Penularan campak yang merebak di sejumlah daerah turut dipengaruhi oleh cakupan imunisasi yang rendah dan tidak merata.
21 Agt 2025 20:12 WIB · Kesehatan
JAKARTA, KOMPAS — Kasus campak merebak di sejumlah daerah di Indonesia. Sebanyak 40 kejadian luar biasa telah dilaporkan sepanjang tahun 2025. Cakupan imunisasi yang tidak merata serta capaian imunisasi yang tidak optimal menjadi penyebab penularan campak yang meluas.
Data Kementerian Kesehatan sampai minggu ke-32 atau sekitar awal Agustus 2025 mencatat, 40 kejadian luar biasa telah dilaporkan di 37 kabupaten/kota di Indonesia. Secara nasional, kasus suspek yang tercatat mencapai 22.074 kasus dengan kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 3.282 kasus.
Kasus paling banyak ditemukan pada usia 1-4 tahun (45 persen) dan 5-9 tahun (33 persen). Sementara wilayah dengan kasus terkonfirmasi paling banyak dilaporkan di Jawa Timur (842 kasus), Aceh (623 kasus), Sumatera Utara (450 kasus), dan Jawa Barat (371 kasus).
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine dihubungi di Jakarta, Kamis (21/8/2025), mengatakan, peningkatan kasus campak serta terjadinya kejadian luar biasa di sejumlah daerah menambah beban bagi masyarakat, tenaga kesehatan, dan negara. Penularan ini juga turut meningkatkan angka kesakitan dan kematian, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
”Penyebab KLB ini adalah cakupan imunisasi yang belum optimal. Artinya, cakupan belum tinggi dan merata. Untuk mendapatkan perlindungan yang optimal, setiap anak harus minimal mendapatkan dua kali imunisasi,” tuturnya.
Penyebab KLB ini adalah cakupan imunisasi yang belum optimal. Artinya, cakupan belum tinggi dan merata.
Prima menambahkan, turunnya cakupan imunisasi pada tahun 2024 membuat herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap campak menjadi tidak tercapai. Untuk mencapai target kekebalan kelompok, cakupan imunisasi lengkap harus lebih dari 95 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/4b2f49454a6397284df7034588691a3e-WhatsApp_Image_2025_08_21_at_4.41.08_PM.jpeg)
Namun, sejak 2023, cakupan imunisasi campak tidak mencapai target. Cakupannya justru menurun. Pada 2023, cakupan imunisasi campak-rubella sampai dosis kedua sebesar 86,6 persen. Sementara pada 2024, cakupan sampai dosis kedua sebesar 82,3 persen.
Oleh sebab itu, Prima menuturkan, Kementerian Kesehatan terus mengingatkan agar pemerintah daerah, termasuk dinas kesehatan di daerah, melakukan upaya imunisasi kejar untuk melengkapi imunisasi dari anak-anak yang belum pernah atau belum lengkap imunisasinya.
Saat ini, Kementerian Kesehatan juga tengah menyiapkan surat edaran (SE) kewaspadaan terhadap peningkatan kasus dan KLB campak untuk kepada dinas kesehatan di seluruh daerah. Surat edaran ini diharapkan bisa menjadi acuan kewaspadaan dini terhadap adanya peningkatan kasus campak dan respons penanggulangan KLB campak.
”Kita juga harapkan bisa meningkatkan dukungan dan kerja sama pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan KLB campak yang terpadu dan komprehensif,” kata Prima.
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang menyebar melalui udara dari percikan cairan dari saluran napas yang keluar bersama batuk dan bersin. Gejala campak dapat berupa batuk, pilek, mata meradang, sakit tenggorokan, demam, dan ruam kulit berbercak kemerahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/29bb9abe-488a-4f4c-a848-63217f290cf0_jpeg.jpg)
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi campak. Obat yang diberikan lebih untuk meringankan gejala. Jika daya tahan tubuh baik, pasien campak umumnya akan sembuh tanpa pengobatan. Namun, komplikasi bisa terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah maupun dengan kondisi malanutrisi.
Komplikasi yang serius, mulai dari dehidrasi akibat diare dan mutah, infeksi telinga, radang paru-paru, radang otak, hingga kebutaan. Komplikasi yang berat paling berisiko bagi anak usia di bawah lima tahun. Penularan kepada ibu hamil dapat pula berdampak pada kehamilan yang menyebabkan bayi lahir prematur dan risiko fatal lainnya.
Secara terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menuturkan, kewaspadaan perlu ditingkatkan di daerah-daerah yang telah melaporkan KLB campak. Penyelidikan epidemiologi lanjutan harus dilakukan untuk mencari sumber penularan dan kontak erat kasus campak.
Selain lewat imunisasi, upaya lain pun perlu dijalankan secara bersamaan pada anak-anak yang diduga campak, mulai dari perbaikan gizi, pengendalian infeksi, hingga komunikasi risiko di masyarakat. Vitamin A juga diberikan untuk mencegah sakit berat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/a990bbc3-f2e2-40e4-b790-f3b0e6fc9fee_jpg.jpg)
Aji menyampaikan, masyarakat diimbau segera melengkapi imunisasi anaknya secara lengkap. Kebersihan diri dan lingkungan perlu dipastikan terjaga dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, dan memastikan ventilasi rumah baik.
”Pastikan juga cukupi kebutuhan gizi dan cairan anak, memberikan makanan bergizi seimbang, dan cukup minum agar daya tahan tubuh tetap baik. Jangan mudah percaya hoaks tentang imunisasi. Imunisasi penting untuk melindungi dari penyakit berbahaya,” katanya.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari