Cegah Keracunan, Perhatikan Kualitas Air dan Bahan Makanan

Ada lima bakteri yang rawan menyebabkan keracunan di menu MBG, yaitu Bacillus cereus, Salmonella, Escherichia coli, Vibrio cholera, dan Staphylococcus aureus.

27 Sep 2025 18:24 WIB · Metropolitan

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian dalam penyajian makanan, termasuk untuk menu Makan Bergizi Gratis. Mulai dari kualitas air yang digunakan untuk memasak, kebersihan proses memasak, hingga kualitas bahan makanan segar yang akan disajikan

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat Ryan Bayusantika Ristandi di Bandung, Sabtu (27/9/2025), mengatakan, pertama yang harus diperhatikan adalah kualitas air yang digunakan dalam proses memasak. Air harus bersih dan sesuai syarat bebas Escherichia coli atau bakteri pembusuk lainnya.

Selanjutnya, yang mesti diperhatikan adalah kebersihan semua orang yang terlibat, mulai dari memasak hingga mengantar makanan. Semuanya mesti lolos pemeriksaan kesehatan dan betul-betul mengerti higienitas makanannya.

”Mereka harus betul-betul menyiapkan segala sesuatunya mulai dari kebersihan tangan hingga memakai peralatan untuk proses juga disiapkan dari celemek dan lain-lain,” ujarnya.

Infografik Penyebab Utama Insiden Keamanan Pangan Makan Bergizi Gratis

Bayu mengatakan, kualitas bahan makanan harus menjadi perhatian selanjutnya. Semua mesti menggunakan bahan segar. Jangan sampai bahan yang kedaluwarsa atau rusak tetap digunakan.

Perlakuan ketika makanan sudah siap disajikan juga amat penting. Ia menyoroti makanan mesti disimpan di atas suhu 60 derajat celsius atau di bawah 5 derajat celsius. Semua mesti dijamin dilakukan demi mencegah munculnya bakteri pembusuk.

Labkesda Jabar adalah laboratorium rujukan pertama nasional untuk berbagai program, seperti kebencanaan hingga kejadian luar biasa seperti keracunan MBG.

Leni (kanan), menangisi kondisi anaknya Fitriany, korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah di rawat di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. Hingga Kamis (22/9/2025) sore tercatat 35 orang masih di rawat di GOR Cipongkor Dalam tiga hari terakhir, tercatat lebih dari 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG di kawasan tersebut. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Terkait keracunan MBG, Bayu mengatakan, Labkesda Jabar telah menerima 208 sampel sejak awal tahun 2025. Bentuknya makanan dari sekolah dan dapur MBG.

Total, ada 27 frekuensi pengiriman sampel dari 12 kota dan kabupaten. Beberapa daerah itu adalah Bandung Barat, Bandung, Kota Bandung,  Cianjur, Garut, dan Sumedang, hingga Ciamis dan Subang.

Dari hasil pemeriksaan, meski persentasenya kecil dibandingkan dengan hasil negatifnya, ada bakteri-bakteri pembusuk dalam sampel yang dikirim. Ia mencontohkan Bacillus cereus, Salmonella, Escherichia coli, Vibrio cholera, dan Staphylococcus aureus.

”Semuanya memicu gejala muntah, kejang, demam, pusing, lemas. Yang kami khawatirkan adalah dehidrasi karena mual dan muntah itu,” katanya.

Akan tetapi, Bayu enggan mengatakan dari daerah mana saja yang mengandung bakteri itu. ”Nanti dinas kesehatan daerah yang mengumumkan hasil temuan itu,” katanya.

Kasus keracunan MBG di Jabar yang terbaru terjadi di Bandung Barat, pada awal pekan lalu. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bandung Barat, pada Jumat, ada 1.258 siswa yang sempat dirawat akibat keracunan MBG.

Infografik Jajak Pendapat Keamanan Pangan - Kesadaran Publik Memilih Pangan yang Aman dan Sehat

Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran Prof Deni Kurniadi Sunjaya menduga, belum semua satuan layanan pemenuhan gizi paham benar tentang pentingnya pendidikan tentang keamanan pangan.

”Penyebabnya bisa dari proses produksi hingga distribusi. Atau risikonya bisa muncul tingkat penerima karena sama-sama belum paham benar keamanan pangan. Contoh kecil, lalai cuci tangan baik saat memasak atau menyantap makanan,” katanya.

Itu semua harus dilakukan, ujar Deni, karena MBG ini bukan sekadar urusan memasak dan memberikan makanan begitu saja.

Deni menyebutkan, semua yang terlibat, butuh penguasaan ilmu tentang waktu tepat memasak, cara ideal mengolah makanan, metode penyimpanan makanan, hingga menerapkan proses distribusi yang tepat.

Ia berharap, pengelola MBG ke depan bisa terbuka terhadap banyak masukan. Hanya dengan begitu, maka metode terbaik pelaksanaan makanan bergizi gratis di Indonesia bisa tercapai.

”Buka lebih banyak akses penelitian berbagai disiplin ilmu. Hasil terbaik bisa dimanfaatkan untuk menekan risiko di kemudian hari,” kata Deni.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase