Bupati Bekasi Ade Kuswara, Kepala Daerah Kelima Hasil Pilkada 2024 yang Kena OTT KPK

Hingga kini, KPK masih memeriksa Bupati Bekasi Ade Kuswara di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Ade termasuk politisi muda yang terpilih di Pilkada 2024. Usianya kini baru 32 tahun.

19 Des 2025 09:20 WIB · Politik & Hukum

Oleh Hidayat Salam

JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK mengungkapkan, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang merupakan salah satu dari 10 orang yang terjaring dalam operasi tangkap tangan atau OTT di wilayah Bekasi, Jawa Barat, Kamis (18/12/2025). Belum diketahui secara pasti kasus yang tengah diusut KPK sehingga dilakukan OTT. Penyelidikan masih berlangsung.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, melalui keterangan tertulis kepada wartawan, membenarkan Ade Kuswara telah diamankan oleh tim KPK beserta sembilan orang lainnya. Hingga kini, KPK masih memeriksa Bupati Bekasi tersebut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. 

”Benar, salah satunya. Masih dilakukan pemeriksaan di dalam,” ujar Budi, Jumat (19/12/2025). 

Ade Kuswara merupakan politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ia terpilih dari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 dan baru menjabat sebagai bupati sejak 20 Februari 2025. Sebelum menjabat bupati, politisi muda yang kini berusia 32 tahun itu pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi masa jabatan 2019-2024 dan 2024-2029.

Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang dalam salah satu kegiatan Pemkab Bekasi.

Hingga kini, detail kasus yang tengah diselidiki KPK belum diungkap. Namun, Budi memastikan, dalam OTT KPK di wilayah Bekasi itu, tim KPK telah menangkap sekitar 10 orang terkait kasus tersebut.

”Sampai dengan saat ini, tim sudah mengamankan sekitar sepuluh orang,” ucapnya. 

Sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), KPK memiliki waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status hukum dari para pihak yang diamankan tersebut.

Sebelum itu, KPK perlu melakukan gelar perkara (ekspose) internal sebelum memutuskan apakah status mereka akan dinaikkan menjadi tersangka. Konferensi pers terkait penetapan tersangka dan detail kasus dijadwalkan akan digelar setelah pemeriksaan intensif selesai dilakukan.

Jika kelak ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan KPK, Ade Kuswara akan menjadi kepala daerah kelima yang ditangkap dalam OTT KPK tahun ini. Sebelumnya, OTT KPK menangkap Bupati Kolaka Timur Abdul Azis, Gubernur Riau Abdul Wahid, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, dan Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya. Semuanya hasil Pilkada 2024 dan baru menjabat sejak Februari lalu.

Petugas KPK menunjukkan barang bukti OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya dan empat tersangka lainnya di ruang ekspos Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (11/11/2025). Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya bersama empat tersangka lain terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Lampung. KPK menangkap mereka terkait gratifikasi proyek pengadaan barang dan jasa. Empat tersangka lain adalah anggota DPRD Lampung Tengah Riki Hendra Saputra, adik bupati Ranu Hari Prasetyo, Plt Kepala Bapeda Lampung Tengah Anton Wibowo, dan Direktur PT Elkaka Mandiri Mohammad Lukman Sjamsuri. KPK menduga nilai total aliran uang yang diterima Ardito Wijaya mencapai Rp 5,75 miliar, dengan rincian Rp 500 juta untuk operasional pribadi dan Rp 5,25 miliar untuk melunasi utang kampanye Pilkada 2024.KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO11-12-2025

Tiga OTT dalam sehari

Sejak Rabu (17/12/2025) malam hingga Kamis (18/12/2025) malam, KPK melakukan tiga operasi tangkap tangan atau OTT. Selain di Bekasi, lembaga antirasuah itu juga menggelar OTT di Kalimantan Selatan serta wilayah Jakarta dan Banten. Dalam OTT di Kalimatan Selatan, misalnya, petugas KPK menangkap enam orang. 

Adapun dari OTT KPK di Banten dan Jakarta, petugas KPK menangkap sembilan orang, di antaranya seorang jaksa dan dua pengacara.

”Tim mengamankan sembilan orang di wilayah Banten dan Jakarta. Satu merupakan aparat penegak hukum, 2 merupakan penasihat hukum, dan 6 lainnya pihak swasta,” kata Budi.

Dalam operasi tersebut, tim KPK turut menyita uang tunai yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi. ”Selain mengamankan sembilan orang tersebut, tim juga mengamankan barang bukti sejumlah uang dalam bentuk tunai sekitar Rp 900 juta,” ujar Budi.

Wakil Ketua DPRD Ogan Komering Ulu Parwanto (kiri depan) bersama tiga tersangka baru lainnya dalam kasus dugaan suap proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tiba di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (20/11/2025). Empat tersangka baru kasus dugaan suap proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tahun anggaran 2024-2025 yakni Wakil Ketua DPRD Kabupaten OKU Parwanto, anggota DPRD Kabupaten OKU Robi Vitergo, wiraswasta Ahmat Thoha, dan swasta Mendra SB. Keempat tersangka dibawa ke KPK untuk penahanan, setelah sebelumnya KPK telah melakukan pemeriksaan terhadap mereka di Sumatera Selatan. Kasus suap proyek PUPR di OKU ini bermula OTT KPK terhadap 6 tersangka pada Maret 2025.KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO20-11-2025

Saat ini, kesembilan orang yang ditangkap masih menjalani pemeriksaan intensif. KPK tengah melakukan gelar perkara (ekspose) untuk menentukan status hukum mereka serta merinci kronologi kasusnya.

Dengan tiga OTT itu, total KPK kini sudah melakukan 11 OTT sepanjang tahun ini.

OTT pertama KPK tahun ini dibuka pada Maret 2025 saat tim KPK bergerak ke Sumatera Selatan. Dalam operasi tersebut, sejumlah anggota DPRD dan pejabat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Ogan Komering Ulu ditangkap terkait dugaan suap proyek infrastruktur.

Pada Juni 2025, OTT KPK membongkar praktik rasuah di Dinas PUPR Provinsi Sumut dan Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Sumut terkait suap proyek pembangunan jalan.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko digiring petugas Komisi Pemberantasan Korupsi saat bersama para tersangka kasus suap mutasi dan promosi jabatan di Kabupaten Ponorogo lainnya tiba di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Sabtu (8/11/2025). KPK melakukan operasi tangkap tangan kasus suap mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Kabupaten Ponorogo pada Jumat (7/11/2025). Salah satu tersangka yang ditangkap dalam OTT ini adalah Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. KPK menangkap 13 tersangka dalam OTT tersebut. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
8-11-2025

Intensitas OTT meningkat tajam pada Agustus 2025 dengan tiga operasi berturut-turut. Pada 7-8 Agustus 2025, KPK melakukan operasi simultan di Jakarta, Kendari, dan Makassar terkait korupsi proyek RSUD Kolaka Timur. Dalam operasi ini, Bupati Kolaka Timur Abdul Azis ikut ditangkap. Tak lama kemudian, pada pertengahan Agustus, KPK menggelar OTT di Jakarta terkait suap kerja sama pengelolaan kawasan hutan.

Selanjutnya, pada akhir Agustus, OTT KPK menangkap Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan. Pria yang akrab disapa Noel ini terjerat dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikasi K3 di Kementerian Ketenagakerjaan.

Kemudian, pada November 2025, Gubernur Riau Abdul Wahid terjaring OTT terkait dugaan pemerasan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Beberapa hari setelahnya, KPK menangkap Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko terkait jual beli jabatan dan gratifikasi di RSUD Harjono.

OTT juga digelar KPK di Lampung pada pekan lalu. Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya ditangkap atas dugaan penerimaan hadiah dan gratifikasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hidayat Salam
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto