Bukan Lagi Realitas Janggal Ketika Timnas Bola Voli Putri Kian Tertinggal

Jika tak ada evaluasi signifikan, bukan tidak mungkin ketertinggalan timnas bola voli putri Indonesia di Asia Tenggara menjadi realitas yang lazim, tak lagi janggal.

03 Agt 2025 18:09 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Turnamen bola voli antarnegara Asia Tenggara, SEA V League 2025, masih menyisakan satu putaran. Namun, hasil buruk sepanjang putaran pertama dan rentetan kekalahan dari turnamen-turnamen sebelumnya kian menegaskan, tim nasional bola voli putri Indonesia kian tertinggal di Asia Tenggara. 

Hal ini bukan lagi realitas yang janggal. Inilah realitas yang sesungguhnya soal kualitas timnas bola voli putri Indonesia saat ini. Jangankan kembali mendominasi Asia Tenggara, untuk bersaing di tiga besar saja Indonesia kelimpungan. 

Kekalahan dari Filipina dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25) di SEA V League 2025 putaran pertama bukan hanya mengulang kepahitan musim lalu. Hasil negatif dalam laga yang digelar di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025), itu juga memastikan Indonesia pulang sebagai juru kunci, tanpa poin, tanpa kemenangan. 

Sebelumnya, Indonesia kalah telak dari Vietnam, 0-3 (11-25, 11-25, 22-25), pada pertandingan pertama, Jumat. Lalu, keesokan harinya, Megawati Hangestri Pertiwi dan kawan-kawan kalah dengan skor 1-3 (25-22, 15-25, 25-27, 12-25) dari Thailand. 

Pemain timnas bola voli putri Indonesia, Mediol Yoku, melepaskan pukulan ke arah Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).

Hanya empat tim yang berlaga di SEA V League, yakni Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Dari empat tim itu, Indonesia adalah tim dengan posisi paling rendah. Padahal, turnamen yang digelar dalam dua putaran ini adalah cerminan paling nyata untuk SEA Games Thailand 2025. 

Sudah lebih dari empat dekade berlalu sejak Luciana Taroreh dan kawan-kawan mengantarkan timnas bola voli putri meraih medali emas SEA Games. Medali dari SEA Games Singapura 1983 itu masih menjadi emas satu-satunya bagi Indonesia hingga saat ini. 

Jika bicara soal medali emas terlampau jauh, mari bicara soal perak dan perunggu. Sejak perak di SEA Games Kuala Lumpur 2017, Indonesia kesulitan lagi menembus final turnamen antarnegara Asia Tenggara. 

Pada SEA Games terakhir di Kamboja 2023, timnas putri masih membawa pulang medali perunggu. Seperti dua SEA Games edisi sebelumnya, Indonesia mengalahkan Filipina dalam pertandingan perebutan posisi ketiga. 

Namun, alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak tahun lalu ketika di SEA V League 2024. Saat itu, Indonesia gagal total dengan finis peringkat keempat. Indonesia kalah bersaing dengan Filipina yang bangkit lagi menuju dominasi seperti pada tahun 1970-an. 

Pemain timnas bola voli putri Indonesia, Ersandrina Devega Salsabila, berusaha menerima bola kontra Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).
Pemain timnas bola voli putri Indonesia (jersei hitam) berusaha mengeblok bola Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).
Pemain timnas bola voli putri Indonesia, Arsela Nuari, mengeblok bola Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).
Pemain timnas bola voli putri Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan sebelum laga kontra Filipina di SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).

Indonesia kalah 1-3 dan 2-3 dari Filipina di SEA V League 2024. Timnas putri kembali menelan kekalahan dari Filipina di turnamen antarnegara Asia, AVC Nations Cup 2025, Juni lalu. Indonesia kalah 1-3 dan hanya bisa finis di posisi kelima, sedangkan Filipina keluar sebagai runner up. 

”Kalau lawan Filipina itu wajib menang. Karena dalam sejarahnya, timnas putri ini baru tahun kemarin kalah dari Filipina di SEA V League. Kemarin di AVC Nations Cup juga kalah karena persiapan minim dan materi pemain juga tidak lengkap,” kata Octavian, pelatih timnas putri, sebelum SEA V League. 

Akan tetapi, tekad membalas kekalahan saja tak cukup. Bahkan dengan skuad lebih lengkap dan kuat karena kehadiran dua opposite andalan, Megawati Hangestri dan Arsela Nuari, Indonesia masih sulit mengembalikan kejayaan atas Filipina. 

Kekalahan dari Filipina dan terlempar dari tiga besar persaingan di Asia Tenggara perlahan menjadi kenyataan yang lazim, bukan suatu keanehan lagi bagi Indonesia. Terlebih, setiap turnamen selalu dipersiapkan secara tidak maksimal yang terlihat dari waktu pemusatan latihan yang singkat. 

Pemain timnas bola voli putri Indonesia, Arsela Nuari, melepaskan pukulan ke arah Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).

Saat AVC Nations Cup, persiapan tim kurang dari dua minggu. Belum lagi, skuad tidak lengkap karena beberapa pemain yang dipanggil absen, termasuk Megawati. 

Outside hitter timnas putri, Ersandrina Devega, mengatakan, persiapan menuju SEA V League bisa dibilang lebih baik karena waktunya lebih panjang. Hal itu lantaran para pemain sudah berlatih lebih lama apabila dihitung sejak AVC Nations Cup. 

Namun, skuad sebenarnya baru berlatih secara lengkap hanya beberapa hari menjelang keberangkatan. Devega tak memungkiri, waktu latihan lengkap yang singkat akan berpengaruh pada chemistry ketika bermain. Persoalannya, persiapan yang minim ini selalu berulang. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia boleh saja nyaman sebagai langganan tiga besar di Asia Tenggara. Jika menilik dari hasil SEA Games, sejak edisi 2007 di Thailand, Indonesia selalu berada di podium bersama Thailand dan Vietnam. Thailand selalu keluar sebagai juara, sedangkan Indonesia hanya bisa sekali menjadi penantang di final.

Pemain timnas bola voli putri Indonesia, Ersandrina Devega Salsabila, menerima bola kontra Filipina dalam laga terakhir SEA V League 2025 putaran pertama di Terminal 21 Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu (3/8/2025). Indonesia kalah dengan skor 1-3 (20-25, 20-25, 25-16, 13-25).

Sisanya selalu Vietnam yang bisa melaju ke partai final dan memperebutkan gelar juara dengan Thailand. Adapun Indonesia bergantian dengan Myanmar dan Filipina pada laga perebutan peringkat ketiga.

Akan tetapi, dengan rentetan kekalahan, terutama dari Filipina, dalam beberapa pertemuan terakhir, evaluasi menyeluruh penting dilakukan. Apalagi, jika timnas putri ingin tampil dan kembali naik podium di SEA Games. Jangan sampai, keluar dari persaingan tiga besar ini menjadi realitas yang tak lagi janggal bagi timnas dan penggemar bola voli Tanah Air.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari