Tanjung Verde adalah sebuah "keajaiban" di Piala Dunia 2026. Namun, tak kalah ajaibnya, mereka merekrut pemain lewat Linkedin.
22 Jun 2026 18:48 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP/Alex Slitz
Tanjung Verde, debutan dan salah satu negara terkecil di Piala Dunia, tak berhenti memukau publik sejagat. Setelah menahan favorit juara, Spanyol, 0-0, mereka mengimbangi tim kuat lainnya, Uruguay, 2-2, pada lanjutan fase Grup H, Senin (22/6/2026).
Dua hasil imbang itu menegaskan, Tanjung Verde bukanlah tim sembarangan. Meskipun baru pertama kali tampil di Piala Dunia, mereka mampu berdiri sejajar dengan Spanyol dan Uruguay, dua tim tradisional pengoleksi total tiga trofi Piala Dunia FIFA.
Padahal, berbeda dengan Spanyol dan Uruguay yang memiliki kompetisi berjenjang dan sistem perekrutan pemain berkelas dunia, Tanjung Verde nyaris tidak punya liga sepak bola profesional. Negara kecil kepulauan di barat Afrika itu bahkan hanya mampu mempekerjakan tujuh anggota staf untuk bertugas di Federasi Sepak Bola mereka, CVFF.
Namun, keterbatasan sumber daya itu tak lantas membatasi tekad besar mereka untuk tampil membanggakan di Piala Dunia, capaian yang masih menjadi mimpi kebanyakan negara, tidak terkecuali Indonesia. Serupa dengan Indonesia, Tanjung Verde mengandalkan diaspora untuk membangun tim mereka.
Sebanyak 14 dari total 26 pemain Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 terlahir di luar negara berpenduduk sekitar 525.000 orang itu. Salah satu dari mereka adalah bek tengah Roberto ”Pico” Lopes (33) yang lahir di Dublin, Irlandia. Menariknya, mantan karyawan bank itu direkrut ke tim nasional melalui Linkedin, media sosial untuk profesi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/4f48bf2b74be8c1e00f9eac673759177-wires_photo_3_.jpg)
Lewat media itu, pada 2017, Rui Aguas—pelatih Tanjung Verde saat itu—mengontak Lopes. Aguas nekat melakukan itu karena mengetahui ayah sang bek klub Irlandia, Shamrock Rovers, itu berasal dari Tanjung Verde. Celakanya, Lopes tak menghiraukan pesan berbahasa Portugis itu karena dinilainya tak lazim.
”Awalnya, saya kira itu pesan spam sehingga saya mengabaikannya. Lalu, kira-kira sebulan kemudian, ia mengirimkan pesan kembali yang berisi, ’Hi Roberto, apa Anda bersedia mempertimbangkan apa yang telah saya sampaikan?’” kata Lopes saat diwawancarai BBC Sport.
Ia penasaran, tak lagi bisa acuh tak acuh. Ia pun memindahkan teks pesan di Linkedin itu ke Google Translate. ”Isinya (pesan) kira-kira, kami mencari pemain baru untuk skuad Tanjung Verde. Apakah Anda tertarik?” ucapnya menirukan isi pesan itu.
Tanpa ragu, ia mengiyakan tawaran itu. ”Saya bergidik. Ya, saya 100 persen tertarik untuk membela skuad,” ucapnya yang sempat merasa bersalah telah mengabaikan pesan awal dari Aguas itu.
Momen tukar pesan lewat Linkedin dengan Aguas—yang sempat mundur akibat gaji tidak dibayar—itu melengkapi perubahan drastis karier Lopes. Tak seperti kebanyakan pemain di Eropa dan Amerika Latin yang merintis karier di sepak bola sejak usia dini, Pico sebelumnya adalah pekerja ”kerah putih”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/2f0964e872a1d1aab834815d9c3692a8-20260611_ARS_Negera_Peserta_piala_dunia_2026_2_mumed.png)
Sebelum menjadi andalan Tanjung Verde sejak tujuh tahun silam dan menjadi pesepak bola profesional, Pico bekerja sebagai pegawai bank. Hingga 10 tahun lalu, pria yang kini berusia 33 tahun itu merupakan karyawan bagian KPR di sebuah bank di Irlandia. Di sela-sela kesibukannya, ia bermain sepak bola untuk klub Liga Irlandia, Bohemians.
Menariknya, ia juga menyempatkan diri untuk kuliah dan meraih gelar sarjana Media dan Komunikasi dari Universitas Teknologi Dublin. Baginya, pendidikan sama pentingnya dengan sepak bola. ”Jika tidak kuliah dan mengejar pendidikan, saya tak mungkin tahu apa itu Linkedin,” ujarnya.
Pada 2017, bakat pria berdarah Tanjung Verde dan Irlandia itu dilirik klub rival sekaligus raksasa Irlandia, Shamrock Rovers. Syaratnya, ia harus melepaskan pekerjaan utamanya di bank dan fokus sepenuhnya di sepak bola. Pico mengiyakan tawaran itu dan tak pernah lagi berpaling.
Meskipun terlambat memulai karier sepak bolanya, Pico tidak butuh waktu lama untuk mendalami pekerjaan barunya itu. Ia pun langsung menjadi pemain utama Rovers, bahkan pada 2024 memegang ban kapten tim menggantikan Ronan Finn. Lima gelar juara Liga Primer Irlandia pun diraihnya.
”Dia barangkali adalah bek tengah terbaik di liga (Irlandia) dalam enam atau tujuh musim terakhir. Dia selalu menunjukkan kebugaran, bukan hanya fisik, melainkan juga kekuatan mentalnya. Kami sangat bangga dengannya,” ungkap Ciaran Stafford yang mewakili suporter Shamrock Rovers.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/77fcabdafbd86041e34d78884aff8a8e-20251014_H01_ADI_Tanjung_Verde_mumed.jpg)
Kekuatan mental itulah yang ia perlihatkan di Piala Dunia. Meskipun rekan setimnya, Vozinha, yang menuai pujian dalam laga versus Spanyol, peran Pico tidaklah kalah penting. Ia dengan tenang memimpin barisan pertahanan TanjungVerde dalam menahan gempuran 27 tembakan Spanyol. Ia melakukan sejumlah blok dan sapuan penting dalam laga itu.
Ketenangan serupa kembali ia perlihatkan saat timnya melawan Uruguay. Meskipun gawang timnya kebobolan dua kali, Pico mampu membawa timnya keluar dari tekanan, terutama setelah tertinggal 1-2. Pada laga itu, Pico tampil menonjol dengan 13 sapuan, 3 tekel, 5 kali sundulan sapuan, dan 2 blok.
Kini, ia berambisi membawa timnya melangkah lebih jauh, yaitu ke babak gugur Piala Dunia. ”Saya adalah seorang pemimpi,” ujar Pico mendeskripsikan dirinya. (BBC)
Penulis:
Yulvianus HarjonoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase