Kemenangan Barca atas Valencia meneguhkan dominasi Hansi Flick atas Corberan. Pelan tapi pasti, Flick mulai membunuh ego para pemain demi mempertahankan gelar juara.
15 Sep 2025 08:04 WIB · Olahraga
BARCELONA, SENIN — Hansi Flick semakin meneguhkan diri sebagai kryptonite alami bagi Carlos Corberan. Valencia arahan Corberan kembali dibuat tidak berdaya setelah kalah telak 0-6 dari Barcelona pada laga Liga Spanyol di Stadion Johan Cruyff, Barcelona, Senin (15/9/2025) dini hari WIB. Kemenangan besar atas Valencia sekaligus menandai kembalinya Barcelona versi musim lalu.
Barca memulai musim baru dengan kurang meyakinkan usai ditahan imbang Rayo Vallecano pada pekan ketiga Liga Spanyol. Pelatih Barcelona Hansi Flick menuding ego dari para pemain menghambat tim mengeluarkan performa terbaiknya. Dari sana terlontarlah kalimat bahwa ego bisa membunuh kesuksesan Barca. Kalimat tersebut menjadi pembicaraan luas di Catalan dalam dua pekan terakhir.
Flick lantas memanfaatkan laga melawan Valencia sebagai momentum katarsis tim. Ia menerapkan tangan besi. Secara mengejutkan, dia membangkucadangkan Raphinha yang selama ini menjadi andalan lini serang Barca. Posisinya digantikan Marcus Rashford. Flick menepikan Raphinha karena terlambat tiba pada sesi latihan tim.
Hukuman denda bagi pemain yang terlambat tiba latihan telah diganti dengan larangan bermain. Bagi pemain Barca, membayar denda adalah hal yang tidak sulit. Situasinya menjadi lain jika mereka terancam tidak mendapatkan menit bermain. Sanksi seperti itu dinilai lebih efektif dibandingkan membayar sejumlah uang.
Selain Raphinha, pemain lain yang pernah dihukum Flick karena terlambat adalah Jules Kounde dan Inaki Pena. Pelatih asal Jerman itu tidak pandang bulu dalam menegakkan disiplin. Ia memandang ketepatan waktu sebagai hal yang penting bagi kesatuan tim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/15/06ea66f1-3bc3-4b5b-b2d4-2f59108121e3_jpg.jpg)
Dari sanalah kemudian timbul rasa saling menghormati. Tangan besi Flick ini mencerminkan penekanannya yang lebih luas pada disiplin, ketertiban, dan profesionalisme. Prinsip-prinsip itu sudah ia bawa dari sejak menangani Bayern Muenchen.
Hasilnya, Barca mampu tampil baik lagi sebagai satu kesatuan tim. Menghadapi Valencia yang tampil bertahan dalam formasi 5-4-1, permainan kolektif Barca sukses membongkar tembok kokoh Valencia. Pelatih Valencia Carlos Corberan menggunakan pendekatan bertahan karena tahu Barca kerap membangun serangan secara vertikal. Dengan menumpuk pemain di belakang, Corberan berharap bisa menangkal serangan-serangan vertikal Barca.
Namun, kenyataannya tidak berjalan sesuai perkiraan Corberan. Dengan bermain kolektif, para pemain Barca bisa mengurai pertahanan Valencia. Gol pertama Barca yang dilesakkan Fermin Lopez pada menit ke-29 memperlihatkan bagaimana kolektivitas tim sangat ampuh digunakan untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Gol Barca bermula dari taktik sang juara bertahan di sisi kanan pertahanan Valencia. Rashford dan Gerarrd Martin memancing dua bek Valencia keluar dari posisinya. Saat tercipta celah, Fermin berlari mengeksploitasinya. Kecepatan Fermin tidak bisa diimbangi Mouctar Diakaby sehinga ia bisa dengan mudah menaklukkan kiper Valencia, Julen Agirrezabala, dari jarak dekat.
”Permainan Fermin bagus sekali. Namun, ini bukan cuma (peran) dia. Seluruh tim terlibat dan itu yang paling penting,” ujar Flick dikutip dari Diario AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/15/8055fdb7-06e6-45fe-87ae-b0799dcc15e8_jpg.jpg)
Di babak kedua, Flick mencabut hukuman Raphinha dengan mengutusnya ke lapangan menggantikan Roony Bardghji. Masuknya Raphinha menambah ketajaman lini serang Barca di sector sayap. Kombinasi dua pemain sayap tersebut langsung membuahkan hasil pada menit ke-53 saat Raphinha menggandakan keunggulan Barca memanfaatkan umpan silang terukur Rashford.
Para pemain Valencia seketika kehilangan daya juang setelah tertinggal cukup jauh. Pertahanan kokoh yang mereka rencanakan mampu diporak-porandakan permainan kolektif ”Blaugrana”.
Rekor pertemuan sebelumnya yang lebih memihak Barca turut memengaruhi psikis para pemain Valencia sehingga terus kebobolan lewat gol Fermin pada menit ke-56, Raphinha (menit ke-66), dan Robert Lewandowski (menit ke-76 dan ke-86).
Meratanya para pencetak gol Barca di laga ini turut membuktikan kembalinya semangat kolektif tim. Pendekatan disiplin Flick nyatanya ampuh untuk membunuh ego para pemain sehingga mereka bermain secara kesatuan, tidak soliter. Kondisi ini mengingatkan para penggemar terhadap wujud Barca musim lalu yang mengandalkan kolektivitas tim untuk menjuarai liga.
Sementara bagi Corberan, kekalahan ini menjadi yang ketiga beruntun dari Flick. Hal yang lebih menyakitkan lagi, ketiga kekalahan itu didapat dengan skor sangat telak. Dalam tiga pertemuan dengan Barca arahan Flick, Corberan telah kebobolan 18 gol dengan hanya mampu mencetak satu gol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/15/24fd4e49-e348-4054-a8d8-eaa1b21ffad3_jpg.jpg)
”Barca mengungguli kami dalam permainan dan duel di babak kedua. Saat masuk ke dalam permainan, kami justru kebobolan gol pertama. Pertahanan kami rapat dan pergerakan kami bagus, tetapi gagal mencegah gol kedua. Setelah gol ketiga, tim berantakan. Kami berantakan,” kata Corberan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan