Van Dijk menyumbang satu gol untuk Liverpool, tetapi membuat beberapa kesalahan yang berujung gol Bournemouth. Liverpool pun kehilangan tren 13 laga tanpa kekalahan.
25 Jan 2026 06:46 WIB · Olahraga
AFP/glyn kirk
BOURNEMOUTH, SABTU — Penampilan kapten sekaligus bek Liverpool Virgil van Dijk di markas Bournemouth memang sangat buruk, semakin menunjukkan penurunan performanya pada usia 34 tahun. Namun, isu itu hanyalah satu dari setumpuk masalah di pertahanan yang membuat ”Si Merah” belum bisa tampil selayaknya tim juara bertahan.
Tren tidak terkalahkan dalam 13 laga beruntun milik Liverpool hanyalah sebatas kosmetik. Realitasnya, tim asuhan pelatih Arne Slot itu terjebak dalam rentetan empat pertandingan liga yang berujung imbang. Krisis Liverpool kembali terkuak setelah ditaklukkan Bournemouth 2-3 di Stadion Vitality, Minggu (25/1/2026) WIB.
Alur skor yang seperti wahana kereta luncur bisa sedikit menggambarkan problem Van Dijk dan rekan-rekan. Mereka tertinggal 0-2 terlebih dulu di paruh pertama, lalu sempat menyeimbangkan kedudukan jadi 2-2. Saat waktu tinggal menyisakan hitungan detik di injury time, Bournemouth kembali unggul lewat gol pemain sayap Amine Adli.
Gol bermula dari lemparan ke dalam jauh. Van Dijk gagal mengantisipasi pantulan pertama karena kalah berduel dengan gelandang kurus lawan Junior Kroupi. Adli memanfaatkan kemelut di depan gawang itu. Van Dijk merasa dilanggar, tetapi asisten wasit video (VAR) tidak merasa demikian. Gol itu disahkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/25/4a22f63270ae2e7f8aedffbc571379fa-Britain_Premeir_League_Soccer_4_.jpg)
”Momen yang luar biasa. Momen seperti ini baru pertama kali terjadi dalam karier saya. Emosinya luar biasa, tetapi secara keseluruhan ini menunjukkan karakter tim. Kami memainkan laga yang sangat bagus melawan tim yang sangat tangguh. Gol ini menunjukkan kerja keras seluruh tim,” kata Adli.
Karakter tangguh Bournemouth yang disampaikan Adli berlaku sebaliknya di kubu Liverpool. Tim tamu kehilangan intensitas di menit-menit akhir. Mereka kembali kemasukan gol dari lemparan ke dalam yang sudah menghantui sejak awal musim. Problem itu tecermin dari sikap sang kapten.
Van Dijk dengan tubuh tinggi dan kekar terlalu lemah dalam berduel. Dia begitu mudah dicampakkan oleh Kroupi. Pemain tim nasional Belanda itu seperti hanya berharap ada pertolongan dari wasit. Padahal, dalam situasi bola mati di Liga Inggris, pemain bertahan sudah sering kali dirugikan ketika duel fisik.
Sepasang gol penyeimbang Liverpool dari bola mati, lewat sundulan Van Dijk (tendangan sudut) dan eksekusi Dominik Szoboszlai (tendangan bebas), pun berakhir sia-sia. ”Saya sangat kecewa. Kekalahan di menit akhir laga sangat sulit diterima. Kami berjuang keras untuk mengembalikan ke laga, tetapi kemasukan,” ujar Van Dijk.
Dosa-dosa Van Dijk lebih besar lagi di dua gol awal Bournemouth. Gol pembuka penyerang Evanilson berawal dari kesalahan antisipasi sang veteran. Sapuan Van Dijk gagal, lalu berujung penguasaan pemain lawan di kotak penalti Liverpool. Gol terjadi beberapa detik setelah itu.
Mudah memang untuk mengatakan harus melakukan ini dan itu setelah pertandingan. Kalah tidak pernah menyenangkan, tetapi musim ini kami masih mencoba untuk menemukan konsistensi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/25/784e2572f919833877dbd8f129024db2-Britain_Premeir_League_Soccer_3_.jpg)
Di gol kedua Bournemouth yang dicetak pemain sayap Alex Jimenez, 7 menit berselang, Liverpool hanya memiliki 10 pemain. Bek Joe Gomez sedang dirawat karena cedera. Saat kekurangan pemain, Van Dijk berdiri terlalu belakang dan membuat jebakan off-side Liverpool gagal. Jimenez pun berdiri bebas di kotak penalti.
Van Dijk sempat menebus dosa lewat gol di pengujung paruh pertama, tetapi itu ternyata tidak cukup. ”Mudah memang untuk mengatakan harus melakukan ini dan itu setelah pertandingan. Kalah tidak pernah menyenangkan, tetapi musim ini kami masih mencoba untuk menemukan konsistensi,” katanya.
Performa Van Dijk jelas terlihat menurun pada musim ini. Dia berkali-kali menunjukkan antisipasi dan kualitas fisik yang tidak sebaik biasanya. Meskipun begitu, problem Liverpool sebenarnya lebih kompleks daripada itu. Semua masalah itu bisa dilihat di Stadion Vitality.
Slot mengatakan, permasalahan terbesar Liverpool terlihat di gol kedua dan ketiga tim tuan rumah. ”Kami hanya memiliki 10 pemain, dan mereka mencetak gol kedua. Lalu, kami punya beberapa masalah lagi di beberapa menit dalam 10 menit terakhir. Hasilnya adalah kekalahan lagi bagi kami,” ujarnya.
Liverpool harus bermain dengan 10 pemain selama 7 menit karena tidak punya bek tengah pengganti. Gomez dirawat semaksimal mungkin, sampai dinyatakan tidak bisa kembali. Penggantinya adalah gelandang bertahan Wataru Endo yang masih menunggu di pinggir lapangan saat gol terjadi.
Situasi itu memperlihatkan komposisi skuad Liverpool yang tidak seimbang. Mereka hanya memiliki tiga bek tengah saat ini, yaitu Van Dijk, Gomez, dan Ibrahima Konate. Saat Konate tidak bisa tampil karena urusan personal seperti di laga tadi, Slot pun berada dalam masalah besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/25/0515fcf8556c350c9af648ed0b36bb44-wires_photo_2026_01_25T042336.686.jpg)
Strategi transfer klub patut dipertanyakan. Mereka menjual bek muda Jarell Quansah di musim panas, lalu menggantikannya dengan Giovanni Leoni. Namun, ketika Leoni divonis cedera hingga akhir musim, klub tidak mendatangkan pengganti. Bek yang sempat diincar, yakni Marc Guehi, justru berlabuh ke Manchester City.
Di posisi bek sayap, Liverpool juga tidak kekurangan masalah. Adaptasi para pemain baru, Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong, masih menjadi isu. Lihat saja di laga tadi, Kerkez hanya bermain di 45 menit pertama karena tampil buruk. Dia langsung digantikan bek veteran Andy Robertson.
Di sisi kanan, keterbatasan pemain juga terjadi. Frimpong merupakan satu-satunya bek sayap murni di area kanan. Liverpool tidak punya pengganti dari Conor Bradley yang sedang cedera. Karena Frimpong memiliki riwayat cedera paha, Szoboszlai pun harus mengisi posisi itu pada setengah jam tersisa.
Tim juara bertahan seperti Liverpool semestinya tidak mengalami krisis pemain dari sisi kuantitas dan kualitas seperti itu. Namun, realitasnya berbeda. Itu yang membuat tim asuhan Slot terjebak dalam situasi sekarang. Jika tidak ada perubahan signifikan, tren kurang baik itu hampir pasti akan terus berlanjut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto