Semua impor Brasil ke AS dikenai tarif 50 persen. Tidak jelas apa dasarnya.
10 Jul 2025 13:43 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, KAMIS — Ketidakjelasan dasar penentuan bea masuk impor ke Amerika Serikat kembali terlihat. Kali ini, semua impor tembaga dan seluruh komoditas dari Brasil dikenai bea masuk 50 persen.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan itu pada Rabu (9/7/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis (10/7/2025) dini hari WIB. Kapasitas produksi domestik hanya bisa mencukupi separuh kebutuhan tembaga AS. Tambang baru sudah lama tidak dibuka karena terhambat perizinan puluhan tahun.
Sementara tarif ke Brasil dijatuhkan karena menganggap Brasilia tak adil kepada Jair Bolsonaro. Mantan Presiden Brasil itu kerap dianggap sebagai ”Trump Kecil” karena kebijakannya meniru Trump.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan, Washington DC meraup surplus 410 miliar dollar AS dari berdagang dengan Brasil dalam 15 tahun terakhir. Kebijakan Trump, kata Lula, akan memicu pembalasan dari Brasil.
Ada UU yang memungkinkan Brasil menangguhkan kesepakatan perdagangan, investasi, dan perlindungan hak kekayaan intelektual dengan negara yang merugikan kepentingan Brasil. ”Brasil adalah negara berdaulat dengan lembaga-lembaga independen yang tidak akan menerima perlakuan remeh dari siapa pun,” kata Lula.
Sebelumnya, Trump mengirim surat terkait pengumuman tarif untuk Lula. Ia membuka surat dengan menyebut persidangan terhadap Bolsonaro adalah ”perburuan penyihir” atau tidak berdasar.
Trump lalu menyatakan, tarif ”resiprokal” untuk Brasil menjadi 50 persen, naik dari 10 persen. Tarif berlaku per 1 Agustus 2025. Dia juga memerintahkan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) untuk meluncurkan investigasi terkait praktik perdagangan tidak adil yang dapat menambah tarif lebih banyak lagi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/c4f45bfe-83a3-43cb-b04d-cf586719cc7b_jpg.jpg)
Dalam surat itu, Trump berkali-kali menekankan hubungan perdagangan kedua negara tidak adil bagi AS. Ia akan membalas jika Brasil ikut menaikkan tarif. Aksi Trump memperparah perseteruan publik yang semakin sengit dengan Lula.
Kenaikan tarif itu termasuk tinggi bagi mitra dagang AS dengan hubungan perdagangan yang seimbang. Brasil adalah mitra dagang terbesar ke-15 AS. Total perdagangan kedua negara sebesar 92 miliar dollar AS pada 2024. Menurut data USTR, AS mencatat surplus perdagangan sebesar 7,4 miliar dollar AS pada 2024.
Ekspor utama AS ke Brasil adalah pesawat komersial, produk minyak bumi dan minyak mentah, batubara, serta semikonduktor. Sementara itu, ekspor utama Brasil ke AS adalah minyak mentah, kopi, baja setengah jadi, dan besi kasar.
Brad Setser, analis di Council on Foreign Relations, mengatakan, aksi Trump dapat berubah menjadi perang dagang yang merugikan kedua negara. ”Hal ini menunjukkan bahaya penerapan tarif yang berada di bawah kendali unilateral satu orang. Ini terkait dengan fakta bahwa Lula mengalahkan teman Trump, Bolsonaro, dalam pemilu,” ujarnya.
Di samping Brasil, Trump telah mengirim surat kenaikan tarif kepada tujuh negara mitra dagang yang lebih kecil. Filipina kena tarif 20 persen, Sri Lanka 30 persen, dan Brunei Darussalam 25 persen. Surat-surat terbaru ini melengkapi 14 surat lainnya yang dikeluarkan awal pekan ini.
Selain itu, Trump segera mengenakan tarif 50 persen untuk tembaga setelah menaikkan tarif untuk baja dan aluminium. Dia juga akan segera memberlakukan pungutan lain terhadap semikonduktor dan farmasi.
”Saya mengumumkan tarif sebesar 50 persen untuk tembaga, berlaku efektif 1 Agustus 2025, setelah menerima penilaian keamanan nasional yang kuat,” tulis Trump di media sosial Truth Social.
Ia berkilah, pengenaan tarif didasarkan pada investigasi Departemen Perdagangan terhadap tembaga yang diluncurkan awal tahun ini. Trump pertama kali menyinggung tarif tembaga dalam rapat kabinet Selasa kemarin.
Dia mengatakan, tembaga dibutuhkan untuk semikonduktor, pesawat terbang, baterai kendaraan listrik, dan perangkat keras militer. Ia pun menyalahkan kemunduran industri tembaga AS pada pemerintahan pendahulu. ”Amerika akan, sekali lagi, membangun industri tembaga yang dominan. Ini adalah masa keemasan kita!” tulis Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/4a5bc2db-dab9-4fbb-9fc5-968d4cdb0410_jpg.jpg)
Aksi Trump memicu perusahaan-perusahaan mengimpor tembaga sebanyak mungkin dan sesegera mungkin dari Chile, Kanada, Meksiko, serta pemasok utama lainnya. AS sebetulnya bergantung pada impor untuk hampir setengah dari kebutuhan tembaga olahannya. Menurut Survei Geologi AS, AS mengimpor 810.000 metrik ton tahun 2024.
Chile, Kanada, dan Peru telah memberi tahu AS bahwa impor dari negara mereka tidak mengancam kepentingan AS sehingga tidak seharusnya terkena tarif. Ketiga negara ini memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS.
Bagi Trump, tarif yang tinggi ini dirancang untuk mendorong produksi di AS. Lebih dari dua pertiga tambang tembaga AS berada di Arizona. Adapun lokasi tambang besar baru yang direncanakan oleh perusahaan Rio Tinto dan BHP telah terhenti selama lebih dari satu dekade.
”Saya terkejut butuh waktu selama ini untuk menerapkan tarif tembaga. Ada tiga jenis tarif: sumber pendapatan baru, keamanan nasional, dan perubahan kebijakan, yang dipaksakan. Keamanan nasional adalah inti dari tarif tersebut,” ujar Ed Mills, analis kebijakan AS di Raymond James kepada CNN.
Sejauh ini, mayoritas surat Trump menyasar negara-negara Asia. Di antara negara-negara anggota ASEAN, Trump telah mengumumkan tarif pada hampir semua dari 10 anggota blok tersebut. Surat-surat itu juga lebih menjadi sorotan ketimbang kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke Asia, pekan ini.
Rubio berpartisipasi dalam pertemuan Menlu ASEAN (AMM) Ke-58 di Malaysia pada Kamis dan Jumat (11/7/2025). Menlu China Wang Yi dan Menlu Rusia Sergey Lavrov turut hadir.
Dalam pertemuan itu, tarif Trump menjadi topik pembicaraan para diplomat negara-negara Asia. Namun, para pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan, tarif dan perdagangan tidak akan menjadi fokus Rubio selama pertemuan tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/696b9265-3c07-4622-bd91-27b133f80347_jpg.jpg)
Padahal, Washington ingin meningkatkan hubungan dengan negara-negara Indo-Pasifik untuk melawan pengaruh China di kawasan tersebut. Dalam pertemuan AMM itu, Rubio akan menyoroti keselamatan dan keamanan maritim di Laut China Selatan serta kejahatan transnasional.
”Poin pembicaraan Rubio tentang ancaman China tak akan beresonansi dengan para pejabat yang industrinya terpukul tarif 30-40 persen. Pekan lalu, ketika Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan ASEAN akan menghadapi tantangan ’sebagai blok yang bersatu’—ia tidak berbicara tentang China, tetapi tarif AS,” kata Danny Russel, Wakil Presiden Asia Society Policy Institute.
Russel juga mencatat, Menlu China Wang Yi adalah veteran dalam pertemuan ASEAN sehingga paham tentang prinsip dan konvensi ASEAN. Adapun Rubio ”adalah seorang pemula yang mencoba menyampaikan pesan America First kepada audiens yang sangat skeptis”.
Di Kuala Lumpur, Rubio kemungkinan akan bertemu dengan para menlu dua musuh terbesar Amerika, yakni China dan Rusia. Para pejabat AS belum dapat memastikan apakah pertemuan mereka dapat terjadi selama waktu singkat, sekitar 36 jam, Rubio di Malaysia.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan