Maroko dengan kolektivitas tim mampu menahan Brasil yang bertumpu dengan kualitas individu pemain. Brasil beruntung memiliki Vinicius yang datang sebagai penyelamat.
14 Jun 2026 10:07 WIB · Olahraga
AFP
NEW JERSEY, SABTU — Carlo Ancelotti dikenal sebagai pelatih yang piawai merangkai kecemerlangan individu-individu pemain jadi kesatuan istimewa. Namun, dalam debut kepelatihannya di Piala Dunia, sentuhan magis sang maestro belum terlihat berhasil bersama tim nasional Brasil.
Brasil ditahan Maroko 1-1 dalam laga pembuka Grup C di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) WIB. Sergapan Maroko di awal laga sempat berbuah keunggulan lewat penyerang Ismael Saibari, tetapi langsung dibalas megabintang Brasil, Vinicius Junior, hanya dalam rentang 11 menit.
”Saya pikir kami tidak memulai dengan baik, saya agak khawatir. Kami kalah dalam banyak duel dan kehilangan penguasaan, tetapi kami berkembang di paruh kedua. Maroko adalah tim yang bagus. (Apakah saya) puas? Tidak terlalu. Saya berharap awal yang lebih baik,” kata Ancelotti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/b554f2d259aafa62c6161904588ccbb7-wires_photo_2026_06_14T093024.329.jpg)
Skuad Brasil tampak mewah, banyak nama besar di dalam susunan 11 pertama. Duo pemain sensasional di Liga Spanyol, Vinicius dan Raphinha, mengisi sayap mereka. Di ujung tombak, terdapat striker Brentford, Igor Thiago, yang sukses mengguncang Liga Inggris pada musim terakhir.
Meskipun begitu, Maroko justru mampu menjadi tim yang paling agresif pada 30 menit awal. Setelah menghujani pertahanan Brasil dengan tembakan, mereka unggul lebih dulu pada menit ke-21 lewat serangan balik kilat yang dikreasikan oleh gelandang serang Real Madrid, Brahim Diaz.
Umpan Diaz membelah pertahanan garis tinggi Brasil. Saibari lolos di antara dua bek tengah lawan yang baru saja berlaga di final Liga Champions, yaitu Gabriel Magalhaes (Arsenal) dan Marquinhos (Paris Saint-Germain). Proses itu diakhiri cungkilan Saibari ke gawang kiper Alisson Becker.
Sebelum skor kembali imbang lewat aksi individu Vinicius pada menit ke-32, Maroko sudah menciptakan 12 tembakan. Catatan itu tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan Brasil. Achraf Hakimi dan rekan-rekan mampu memanfaatkan kesalahan tim lawan yang terlalu sering salah umpan.
Gelandang Brasil, Bruno Guimaraes, berkata, kesalahan dasar itu tidak lumrah terjadi. ”Kami membuat banyak kesalahan umpan, yang mana itu menyulitkan diri kami sendiri. Kami banyak menderita serangan balik karena itu. Saya pikir ada tekanan di laga pembuka, itu tidak mudah,” ujarnya.
Pertahanan Maroko, terutama dalam struktur blok tengah, terkenal rapi dan solid. Itu yang membawa mereka bisa melaju hingga semifinal di edisi Qatar 2022. Kendati demikian, tidak semestinya Brasil yang diisi para pemain kelas dunia banyak melakukan kesalahan umpan sederhana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/f989ba4113a1f416f2abd4c9645e2141-wires_photo_2026_06_14T093126.252.jpg)
Di tengah laga, Ancelotti yang biasanya sangat tenang berkali-kali terlihat reaktif saat bola dikuasai Vinicius di sisi kiri. Mantan pelatih Real Madrid itu meminta para pemain lain, baik Thiago atau gelandang serang Lucas Paqueta, bergerak ke sisi tersebut untuk memberikan bantuan.
Instruksi Ancelotti memperlihatkan, sistem serangan Brasil belum bekerja dengan otomatis. Para pemain masih beradaptasi dengan keinginan ”Don Carletto”, sapaan pelatih Italia itu. Wajar jika mereka masih terlalu mengharapkan keajaiban dari kecemerlangan individu pemain di sepanjang laga pertama.
Adaptasi sudah diperkirakan akan menjadi masalah utama tim ”Samba” di turnamen ini. Ancelotti baru saja ditunjuk sebagai pelatih pada Mei 2025. Setelah itu, dia baru pernah menukangi tim dalam delapan laga persahabatan. Mereka belum pernah berlaga kompetitif di bawah kepemimpinan Ancelotti.
Brasil bisa lebih mengontrol permainan selepas turun minum. Mereka menguasai hampir 70 persen bola pada 20 menit awal. Mereka juga hanya memberikan Maroko dua kali kesempatan menembak di paruh kedua, itu pun saat injury time. Hanya saja, serangan mereka masih monoton.
Salah satu dari sedikit hal positif yang bisa diambil Brasil adalah penampilan cemerlang Vinicius. Dia terpilih sebagai pemain terbaik laga setelah mengacak-acak sisi kanan pertahanan Maroko dengan dribelnya. Ancelotti kembali bisa memaksimalkan Vinicius, seperti saat masa-masa indah keduanya di Madrid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/502f9a2f7b87bb6802921f8d6fa8ea15-APTOPIX_Morocco_Brazil_WCup_Soccer.jpg)
Dengan hasil itu pula, Maroko kembali membuktikan diri sebagai kuda hitam yang patut diperhitungkan. ”Tidak mudah. Mereka merupakan salah satu favorit di turnamen ini. Kami bermain imbang, tetapi yang terpenting kami senang dengan performa kami. Kami akan terus berkembang,” kata Hakimi.
Di kubu Maroko, gelandang debutan berusia 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, sukses mencuri perhatian. Dia menjadi jangkar sekaligus jembatan yang menyeimbangkan lini tengah Maroko. Pemain LOSC Lille itu mencatat 91 persen akurasi umpan, 5 kali intersepsi, dan 9 kali menang duel. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan