LIGA INGGRIS

Carrick Mengangkat Derajat MU sembari Menampar Arsenal

Di bawah Carrick, Manchester United perlahan mengembalikan status sebagai tim terbesar se-Inggris. Setelah City, giliran Arsenal menjadi korban ”Si Setan Merah”.

26 Jan 2026 06:50 WIB · Olahraga

AFP/ben stansall

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, MINGGU — Manchester United datang berstatus kuda hitam, tetapi pulang dengan kemenangan langka nan meyakinkan di markas Arsenal. Pelatih interim Michael Carrick menunjukkan potensi MU sebenarnya untuk kedua kali beruntun, sekaligus memberikan cermin realitas untuk ”Si Meriam” yang tidak tampak seperti calon juara.

Moral skuad MU sedang melambung tinggi, sampai seolah tidak terlihat lagi dari bumi. Setelah membungkam Manchester City pada pekan lalu, giliran tim pemuncak klasemen Arsenal yang jadi korban mereka. MU menang dramatis 3-2 di Stadion Emirates, London, Senin (26/1/2026) WIB.

Hasil itu sangat fenomenal bagi ”Si Setan Merah”. Sebagai konteks, Arsenal belum terkalahkan di kandang sejak awal musim, belum pernah kalah dari MU dalam laga kandang di liga sejak 2017, dan tidak pernah kemasukan lebih dari dua gol dalam 121 laga beruntun di seluruh kompetisi. Semua catatan cemerlang itu diruntuhkan tim tamu.

Penyerang Manchester United Matheus Cunha merayakan golnya ke gawang Arsenal dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (26/1/2026) WIB. Cunha mencetak gol penentu kemenangan MU pada menit ke-87. MU menang 3-2 di markas Arsenal.

MU tidak terhentikan. Walaupun tertinggal lebih dulu di babak pertama dan diimbangi di pengujung laga, mereka tetap menemukan jalan untuk menang. Penyerang pengganti Matheus Cunha menjadi pahlawan kemenangan lewat gol penentu di menit ke-87, tiga menit setelah gol penyeimbang gelandang Arsenal Mikel Merino.

”Datang ke kandang pemuncak klasemen yang bermain sempurna pada musim ini, ada banyak pertanyaan dari banyak orang. Untuk bisa datang dan mencuri kemenangan di akhir laga, itu adalah performa yang luar biasa. Michael (Carrick) datang, dan melakukan hal-hal brilian. Dia membawa energi baru,” kata bek MU Harry Maguire.

Efisien, kata yang bisa menggambarkan kepercayaan diri tinggi Bruno Fernandes dan rekan-rekan. Kata itu selalu menghantui mereka hampir sepanjang musim, terutama di bawah Pelatih Ruben Amorim. Namun, semua berubah seketika di bawah Carrick. MU tampil efisien di dua sisi lapangan.

Buktinya, di sisi ofensif, MU mencetak tiga gol hanya dari tiga tembakan tepat sasaran. Carrick menyadari kekuatan duet bek Arsenal, Gabriel Magalhaes dan William Saliba, di kotak penalti. Karena itu, mereka berupaya mengeksekusi tembakan dari jauh. Hasilnya, gol Cunha dan Patrick Dorgu lahir lewat percobaan spekulatif dari luar kotak.

Arsenal vs MU

Di sisi bertahan, MU dengan formasi dan starter yang sama seperti derbi mampu melimitasi Arsenal dalam semua tingkatan blok. Mulai dari blok tinggi, tengah, hingga rendah, mereka tampil begitu disiplin dan rapi. Formasi tanpa penyerang murni membuat tim tamu lebih fleksibel saat tanpa penguasaan bola.

Lihat saja gol pertama MU yang dicetak Mbeumo. Gol itu terasa seperti hadiah dari gelandang Arsenal Martin Zubimendi yang salah mengumpan ke belakang. Namun, blunder itu tercipta karena tekanan intens dari Mbeumo dan Bruno Fernandes. Walaupun Arsenal unggul jumlah pemain, 3-2, agresivitas blok tinggi MU cukup untuk menciptakan kepanikan.

Carrick memuji mentalitas dan daya juang para pemainnya karena mampu keluar dari tekanan Arsenal berkali-kali. ”Kami selalu membalikkan momentum ke arah kami. Di babak pertama, kami bisa membuat permainan lebih mengalir (setelah tertinggal). Lalu, kami menunjukkan karakter kuat lagi setelah kemasukan (gol kedua),” kata Carrick.

Gelandang Arsenal Declan Rice (kanan) berduel dengan gelandang Manchester United's Bruno Fernandes dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (26/1/2026) WIB. Selain menyumbang satu asis, Fernandes juga berkontribusi besar dalam pertahanan solid MU di laga tersebut. MU menang 3-2.

Carrick pun mengulang sejarah manis ketika bertemu dengan Arsenal dan Manajer Mikel Arteta. Pada akhir 2021, Carrick juga menaklukkan Arsenal 3-2 dalam laga kandang di Stadion Old Trafford. Ketika itu dia juga berstatus pelatih interim yang menggantikan sementara posisi Ole Gunnar Solskjaer.

Cermin Arsenal

Arsenal sebenarnya mendominasi pada setengah jam pertama. Mereka mengepung MU dengan menerapkan garis pertahanan yang sangat tinggi. Tuan rumah pun unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri Lisandro Martinez. Setelah itu, Martin Odegaard dan rekan-rekan tiba-tiba kehilangan kontrol.

Para pemain ”Si Meriam”, terutama di lini belakang, tampak grogi. Mereka melakukan beberapa kesalahan dasar, seperti umpan dan kontrol, yang berujung peluang MU. Sampai akhirnya petaka datang juga lewat blunder Zubimendi. Umpan Zubimendi ke kiper David Raya terlalu pelan.

Menurut Arteta, moral timnya runtuh seketika dan tidak bisa bangkit lagi setelah blunder tersebut. ”Gol itu mengubah momentum dan energi kami. Setelah itu standar kami menurun saat penguasaan bola, lalu mereka memiliki dua momen magis yang berujung gol. Kami harus belajar dari kekalahan ini,” ucap sang manajer.

Berbanding terbalik dengan MU yang sangat lugas dan ekspresif dalam serangan, Arsenal sangat berhati-hati. Mereka tidak berani mengeksekusi umpan-umpan terobosan ke kotak penalti, nyaris hanya mengandalkan serangan dari sisi sayap dan eksekusi bola mati.

Terbukti, gol Arsenal dihasilkan dari bunuh diri lawan dan skema tendangan sudut. Masalah kreativitas dan urgensi serangan ”Si Meriam” bukan pertama kali terjadi. Problem serupa dialami mereka saat bermain imbang 0-0 dengan Liverpool dan Nottingham Forest dalam dua pertandingan liga terakhir.

Pemain sayap Arsenal Leandro Trossard (tengah) menyapu bola dari pertahanan sendiri saat menghadapi Manchester United dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (26/1/2026) WIB.

Kehati-hatian strategi Arteta pula yang membuat pergantian pemain Arsenal tidak berpengaruh banyak. Mereka memasukkan empat pemain sekaligus pada menit ke-57, yaitu Viktor Gyokeres, Noni Madueke, Eberechi Eze, dan Mikel Merino, tetapi tetap mengandalkan skema serangan yang sama.

Patrick Vieira, mantan kapten Arsenal di era awal 2000-an, turut mengkritik pendekatan Arteta. ”Itu bukan hanya soal mereka kalah, melainkan juga bagaimana mereka kalah. Mereka perlu menyadari untuk bermain dengan energi lebih dan berani mengambil risiko. Mereka punya kualitas itu, tetapi tidak bermain bebas untuk mengekspresikan diri,” ujarnya.

Dampak kekalahan itu, Arsenal hanya memimpin klasemen dengan keunggulan empat poin atas City dan Aston Villa. Dengan liga yang masih menyisakan 15 pekan dan problem mentalitas Arsenal dalam tiga musim terakhir, perburuan gelar juara masih sangat terbuka. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji