PIALA DUNIA 2026

Sosok Ibu di Balik Kecemerlangan Vozinha

Cinta dan ketegaran sosok ibu hadir di panggung Piala Dunia bersama air mata kiper Tanjung Verde, Vozinha. Kini, ikatan batin putra dan bunda itu bersatu di Miami.

19 Jun 2026 15:29 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP/Buda Mendes

Oleh Agung Setyahadi

Vozinha sangat gembira begitu mendengar kabar ibunya, Ana Candida Evora, akhirnya mendapatkan visa Amerika. Sosok tegar yang membentuk jalan hidup Vozinha hingga mencapai Piala Dunia itu bisa menyaksikan putranya membela Tanjung Verde melawan Uruguay di Miami, akhir pekan ini. Ikatan batin mereka sangat kuat sehingga air mata menjembatani mereka untuk bersatu di panggung Piala Dunia.

Ikatan batin Vozinha dan ibunya menggema ke seluruh penjuru dunia saat dia menangis seusai menjadi bintang laga Spanyol vs Tanjung Verde yang berakhir 0-0 di Grup H Piala Dunia 2026 pada Senin lalu. Kiper berusia 40 tahun itu melakukan tujuh penyelamatan gemilang yang membuat bintang-bintang La Furia Roja frustrasi.

Namun, sejarah besar itu kehilangan kepingan penting dalam diri Vozinha karena ibunya tidak bisa menyaksikan langsung laga di Atalanta itu akibat kendala visa. Masalah biaya menjadi penghambat sehingga ibunya tidak bisa mendapat visa tepat waktu.

Tanjung Verde termasuk di antara puluhan negara yang warganya perlu menyetor jaminan hingga 15.000 dolar AS atau setara Rp 267,4 juta untuk memasuki AS di bawah kebijakan imigrasi besar-besaran Presiden Donald Trump. Tetapi, persyaratan itu kemudian dihapus untuk pemegang tiket Piala Dunia.

Namun, Evora sudah membatalkan niatnya melakukan perjalanan ke Amerika karena kendala biaya. Butuh biaya yang sangat besar ke sana.

Pemerintah AS tergerak

Air mata Vozinha itu menyentuh sanubari manusia, menghidupkan sisi humanis paling kodrati di mana anak dan ibu terikat oleh benang-benang kasih sayang. Pemerintah Amerika Serikat pun akhirnya bergerak untuk memberikan visa perjalanan Evora untuk menyaksikan putranya berlaga di Miami melawan Uruguay, Senin (22/6/2026) mulai pukul 05.00 WIB.

Cape Verde goalkeeper Vozinha (1) waves a flag for fans after a 0-0 draw during the World Cup Group H soccer match between Spain and Cape Verde in Atlanta, Monday, June 15, 2026. (AP Photo/Jacob Kupferman)

”Tidak ada ibu yang seharusnya melewatkan kesempatan untuk melihat anaknya membuat sejarah,” ujar anggota Kongres AS, Hakeem Jeffries, dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

”Saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan meminta Departemen Luar Negeri melakukan segala daya upaya untuk memastikan bahwa ibunya dapat menghadiri pertandingan Cape Verde berikutnya,” ungkap Jeffries kemudian.

”Merupakan suatu kehormatan untuk mengumumkan bahwa ibu Vozinha akan dapat memperoleh visa tepat waktu untuk menghadiri pertandingan mereka pada Minggu ini (Senin pagi WIB),” kata Jeffries.

Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi tim diplomatik yang berada di Praia, ibu kota Tanjung Verde, dalam koordinasi erat dengan Evora untuk melayani proses mendapatkan visa dan izin perjalanan.

”Semua biaya telah dibebaskan sesuai dengan kebijakan resmi. Pengaturan perjalanan sekarang sedang dilakukan agar ibu dan anak dapat bertemu kembali di Miami,” kata Jeffries.

Kabar itu menggembirakan bagi Vozinha yang berjuang keras merawat mimpinya tampil di Piala Dunia hingga berusia 40 tahun. Jalan kariernya jauh berbeda dengan bintang-bintang sepak bola Eropa karena dia baru benar-benar menekuni sepak bola profesional pada usia 25 tahun.

Cape Verde goalkeeper Vozinha (1) makes a save during the World Cup Group H soccer match between Spain and Cape Verde in Atlanta, Monday, June 15, 2026. (Miguel Martinez/Atlanta Journal-Constitution via AP)

Namun, kekuatan pikiran dan keteguhan batinnya mengarahkan jalan hidupnya ke  panggung Piala Dunia. Momen itu akan sempurna dengan kehadiran ibunya. ”Bagi saya, ini sangat penting karena seluruh keluarga saya selalu mendukung saya dalam segala hal,” kata Vozinha kepada wartawan di kamp pelatihan tim Tanjung Verde.

”Kehadiran beliau di sini, bagi saya, adalah sesuatu yang istimewa. Ayah saya juga ada di sini dan saudara laki-laki saya. Jadi, saya sangat bahagia. Saya berharap bisa membawa lebih banyak, mungkin, saudara laki-laki dan perempuan saya serta keponakan-keponakan saya, tetapi saya rasa terkadang itu sulit,” ujar Vozinha.

Hidup sulit

Vozinha tumbuh dalam tempaan hidup yang sulit. Ibunya harus bekerja keras setiap hari demi putranya. Adapun ayahnya sedang menjalani wajib militer. Vozinha kecil pun tumbuh bersama kakek-neneknya. Itulah mengapa kiper bernama asli Josimar Dias itu dijuluki Vozinha—yang berarti nenek dalam bahasa Portugis—oleh teman-temannya.

Saat masih bocah, tubuh Vozinha kecil, tetapi nyalinya besar untuk bermain sepak bola jalanan bersama anak-anak yang berusia lebih tua dan bertubuh lebih besar. Saat dia mengalami pelanggaran dan memprotes, dia diolok-olok dan kemudian mengadu kepada neneknya. Maka, julukan Vozinha pun melekat pada dirinya dan ikut mendunia.

”Dulu, saya sering menerima banyak pelanggaran. Setiap kali tidak bisa membalas, saya akan pulang dengan marah dan merajuk. Mereka akan mengejek saya, mengatakan bahwa saya akan mengadu kepada kakek-nenek saya,” ujar Vozinha dalam wawancara dengan FIFA pada 2024.

Kakek-neneknya menjadi pelindung dan penjaga hati Vozinha untuk tetap tegar berdiri menghadapi dunia yang kadang tidak ramah. Dia pun sangat menghormati kakek-neneknya. Maka, performa apiknya saat melawan Spanyol dia persembahkan untuk kakek-neneknya yang sudah meninggal.

Statistik laga Spanyol versus Tanjung Verde pada penyisihan Grup H Piala Dunia 2026, Selasa 15/6/2026) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang, 0-0.

”Saya sangat berterima kasih kepada orangtua dan kakek-nenek saya yang sekarang bersinar di atas sana,” ujar Vozinha.

”Saya kehilangan nenek saya dua tahun lalu dan kakek saya juga. Mereka membesarkan saya. Jika masih hidup hari ini, mereka akan sangat bangga dengan cucu mereka. Itulah mengapa, ini sangat berarti bagi saya. Ini adalah sesuatu yang diimpikan oleh penduduk Tanjung Verde sepanjang hidup mereka,” ucap Vozinha.

Mendadak populer

Vozinha kini menjadi bintang dunia. Pengikutnya di media sosial meledak dari 50.000 menjadi lima juta dalam semalam setelah laga bersejarah melawan Spanyol. Dia menjadi idola baru dan dielu-elukan oleh para suporter Tanjung Verde. Di lokasi latihan tim, dia menjadi target utama suporter untuk berfoto bersama.

Namun, popularitas yang melejit bak lompatan kuantum itu tidak mengusik fokus Vozinha mempersiapkan diri melawan Uruguay dalam laga kedua Grup H. Laga ini sulit karena Uruguay sangat kuat, selalu bermain gigih, dan tidak segan bermain keras. Uruguay akan berusaha keras meraih kemenangan, apalagi setelah imbang 1-1 melawan Arab Saudi di laga pertama.

”Saya selalu menjadi orang yang fokus. Tentu saja tidak mudah untuk mengelola semua ini, tetapi saya mencoba untuk tidak terlalu terlibat dan menghabiskan sesedikit mungkin waktu di telepon dan media sosial,” ujar Vozinha.

”Ini (membela Tanjung Verde di Piala Dunia) adalah mimpi yang saya miliki sejak kecil dan sekarang saya mewujudkan itu. Saya rasa tidak ada yang lebih penting dari itu yang dapat mengalihkan fokus saya,” ucap Vozinha.

Infografik Tanjung Verde (Cape Verde)

Misi Vozinha saat ini adalah membantu Tanjung Verde lolos dari fase grup. Hasil imbang melawan Spanyol belum bisa menjamin langkah mereka lolos dari fase grup. Oleh karena itu, dia hanya fokus pada laga berikutnya.

”Kami di sini untuk berkompetisi. Saya rasa kita tidak bisa menetapkan standar yang terlalu tinggi karena kami tahu berasal dari negara kecil, tim nasional kecil. Tetapi, kita memiliki banyak kualitas dan kita ambisius,” kata kiper yang belum memiliki tim untuk musim depan setelah kontrak dengan klub liga kasta kedua Portugal, Chaves, berakhir.

Ketenaran Vozinha ini dinilai oleh rekan-rekan setimnya sebagai berkah dan tidak mengganggu dinamika tim. Mereka ikut gembira karena Vozinha dinilai sebagai pribadi yang sangat baik.

”Vozinha orang yang sangat baik. Kami semua senang untuk dia. Saya pikir pertandingan ini mengubah hidupnya. Jadi, ini lebih merupakan hal yang membahagiakan. Ini menunjukkan apa yang bisa dilakukan Piala Dunia. Kami hanya senang untuk dia,” ujar gelandang Tanjung Verde, Deroy Duarte. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase