Juara Amerika Serikat Terbuka menjadi gelar keenam bagi Carlos Alcaraz dari arena Grand Slam. Dia mengalahkan rival utamanya, Jannik Sinner, di final.
08 Sep 2025 12:59 WIB · Olahraga
Carlos Alcaraz mencuri dua hal penting dari rival utamanya, Jannik Sinner, yang dia kalahkan pada final tunggal putra turnamen tenis Amerika Serikat Terbuka 2025. Alcaraz membuat Sinner tak dapat mempertahankan gelar AS Terbuka, juga status sebagai tunggal putra nomor satu dunia.
Final itu berlangsung pada hari terakhir turnamen, Minggu (7/9/2025) siang waktu setempat, di Stadion Arthur Ashe, Flushing Meadows, New York, AS. Pertandingan di antara dua tunggal putra terbaik dalam dua tahun terakhir ini menarik perhatian penggemar tenis, termasuk dari kalangan selebritas hiburan dan olahraga lain, seperti Jon Bon Jovi, Spike Lee, dan Rami Malek, yang hampir setiap hari menonton di tribune, serta bintang NBA, Stephen Curry.
Alcaraz menang dengan skor 6-2, 3-6, 6-1, 6-4 dalam pertandingan selama 2 jam 42 menit. Durasi pertandingan lebih pendek dibandingkan persaingan mereka sebelumnya di panggung Grand Slam yang tak pernah berjalan kurang dari tiga jam. Namun, penonton tetap disuguhi tontonan menarik yang membuat mereka terpukau.
Forehand cepat dan datar dari Sinner, dengan bola menyisir garis/sudut lapangan, bisa diantisipasi Alcaraz yang bergerak lincah. Alcaraz bisa sprint dari belakang baseline ke dekat net untuk melakukan backhand volley dengan arah silang. Sentuhan pelan raket membuat bola jatuh di dekat net. Sinner mati langkah karena berada di belakang lapangan. Curry pun ternganga melihat momen ini.
Pergerakan Sinner tak selincah Alcaraz, tetapi dia bisa melancarkan serangan dengan stabil dari baseline. Senjatanya adalah forehand dengan kecepatan rata-rata 133 km/jam. Saat tampil di lapangan rumput Wimbledon, forehand-nya mencapai kecepatan 181 km/jam. Pukulan ini menjadi senjatanya untuk membuat lawan bertahan jauh di belakang baseline.
Namun, di Flushing Meadows, Minggu, permainan Sinner bisa diantisipasi Alcaraz yang memiliki lebih banyak variasi permainan. Selain pukulan keras dari baseline, Alcaraz menyerang ke dekat net atau mengubah ritme permainan dengan slice.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/b54bb452-dfaa-4f39-9ebb-fcd4e8b355a2_jpg.jpg)
Juan Carlos Ferrero, pelatih Alcaraz, menuturkan, gelar bagi anak muda yang dilatihnya sejak enam tahun lalu (saat Alcaraz berusia 16 tahun) itu merupakan buah dari latihan intens selama 15 hari.
”Setelah kalah dari Jannik di final Wimbledon, kami latihan dengan fokus pada hal-hal detail. Apalagi, melawan Jannik di lapangan cepat, yaitu lapangan keras dan rumput, sangat sulit. Saya rasa, Carlos sadar bahwa banyak yang harus dia kembangkan dan itu bisa dilakukannya,” kata Ferrero dalam laman resmi ATP.
Alcaraz meraih gelar keenam Grand Slam setelah AS Terbuka 2022, Wimbledon 2023 dan 2024, serta Perancis Terbuka 2024 dan 2025. Seniornya sesama petenis Spanyol, Rafael Nadal, menjadi salah satu yang tercepat dalam memberikan ucapan selamat melalui media sosial. Ada pula mantan pebasket Spanyol, Pau Gasol.
Prestasi tersebut menjadikan Alcaraz (22 tahun 125 hari) sebagai petenis termuda kedua yang memiliki enam gelar juara Grand Slam. Dia hanya berada di bawah Bjorn Borg yang mengumpulkan enam gelar pada usia 22 tahun 32 hari. Gelar keenamnya, dari total 11 gelar Grand Slam, didapat dari Wimbledon 1978.
Alcaraz menjauhkan diri dari Sinner yang bisa menyamai jumlah gelar Grand Slam seandainya menjuarai AS Terbuka. Sinner tetap dengan empat gelar yang didapat pada 2024 dan 2025. Petenis Italia ini bahkan menjadi satu-satunya petenis yang mencapai final semua Grand Slam pada tahun ini dengan gelar juara dari Australia Terbuka dan Wimbledon.
Menjadi petenis nomor satu adalah target saya sejak awal tahun ini. Mendapatkannya pada saat yang sama dengan juara Grand Slam terasa lebih spesial.
Kemenangan di Flushing Meadows membawa dampak lain bagi Alcaraz, yaitu mengembalikan posisinya ke puncak peringkat dunia untuk kelima kali. Dia menggeser Sinner, yang gagal mempertahankan poin juara 2024, ke peringkat kedua.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/674aea65-a16d-42ea-885f-341ed615ed61_jpg.jpg)
”Menjadi petenis nomor satu adalah target saya sejak awal tahun ini. Mendapatkannya pada saat yang sama dengan juara Grand Slam terasa lebih spesial,” ucap Alcaraz.
Mulai 8 September, Alcaraz menempati peringkat pertama dunia untuk pekan ke-37. Dia berada di posisi itu untuk pertama kalinya pada 12 September 2022 (juga) setelah menjuarai AS Terbuka. Dengan usia 19 tahun saat itu, Alcaraz menjadi tunggal putra nomor satu dunia termuda sejak sistem peringkat komputerisasi dipakai pada 1973.
Alcaraz menyebutkan, apa yang diperolehnya di New York pada tahun ini adalah buah dukungan semua orang dekatnya. ”Tim pelatih dan keluarga, saya sangat beruntung memiliki kalian. Kalian bekerja keras untuk menjadikan saya lebih baik, bukan hanya sebagai petenis, melainkan juga sebagai manusia. Setiap hasil baik yang saya dapat adalah milik kalian juga. Ini adalah dua pekan yang spektakuler. Pertandingan level tinggi, juga tes mental bagi saya,” ungkap Alcaraz saat upacara pemberian trofi.
Peluang rivalitas panjang
Alcaraz menempati peringkat teratas bergantian dengan Novak Djokovic hingga Sinner untuk pertama kalinya menggantikan mereka pada 10 Juni 2024. Setelah tak tergeser dari posisi teratas dunia selama 65 pekan beruntun, Sinner turun ke peringkat kedua.
Pergantian posisi antara Sinner dan Alcaraz di puncak peringkat dunia bisa jadi akan berlangsung lama. Djokovic, satu-satunya petenis yang bisa tampil konsisten di level tinggi pada panggung Grand Slam, selalu terbentur ”tembok” Sinner atau Alcaraz. Dari empat semifinal pada tahun ini, dia kalah dari Sinner di Perancis Terbuka dan Wimbledon, lalu dikalahkan Alcaraz di semifinal AS Terbuka.
Petenis lainnya, baik dari era sebelum Alcaraz dan Sinner maupun dari generasi yang sama, tak ada yg bisa menyaingi mereka secara konsisten. Perolehan poin peringkat menjadi indikator paling jelas. Dalam daftar peringkat pada 8 September, Alcaraz memiliki 11.540 poin, diikuti Sinner dengan 10.780 poin. Alexander Zverev, pada peringkat ketiga, hanya memiliki 5.930 poin
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/a6fb9e66-469c-4b31-8153-18d91b7043e8_jpg.jpg)
Selisih poin Sinner dan Zverev sebanding dengan poin yang bisa didapat dari dua kali juara Grand Slam ditambah satu semifinal atau empat kali juara ATP Masters 1000 ditambah satu final. Dominasi ”Big Two”, Alcaraz dan Sinner, juga terlihat dari daftar juara Grand Slam.
Tak ada nama lain, selain kedua petenis itu, dalam delapan turnamen sejak 2024. Imbangnya persaingan mereka diwakili statistik empat gelar yang didapat Sinner dan empat gelar oleh Alcaraz.
Tiga pertemuan terakhir bahkan selalu terjadi dalam final Grand Slam. Final AS Terbuka menjadi lanjutan dari final Perancis Terbuka dan Wimbledon.
Alcaraz menang di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, Perancis, dalam lima set setelah menggagalkan tiga match point Sinner. Pertandingan selama 5 jam 29 menit itu menjadi persaingan terbaik mereka, setidaknya hingga AS Terbuka.
Setelah itu, Sinner membalas di lapangan rumput All England Club, London, Inggris, untuk menggagalkan hattrick juara Alcaraz. Pukulan cepat dan datar dari Sinner klop dengan lapangan rumput yang memantulkan bola dengan cepat dan rendah.
Final AS Terbuka menjadi persaingan ketujuh Alcaraz dan Sinner di laga puncak. Jumlah tersebut lebih banyak dari pertemuan final dalam rivalitas Rafael Nadal dan Djokovic.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/a21d637f-5461-45fc-9f70-038b3c2ec144_jpg.jpg)
Sebanyak 60 pertemuan di antara mereka menjadi yang terbanyak pada persaingan dua tunggal putra di era Terbuka. Akan tetapi, dalam empat tahun pertama persaingan (2006-2010), Nadal dan Djokovic ”hanya” lima kali bertemu di final.
Rivalitas lain yang muncul lebih dulu, yaitu antara Nadal dan Roger Federer, melahirkan lebih banyak final pada empat tahun awal. Mereka 14 kali bersaing di final pada 2004-2008, dari total 24 final. ”Fedal”, sebutan untuk persaingan mereka, bahkan pernah bersaing di final dalam delapan pertemuan beruntun pada rentang 2008 hingga 2010.
Situasi tersebut terjadi karena hanya Federer dan Nadal yang konsisten bermain pada level tinggi di turnamen besar. Baru sejak 2008, persaingan mereka ditambah kehadiran Djokovic yang menjuarai Australia Terbuka.
Namun, Djokovic membutuhkan tiga tahun untuk benar-benar bisa mengimbangi Federer dan Nadal. Setelah Australia Terbuka 2008, dia baru menjuarai lagi Grand Slam pada 2011, kali ini dengan menjadi juara Australia Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka. Djokovic akhirnya melampaui rival terberatnya itu dengan 24 gelar juara Grand Slam.
Tanpa adanya ”orang ketiga” di antara Alcaraz dan Sinner sejak 2024, persaingan mereka dimungkinkan terus berulang. ”Dua anak muda ini tampaknya akan lebih sering bertemu di final,” kata Jim Courier, mantan petenis nomor satu dunia yang menjadi komentator final tunggal putra AS Terbuka.
Djokovic telah menyatakan kesulitan untuk bersaing dengan Alcaraz dan Sinner di arena Grand Slam yang memakai format skor best of five. Peluangnya masih terbuka jika pertandingan menggunakan format best of three, seperti di ATP Tour.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/42ee491d-44fc-4378-8e71-ec55746e61d4_png.png)
Sinner pun mengakui bahwa dirinya semakin sulit untuk mengalahkan Alcaraz meskipun berkembang sangat pesat dalam dua tahun terakhir. Dalam delapan Grand Slam sejak 2024, petenis berusia 24 tahun itu enam kali menembus final dengan gelar yang didapat dari Australia Terbuka 2024 dan 2025, AS Terbuka 2024, dan Wimbledon 2025.
Dengan final pada semua Grand Slam 2025, Sinner menjadi tunggal putra keempat dalam era Terbuka yang mencapai final empat Grand Slam dalam satu musim. Sinner menyamai Rod Laver yang melakukannya pada 1969, Federer (2006, 2007, 2009), dan Djokovic (2015, 2021, 2023).
Sinner selalu menjadi tembok tinggi bagi hampir semua petenis, tetapi dia kerap memiliki celah yang bisa ditembus Alcaraz. Sinner tujuh kali kalah dari delapan pertemuan sejak awal 2024, kecuali di final Wimbledon 2025.
”Permainan saya sangat mudah ditebak, sementara penampilan Carlos berbeda dibandingkan pertemuan terakhir kami (final Wimbledon). Dia membuat kesalahan lebih sedikit, bermain lebih baik di banyak sisi, terutama servis. Carlos meningkatkan performanya,” ujar Sinner.
”Penghalangnya” untuk bermain lebih variatif saat menjalani final AS Terbuka justru berasal dari kemenangan pada babak-babak sebelumnya. Ketika petenis lain tak bisa mengimbangi permainannya, Sinner bermain dengan cara yang sama di final. Padahal, Alcaraz memiliki level kemampuan lebih tinggi dibandingkan petenis-petenis lain.
”Contohnya, saya tidak melakukan serve and volley pada pertandingan-pertandingan lain, juga tak banyak membuat dropshot. Saya bermain dengan pola yang sama di final. Padahal, saat melawan Carlos, saya seharusnya keluar dari zona nyaman itu. Setelah ini, saya harus membuat perubahan, setidaknya menjadi petenis yang permainannya sedikit tak mudah ditebak. Itu target saya,” tutur Sinner. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul