran-AS di Roma

Bos Mossad David Barnea dikabarkan terbang ke Roma untuk bertemu Steve Witkoff, kepala tim perunding nuklir AS. Pertemuan itu terjadi di tengah isu serangan Israel.

23 Mei 2025 18:34 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

ROMA, JUMAT — Sebagaimana diberitakan, Iran dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Pertemuan tersebut digelar di Roma, Italia, Jumat (23/5/2025).

Putaran baru ini dibayangi oleh situasi sulit. Posisi kedua pihak ”saling berseberangan”. AS berkeras, menolak berkompromi dan menegaskan agar Iran meninggalkan semua proyek pengayaan uranium. Sementara itu, Iran menolak mundur dari program pengayaan uranium yang telah dilakukannya.

Teheran menegaskan, semua program nuklir Iran semata-mata untuk tujuan damai. Namun, di sisi lain, Teheran siap untuk berdialog dan meningkatkan kepercayaan para pihak, termasuk di dalamnya transparansi program nuklir mereka.

Seiring situasi yang masih ”rapuh” itu, media Israel, Times of Israel, Kamis (22/5/2025), memberitakan, Kepala Mossad David Barnea dan Menteri Urusan Strategis Pemerintah Israel Ron Dermer terbang ke Roma. Barnea disebutkan hendak bertemu langsung dengan Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump yang akan memimpin delegasi AS di Roma.

Times of Israel dalam laporannya menyebut, Barnea dan Dermer akan mengoordinasikan posisi Israel dan AS dalam perundingan tak langsung program nuklir Iran itu. Mereka, sebut laporan itu, akan diberi pengarahan langsung oleh delegasi AS segera setelah perundingan selesai.

Laporan media AS, Axios, menyebut, sumber-sumber mereka di kalangan pejabat pemerintah Israel mengakui bahwa ada perubahan sikap komunitas intelijen negara tersebut. Semula, komunitas intelijen meyakini bahwa perundingan Iran-AS yang difasilitasi Oman akan berujung pada kesepakatan. Akan tetapi, kini kondisinya telah berubah. Mereka meyakini tidak akan ada kesepakatan di antara kedua negara.

Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel tentang keberadaan Barnea dan Dermer di Roma serta rencana pertemuannya dengan Witkoff dan delegasi Washington. Akan tetapi, tiga hari lalu, CNN menyebut adanya laporan intelijen AS yang mengungkap potensi serangan militer Israel ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Intelijen AS menyebut mereka mengamati sejumlah pergerakan sistem pertahanan udara Israel serta jalur komunikasi intelijen Israel, baik terbuka maupun tertutup, sebelum menyimpulkan adanya potensi serangan.

This picture shows a magazine front page at a kiosk in Tehran on April 19, 2025, featuring the Iran-US talks on the Iranian nuclear programme set to begin in Rome on the same day. The United States and Iran are set to resume high-stakes talks on April 19 on Tehran's nuclear programme, a week after an initial round of discussions that both sides described as "constructive". (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Teheran telah melaporkan situasi ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Iran mengatakan, mereka akan mengambil langkah-langkah khusus untuk membela dan melindungi kepentingan rakyat Iran, termasuk di dalamnya program nuklir.

”Surat saya adalah peringatan pra-tindakan yang serius. Sifat, isi, dan cakupan tindakan kami akan sesuai dan proporsional dengan langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh badan-badan internasional, sesuai dengan tugas dan kewajiban hukum mereka,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di X.

Pada saat yang sama, Iran juga menekankan agar dunia internasional harus memberi tekanan yang sama terhadap Israel yang memiliki senjata nuklir. ”Tidak hanya membongkar persenjataan nuklirnya, Israel juga harus tunduk dan patuh pada perjanjian perlucutan senjata,” kata Araghchi, dilansir IRNA.

Sikap AS dan Iran

Sejauh ini, sikap AS dan Iran sama-sama keras. Di satu sisi, Amerika Serikat menegaskan bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium. Pengayaan itu dinilai akan membuka peluang bagi Iran untuk memiliki persenjataan nuklir.

Seorang wanita berjalan melewati mural yang menggambarkan versi tiruan dari Stempel Amerika Serikat, dengan elang memegang jarum suntik dan kartrid amunisi di cakarnya dan Bintang Daud yang dilukis di atas dengan obat-obatan dan senjata api lain di dekatnya, dilukis di dinding luar bekas kedutaan besar AS di Teheran, yang biasa disebut sebagai "Spy Den," pada 8 April 2025.

Sebaliknya, Teheran mengatakan nuklir yang mereka kembangkan hanya untuk memenuhi kebutuhan energi dan bertujuan damai. Bagi Iran, hal itu adalah hak segala bangsa. ”Kami tidak akan mundur dari hak kami. Program nuklir kami, termasuk pengayaan, harus dilanjutkan,” kata Araghchi.

Akan tetapi, Araghchi juga mengatakan, Iran bersedia bekerja sama dan membangun kepercayaan para pihak. ”Kami siap untuk mengadopsi langkah-langkah membangun kepercayaan dan transparansi serta menerima pemantauan yang lebih luas karena kami yakin dengan sifat damai program kami,” kata Araghchi, dilansir kantor berita Iran, IRNA.

Di platform X, Araghchi menegaskan sikap Iran tentang program nuklirnya. ”Nol senjata nuklir = kita MEMILIKI kesepakatan. Nol pengayaan = kita TIDAK memiliki kesepakatan. Saatnya membuat keputusan,” tulis Araghchi.

Foto yang dirilis Kantor Kepresidenan Iran, Minggu (18/5/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dalam Forum Dialog Iran di Teheran. Araghchi, Jumat (23/5/2025), berada di Roma untuk memimpin delegasi Iran berunding tentang program nuklir Iran dengan Amerika Serikat.

Situasi menjadi lebih kompleks setelah Kamis lalu Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru pada sektor konstruksi Iran. Sektor itu, menurut Washington, mengimpor material strategis bagi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta program pengayaan uranium Iran.

Material yang diklaim AS diimpor untuk program pengayaan uranium itu di antaranya adalah paduan nikel-kromium austenitik, ingot magnesium, natrium perklorat, tembaga tungsten, dan lembaran serta tabung aluminium.

”Dengan sanksi ini, AS memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi yang lebih luas untuk mencegah Iran mendapatkan material strategis di bawah IRGC dan juga program proliferasinya,” kata Deplu AS dalam pernyataannya, Kamis. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar