Cek Kesehatan Anak Sekolah, Mengubah Budaya Sehat Perlu sejak Dini

Program cek kesehatan gratis sekolah menyasar 53,8 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. Lewat program ini diharapkan budaya sehat bisa dimulai sejak usia dini.

04 Agt 2025 16:07 WIB · Kesehatan

Oleh Deonisia Arlinta

Mata Divaanca Krista Putri (15) mengernyit ketika petugas kesehatan hendak mencucukkan jarum ke ujung jari tangan kirinya. Dengan ragu, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Tangerang Selatan, Banten, itu meletakkan tangannya ke atas meja.

”Boleh di-skip saja enggak untuk pemeriksaan yang ini?” katanya saat sampai di meja keempat untuk pemeriksaan gula darah. ”Ya tidak boleh. Ini harus diperiksa juga supaya tahu kesehatannya. Biar terpantau semuanya,” jawab seorang tenaga kesehatan yang bertugas saat itu.

Hari ini, Senin (4/8/2025), para siswa SMAN 6 Tangerang Selatan menjalani cek kesehatan gratis. Total ada 1.225 anak yang akan diperiksa kesehatannya di sekolah tersebut.

Cek kesehatan gratis anak sekolah merupakan bagian dari program cek kesehatan gratis yang digagas dalam program hasil terbaik cepat pemerintahan Prabowo-Gibran. Program ini menyasar 53,8 juta anak sekolah di seluruh Indonesia, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.

Secara serentak, cek kesehatan gratis anak sekolah dimulai pada 4 Agustus 2025. Ditargetkan pemeriksaan pada seluruh anak sekolah bisa rampung pada Desember 2025. Pemeriksaan kesehatan untuk anak sekolah berbeda-beda di setiap jenjangnya.

Untuk anak sekolah di jenjang SMA, terdapat 14 pemeriksaan yang diberikan. Itu meliputi pemeriksaan status gizi, kebiasaan merokok, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, talasemia, anemia, pemeriksaan mata, pemeriksaan telinga, pemeriksaan gigi, kesehatan jiwa, hepatitis B dan C, serta kesehatan reproduksi.

Barazati Aulia Akbar (15), siswa SMAN 6 Tangerang Selatan diperiksa kondisi telinganya dalam program cek kesehatan gratis anak sekolah, Senin (4/8/2025). Setidaknya 14 pemeriksaan diberikan pada anak sekolah untuk jenjang SMA, antara lain pemeriksaan gizi, mata, telinga, gigi, talasemia, tekanan darah, gula darah, dan kesehatan jiwa.

Selain Divaanca, ada pula Barazati Aulia Akbar (15) yang mengikuti cek kesehatan gratis di SMAN 6 Tangerang Selatan. Ia bahkan menjadi murid pertama yang menjalani pemeriksaan di sekolah itu. Pemeriksaan ini merupakan pengalaman pertama baginya mendapatkan cek kesehatan yang lengkap.

”Awalnya takut, tetapi pengin juga bisa diperiksa kesehatannya. Biar tahu kalau ada masalah (kesehatan). Bakal jadi paham juga apa yang harus dilakukan kalau ada masalah kesehatan,” tuturnya.

Hasil pemeriksaan Barazati secara umum menunjukkan kondisi yang baik. Namun, sejumlah catatan disampaikan oleh petugas kesehatan, terutama terkait risiko obesitas.

Diketahui berat badannya mencapai 93 kilogram dengan tinggi 167,5 sentimeter dengan lingkar perut 98 sentimeter. Ia pun diminta untuk lebih banyak berolahraga serta menjaga pola makan dengan mengurangi makanan cepat saji dan makanan berlemak.

Quote

Lewat cek kesehatan gratis, pemerintah ingin merubah paradigma masyarakat dari sebelumnya datang ke fasilitas kesehatan ketika sakit, tetapi ini datang ketika sehat untuk mengetahui faktor risiko kesehatan sebelum sakit.

Barazati mengakui selama ini ia kurang mengontrol makanan yang dikonsumsinya. Ia juga jarang berolahraga. ”Paling kalau waktu pelajaran olahraga saja,” ucapnya.

Namun, setelah mengetahui risiko obesitas dari hasil pemeriksaan kesehatan ini, Barazati menjadi disadarkan untuk mulai mengubah gaya hidupnya.

Budaya sehat

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Asnawi Abdullah di sela-sela pemantauan cek kesehatan gratis di SMAN 6 Tangerang Selatan mengatakan, program cek kesehatan gratis bertujuan untuk mendeteksi penyakit ataupun masalah kesehatan sejak dini.

Namun, program tersebut juga mempunyai tujuan penting, yakni untuk mengubah paradigma atau budaya sehat di masyarakat, termasuk di kalangan anak usia sekolah.

Infografik Program Cek Kesehatan Gratis Siswa-Siswi Sekolah

”Melalui cek kesehatan gratis, pemerintah ingin mengubah paradigma masyarakat dari sebelumnya datang ke fasilitas kesehatan ketika sakit, tetapi ini datang ketika sehat untuk mengetahui faktor risiko kesehatan sebelum sakit,” tuturnya.

Hal itu menjadi dasar program cek kesehatan gratis juga menyasar anak usia sekolah. Budaya sehat perlu dibiasakan sejak usia dini. Semakin muda seseorang punya kesadaran untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, diharapkan risiko penyakit bisa dicegah sejak usia dini.

”Membangun budaya dan perilaku hidup sehat itu harus dimulai sejak dini. Nah, itu sebabnya sekolah bisa menjadi pintu masuk untuk membangun budaya hidup sehat. Kita harus biasakan anak-anak sekolah mulai menjalani hidup sehat agar bisa terus berlanjut sampai usia dewasa dan usia tua nanti,” tutur Asnawi.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, cek kesehatan gratis anak sekolah diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan anak-anak di Indonesia. Dengan mengetahui kondisi kesehatan tersebut, upaya untuk menjaga kesehatan diharapkan bisa lebih mudah. ”Menjaga kesehatan lebih penting dan lebih bermanfaat dibandingkan menyembuhkan kesakitannya,” ucapnya.

Beban kesehatan

Asnawi menambahkan, program cek kesehatan gratis berdampak jangka panjang bagi pembangunan bangsa. Dengan mengetahui faktor risiko kesehatan sejak dini, berbagai penyakit berisiko tinggi bisa dicegah. Misalnya, dengan mengetahui kondisi obesitas pada anak, risiko penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi bisa dicegah jika segera ditangani.

Siswa menjalani pemeriksaan dalam program cek kesehatan gratis di SDN Cideng 02, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2025). Program cek kesehatan gratis untuk anak sekolah mulai digelar secara serentak pada 4 Agustus 2025. Sebanyak 53,8 juta anak di lebih dari 280.000 sekolah menjadi sasaran program tersebut. Untuk anak sekolah dasar atau sederajat akan mendapatkan 13 jenis pemeriksaan, antara lain status gizi, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, mata, telinga, gigi, hepatitis B, kesehatan reproduksi, dan jiwa. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 04-08-2025

Dengan begitu, beban biaya kesehatan bisa ditekan. Saat ini, merujuk pada laporan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, beban biaya pelayanan kesehatan untuk penyakit katastropik terus meningkat.

Pada tahun 2021, beban pelayanan kesehatan untuk penyakit tersebut sebesar Rp 17,91 triliun. Jumlah itu terus meningkat menjadi Rp 24,05 triliun pada 2022 dan Rp 34,75 triliun pada 2023.

Penyakit katastropik tersebut meliputi, antara lain, jantung, gagal ginjal, stroke, kanker, sirosis hati, dan talasemia. Sebagian besar dari penyakit itu seharusnya bisa dicegah dengan perubahan perilaku dan deteksi dini. Untuk itu, dalam cek kesehatan gratis, pemeriksaan yang dilakukan juga mempertimbangkan penyakit dengan beban biaya kesehatan terbesar.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman mengatakan, pelaksanaan program cek kesehatan gratis bisa sekaligus jadi momentum meningkatkan edukasi ke warga mengenai hidup sehat. Untuk itu, selain cek kesehatan, edukasi, termasuk pada anak sekolah, mesti dijalankan.

”Pemberian edukasi kesehatan penting dilakukan kepada siswa ataupun pihak sekolah dan keluarga. Tujuannya tak sekadar meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan perilaku hidup sehat, tetapi pihak sekolah dan keluarga bisa ikut membantu tata laksana lanjutan jika ditemukan masalah kesehatan pada siswa,” tuturnya.

Dalam pelaksanaan program cek kesehatan gratis, sejumlah catatan pun patut menjadi perhatian. Itu, antara lain, terkait keberlanjutan program, khususnya pada anak sekolah yang perlu diintegrasikan dengan peran usaha kesehatan sekolah (UKS). Kesiapan sumber daya manusia dan ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) juga perlu diperhatikan agar tetap tercukupi dan tidak mengganggu pelaksanaan program kesehatan esensial lainnya.

Program cek kesehatan gratis mempunyai tujuan yang baik bagi masyarakat. Selain mendeteksi masalah kesehatan sejak dini, program ini diharapkan bisa membangun budaya baru di masyarakat mengenai gaya hidup sehat. Karena itu, keberlanjutan program ini harus dipastikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar