Boston Marathon dan Borobudur Marathon punya tantangan rute serupa. Namun, apa yang membuat kedua ajang itu terpisah dari banyak sisi, terutama gengsi kompetisi?
04 Des 2024 20:40 WIB · Olahraga
Pos medis di Kilometer 35 rute Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 terasa seperti wahana favorit di pasar malam. Nyaris setiap pelari melirik pos itu. Banyak yang memutuskan berhenti sejenak. Layanan pijat dari tenaga medis terlihat menggiurkan setelah bertarung habis-habisan di ”Tanjakan Cinta”.
Tepat sebelum tiba di pos itu, para pelari terlebih dulu melalui rute paling menyiksa dalam kategori maraton, yaitu jalan dengan elevasi tinggi dengan kecuraman 30-40 derajat yang dijuluki ”Tanjakan Cinta”. Menariknya, mereka masih dinanti tanjakan lain yang cukup menantang dalam perjalanan ke Km 37.
Delegasi Teknis World Athletic A Hakeem Mohd AM Al Ameri, dengan nada bercanda, sampai mengibaratkan tanjakan-tanjakan itu layaknya eskalator. Baginya, rute curam tersebut menjadi salah satu faktor penghalang Borobudur Marathon untuk naik level pada masa depan. Pelari sulit meraih catatan waktu terbaik.
Moses Mbugua Gaikarira, juara kategori maraton putra terbuka asal Kenya, contohnya. Laju larinya mengalami penurunan waktu drastis di Km 30-35, yaitu saat melewati ”tanjakan cinta”, dengan catatan 18 menit 24 detik. Adapun di tujuh titik pemeriksaan atau check point lain, setiap lima km, waktu tempuh sang pelari tidak pernah melampaui 17 menit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/25942fcc-b662-448c-a2f0-7540ffdeb148_jpg.jpg)
Gaikarira finis dalam 2 jam 20 menit 24 detik, jauh dari waktu terbaiknya 2 jam 10 menit 52 detik yang dihasilkan di Malaga, Spanyol, pada 2019. Catatan waktu itu sekaligus menjadi yang terburuk bagi sang pelari 38 tahun selama mengikuti lomba berpredikat label dari World Athletics. ”Catatan waktu penting untuk pelari elite,” kata Al Ameri seusai lomba, Minggu (1/12/2024).
Tantangan tersebut benar adanya, tetapi tidak mutlak. Lihat saja Boston Marathon, lomba lari jalan raya tahunan tertua di dunia yang sudah digelar sejak 1897. Mereka juga memiliki rute lomba yang sulit dengan naik dan turun elevasi sangat drastis. Namun, lomba di sana diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Boston Marathon, satu dari tujuh lomba yang masuk kasta tertinggi lomba sebagai World Marathon Majors, memiliki peningkatan elevasi sampai 248 meter. Elevasi itu lebih tinggi daripada Borobudur Marathon, yaitu 205 meter. Mereka punya ”Bukit Patah Hati”, tanjakan ekstrem di Km 32 dengan jarak sekitar 800 meter dan kenaikan elevasi 30 meter.
Kenapa Boston yang ada tanjakan luar biasa gila itu bisa menjadi ajang paling diinginkan banyak orang? Itu karena tantangan. (Odekta Elvina Naibaho)
Kesulitan rute di Boston tecermin dari catatan waktu. Tidak satu pun pelari dalam sepuluh edisi terakhir yang bisa finis di bawah 2 jam 5 menit. Bandingkan dengan Berlin Marathon, 9 dari 10 pemenang terakhir mencatat waktu di bawah 2 jam 5 menit. Tiga pelari di antaranya memecahkan rekor dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/08/08/d8050494-44fb-463e-870a-c7d60d902ffa_jpeg.jpg)
Bahkan, pelari berstatus dua kali peraih emas Olimpiade, Eliud Kipchoge, takluk saat debut di Boston Marathon pada 2023. Dia tidak menjadi juara untuk pertama kali setelah mendominasi sejak 2020.
Selain sulit, catatan waktu juga tidak akan masuk rekor dunia karena terdapat penurunan elevasi 137 meter yang melewati syarat penciptaan rekor.
Lantas, dengan segala tantangan dari rute tersebut, mengapa Boston Marathon begitu diminati pelari dari seluruh dunia? Jawabannya sangat beragam, yaitu mulai dari gengsi lomba karena mampu mendatangkan para pelari terbaik, punya nilai historis kuat, hingga keterlibatan penonton yang mencapai 500.000 orang.
Salah satu hal paling unik dari Boston Marathon adalah standar kualifikasi waktu. Pelari harus mencatat minimal waktu sesuai kategori usia dan jender untuk bisa mendaftar. Tidak sembarang orang bisa lolos. Syarat itu membuat lomba semakin bergengsi untuk para pelari rekreasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/7b8e573c-5d13-4eab-b3ee-811168988e7b_jpg.jpg)
Odekta Elvina Naibaho, pelari putri nasional yang merupakan langganan juara Borobudur Marathon, menghadirkan perspektif lain. Baginya, pelari elite tidak hanya fokus mengincar catatan waktu. Mereka terkadang berambisi mengikuti lomba karena persoalan gengsi, terutama jika bisa mengalahkan pelari hebat lainnya.
”Tergantung prioritas. Kenapa Boston yang ada tanjakan luar biasa gila itu bisa menjadi ajang paling diinginkan banyak orang? Itu karena tantangan. Untuk atlet, waktu memang bisa mundur. Tetapi, sebuah pencapaian hebat jika bisa menaklukkan tantangan (rute dan pesaing),” kata Odekta.
Borobudur Marathon menargetkan naik kelas ke ”Elite Label” pada satu atau dua tahun lagi. Artinya, kualitas pelari harus segera ditingkatkan. Di level itu, panitia harus mengundang minimal lima pelari dalam kategori putra dan putri dengan catatan waktu khusus. Pelari minimal punya catatan finis 2 jam 13 menit 31 detik di kategori putra.
Borobudur Marathon harus berakselerasi lebih cepat dari sisi kompetisi. Pada edisi 2024, mereka pertama kali mendapatkan predikat ”Label” dari World Athletic. Meskipun begitu, belum banyak perkembangan signifikan dari kualitas kompetisi, khususnya dalam persaingan level elite.
Jumlah pelari internasional bertambah dari sisi kuantitas peserta dan jumlah negara, tetapi tidak memengaruhi persaingan di podium. Hanya ada lima pelari putra, semua asal Kenya, yang bisa finis di bawah 2 jam 30 menit. Adapun di kategori putri, hanya ada satu pelari internasional dari Kenya yang bersaing untuk podium.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/15693a9b371991c926fdc4111dad2e78-1000455172.jpg)
Kualitas pelari menjadi jurang pemisah yang sangat lebar di antara kedua ajang tersebut. Borobudur Marathon masih terkesan rekreasional, mengutamakan wisata olahraga. ”Indonesia, termasuk BorMar, bisa saja seperti itu (Boston). Tetapi harus bisa mengundang pelari hebat yang datang, biar ada kebanggaan seperti di sana,” ucap Odekta kemudian.
Ada modal yang sama-sama dimiliki Boston Marathon dan Borobudur Marathon, yaitu keterlibatan aktif warga lokal sebagai penonton. Hal itu yang dirasakan oleh Al Ameri. Dia terpukau dengan berbagai atraksi dan suguhan dari warga lokal, seperti pertunjukan tarian adat hingga sajian makanan setempat di sepanjang rute.
Al Ameri belum pernah melihat keramahan warga sekitar dalam ajang lomba maraton, seperti di Magelang. Jika bisa meningkatkan level kompetisi dan memperbaiki akomodasi, Borobudur Marathon akan segera naik level. ”Tentu tidak mudah, tetapi ajang ini bisa punya potensi untuk bertumbuh jadi besar,” kata pria asal Qatar tersebut.
Meskipun ada kesamaan tantangan dan modal antara Boston Marathon dan Borobudur Marathon, terdapat perbedaan terbesar yang memisahkan keduanya. Itu adalah usia. Boston Marathon sudah berusia 127 tahun, sementara Borobudur Marathon baru menjalani tahun ke-8 sejak reinkarnasi pada 2017 silam.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari