Pengurus Cabor Masih Dihantui Ketidakjelasan Jelang SEA Games 2025

Kemenpora beralasan, tim reviu masih harus menganalisis hasil peninjauan cabang olahraga demi memastikan target medali di SEA Games Thailand 2025 terpenuhi.

06 Nov 2025 20:30 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Proses penentuan kontingen Indonesia untuk SEA Games Thailand 2025 tak kunjung selesai, pemilihan atlet pun berpotensi masih dinamis. Kementerian Pemuda dan Olahraga beralasan, tim reviu masih harus menganalisis dengan cermat hasil peninjauan demi memastikan target medali terpenuhi. Dampaknya, cabang olahraga masih dihantui ketidakjelasan jelang ajang yang penyelenggaraannya tinggal sebulan lagi itu.

Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Surono menyampaikan, proses reviu total 52 cabang olahraga sebenarnya sudah selesai pada 31 Oktober lalu. Peninjauan akhir ini melibatkan tim pakar, praktisi olahraga, serta perwakilan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Namun, proses penentuan kontingen Indonesia untuk SEA Games pada 9-20 Desember 2025 itu belum rampung. Sebab, tim reviu masih perlu melakukan analisis, terutama untuk menentukan potensi medali cabang-cabang olahraga beregu dan bela diri. Setelah analisis, tim reviu masih akan rapat dengan Kemenpora pada pekan depan dan melakukan penentuan final pada rapat pleno.

”Di situlah (rapat pleno) bisa diumumkan jumlah pasti target yang ditetapkan dan berapa medali, di situ akan kelihatan,” kata Surono dalam konferensi pers di ruang media Kemenpora, Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Surono, menyampaikan keterangan pers di ruang media Kemenpora di Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Pada September lalu, tim reviu sebenarnya sudah melakukan tugas dengan peninjauan terhadap 52 cabang olahraga yang diproyeksikan tampil di SEA Games 2025. Namun, dibandingkan keikutsertaan ajang multicabang sebelumnya, reviu kali ini dilakukan berulang. Menurut Surono, hal itu tak lepas dari upaya untuk memastikan potensi medali dari tiap-tiap cabor.

Apalagi, Kemenpora memiliki target setidaknya mempertahankan peringkat ketiga klasemen akhir perolehan medali. Untuk bisa meraih posisi itu, kata Surono, Indonesia minimal harus mendapatkan 13,84 persen sampai 15,90 persen medali emas dari total 577 medali yang diperebutkan. Artinya, Indonesia butuh lebih dari 79 medali emas.

Sementara itu, potensi medali Indonesia yang baru terdata saat ini adalah 78 medali emas. Angka itu muncul dari cabor yang menghasilkan 46 medali emas di SEA Games Kamboja 2023 dan 32 medali emas dari cabor yang baru muncul lagi di SEA Games Thailand 2025. Beberapa di antaranya potensi medali emas yang baru itu adalah dari panahan, kano, perahu naga, dan rowing.

Akan tetapi, ketika ditanya tolok ukur penentuan cabor dan atlet yang akan berangkat ke SEA Games, Surono mengatakan bahwa ukurannya adalah potensi raihan medali, apa pun jenis medalinya. Padahal, hanya medali emas yang perannya signifikan dalam penentuan posisi klasemen.

Infografik Rasio Perolehan Medali Emas Kontingen Indonesia pada SEA Games 2011-2021

Di sisi lain, analisis yang dilakukan tim reviu ini juga berpotensi membuat penunjukan cabor dan atlet lebih dinamis. Surono mengklaim, sejumlah nama atlet sebenarnya sudah masuk ke dalam daftar panjang (long list) atau entry by number peserta SEA Games.

Jika merujuk pada lini masa SEA Games, batas entry by number adalah pada akhir Juni lalu. Indonesia tercatat mendaftarkan 1.548 atlet. Adapun batas waktu entry by name atau daftar pendek adalah pada 1 September. ”Long list itu, ya, bisa berkurang bisa bertambah, tergantung nanti hasil analisisnya,” ujar Surono.

Padahal, cabor-cabor sudah menentukan atlet yang akan berlaga di SEA Games mendatang. Bulu tangkis, misalnya, mengirim 10 atlet putra dan 10 putri. Sebagian besar atlet, terutama pada sektor putra, merupakan pemain muda sekaligus debutan di ajang multicabang.

Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada pemain muda mendapatkan jam terbang dan merasakan tekanan ajang multicabang. Keputusan itu diambil sebagai bagian dari program regenerasi jangka panjang.

Atlet panjat tebing Jawa Timur, Alma Ariella, berlomba di final nomor boulder beregu putri PON Aceh-Sumut 2024 di kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (19/9/2024).

Hal serupa diterapkan cabor unggulan lain, yakni panjat tebing, yang menentukan total 18 atlet untuk tiga disiplin, yakni speed, lead, dan boulder. Sebagian besar dari mereka merupakan atlet muda yang belum pernah merasakan atmosfer ajang multicabang.

Namun, analisis tim reviu belum tentu sejalan dengan keputusan cabor itu. Jika panjat tebing, misalnya, dibiarkan mengirim kombinasi pemain senior dan yunior karena peluang meraih medali dinilai tetap besar meski tidak menurunkan skuad utama, berbeda halnya dengan bulu tangkis.

”Di bulu tangkis sendiri kemarin saat reviu itu juga ada perkembangan yang sangat signifikan, yaitu mereka akan menurunkan juga atlet-atlet terbaik. Karena Malaysia-Thailand itu ternyata juga skuad terbaik,” kata Surono.

”Makanya, sekarang disepakati antara tim reviu dan PBSI akan ada beberapa pergantian pemain yang terbaik masuk di situ. Ini sedang proses untuk pengusulan perubahan, yaitu secara teknis, dari pengurus besar (PB) langsung ke KOI dan kami juga mengawal jalannya administrasi yang ada, baik dari PB maupun dari KOI, untuk bisa mendaftarkan kembali ke panita di Bangkok,” paparnya.

Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, melakukan percobaan kedua angkatan clean and jerk pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Adapun cabor unggulan lain, angkat besi, juga masih berada dalam ketidakpastian. Mereka mengusulkan 12 atlet yang merupakan hasil seleksi nasional. Manajer tim angkat besi Indonesia, Pura Darmawan, mengatakan, daftar 12 atlet itu sudah diajukan untuk direviu pada akhir Agustus 2025.

Setelah itu, pihaknya kembali menjalani reviu pada pekan lalu. ”Kami berharap tidak ada perubahan untuk atlet yang berangkat,” ucap Pura.

Adapun atletik juga masih menunggu hasil reviu Kemenpora. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung mengatakan, daftar atlet masih belum bisa dipublikasikan karena masih dalam peninjauan Kemenpora.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra