Bencana yang memutus urat nadi logistik Sumatera Utara-Nias telah melambungkan harga pangan. Jalur laut dari Padang, Sumatera Barat, pun dijadikan tumpuan.
05 Des 2025 13:46 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
Etalase kaca di warung makan milik Frida, penjual makanan dan minuman di Gunungsitoli, Sumatera Utara, tampak melompong. Tak ada deretan piring berisi gulai ikan atau tumpukan ayam goreng yang biasanya menggugah selera. Di balik kaca itu, hanya tersisa beberapa butir telur rebus yang menjadi saksi bisu ketiadaan bahan baku.
Di bagian belakang warung, Frida tak kalah sibuk, tetapi bukan melayani pembeli. Wajahnya berkeringat bergelut dengan tumpukan kayu bakar. Di tahun 2025, ketika teknologi semestinya memudahkan segalanya, Frida justru merasa terlempar mundur ke masa silam.
”Gas habis, enggak ada lagi. Ini aja saya masak air pakai kayu (bakar). Balik ke zaman dulu lagi,” ujar Frida saat ditemui di warungnya, Kamis (4/12/2025).
Bagi Frida, bencana hidrometeorologi yang terjadi di seberang pulau, di daratan Sumatera sana, terasa begitu nyata di dapurnya. Pasokan gas elpiji 3 kilogram menghilang dari pasaran sejak jalur distribusi darat di Sibolga terputus total. ”Enggak bisa masak air panas, enggak ada gas. Gas pun di sini habis,” keluhnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/252909ecc2944cf257eb9f2bab22cdf0-IMG20251204172015.jpg)
Kondisi ini memukul telak usaha kecilnya. Warung-warung tetangga banyak yang memilih tutup karena tak sanggup beroperasi tanpa gas. Pengunjung pun sepi. Namun, Frida memilih bertahan dengan cara lama meski harus menahan perih di mata akibat asap kayu bakar demi menjaga periuk nasinya tetap terisi.
Forti Perdana Putra Zega (30), warga Labuhan Angin, saat ditemui, mengaku pusing memikirkan apa yang hendak dimasak. Bencana yang memutus urat nadi logistik Sumatera Utara-Nias telah melambungkan harga pangan ke titik yang tak masuk akal.
”Kejadian di daratan Sumatera memang tidak membuat bencana alam di sini (Gunungsitoli). Namun, Tapanuli Tengah dan Sibolga itu pintu masuk perut kami,” tutur Forti.
Gas habis, enggak ada lagi. Ini aja saya masak air pakai kayu (bakar). Balik ke zaman dulu lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/30/a6ec36cb-f118-4e52-ad35-d22812298b95_jpg.jpg)
Forti merinci betapa gilanya lonjakan harga di pasar. Cabai merah, bumbu wajib bagi lidah Sumatera, kini menjadi barang mewah. ”Harga cabai yang normalnya Rp 80.000 sekarang tembus Rp 200.000 per kilogram. Naik lebih dari dua kali lipat,” katanya.
Tak hanya itu, harga beras pun merangkak naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000 per liter. Itu pun barangnya sulit didapat. Bagi warga Nias yang sebagian besar ekonominya pas-pasan, kenaikan ini mencekik leher. ”Stok beras sisa sebelum bencana diirit-iritin. Kami bertahan dengan apa yang ada,” ungkapnya.
Forti juga menyoroti krisis lain yang tak kalah pelik, yakni bahan bakar dan sinyal. Antrean di SPBU mengular panjang, sementara jaringan komunikasi timbul tenggelam, membuat perantau Nias di luar pulau cemas karena putus kontak dengan keluarga.
Di sisi lain, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli mengakui bahwa ketergantungan Nias pada jalur darat Sibolga menjadi titik lemah saat bencana melanda. ”Sibolga masih tertahan. Ada kabar jalan tembus, tetapi hanya untuk kendaraan kecil di bawah 5 ton. Jadi belum optimal,” ujar Sowa’a saat distribusi bahan bantuan dari KRI Semarang-594, Kamis.
Sebagai solusi cepat, pemerintah kini memutar haluan logistik. Jalur laut dari Padang, Sumatera Barat, dijadikan tumpuan utama. Hasilnya mulai terlihat. Pasokan energi perlahan pulih. ”Kemarin kita sudah kedatangan 96 metrik ton elpiji 3 kilogram dan 250 kiloliter BBM untuk pembangkit PLN,” kata Sowa’a.
Sementara untuk daerah yang terisolasi fisik, Komandan Pangkalan TNI AL Nias Kolonel Lexy Effraim Dumais bersama Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia mengambil langkah taktis. Menggunakan helikopter dari KRI Semarang yang sandar di Nias pada Kamis pagi, mereka menyisir wilayah selatan yang tak bisa ditembus mobil.
”Di Desa Maze, Nias Selatan, akses jalan terputus. Kami mendokumentasikan titik-titik longsor dari udara untuk prioritas perbaikan,” ujar Lexy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/1eb4b113a4772e27a97e9c1c7a8efd10-IMG20251204101911_01.jpg)
Di tengah situasi pelik itu, sandarnya KRI Semarang-594 di Pelabuhan Angin membawa harapan baru. Komandan KRI Semarang Letnan Kolonel Agus Yunianto menegaskan, Nias menjadi prioritas utama distribusi sebelum kapal bergerak ke wilayah lain seperti Padang, Sibolga, dan Lhokseumawe.
”Kami memberikan bantuan barang-barang, sembako, perlengkapan baju siap pakai. Sesuai dengan skala prioritas yang nanti akan kita berikan,” ujar Agus.
Bantuan yang diturunkan di Nias mencakup kebutuhan pangan mendesak hingga peralatan teknis. KRI Semarang menurunkan 800 kilogram beras, 80 kardus mi instan, serta gula dan minyak goreng. Untuk pasokan protein, diserahkan 300 papan telur ayam serta puluhan dus sosis dan sarden.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/31fa917576823abe325401a53eec76e0-IMG20251204102350.jpg)
Selain pangan, TNI AL juga menurunkan peralatan vital untuk tanggap darurat, antara lain satu unit perahu karet lengkap dengan motor tempel, dua unit toren air beserta mesin otomatis, satu unit genset dari Korps Marinir untuk mengatasi pemadaman listrik, serta terpal untuk tenda darurat.
Di tengah isolasi yang mencekik akibat bencana, deru mesin kapal perang jenis LPD tersebut menjadi pesan paling nyata bagi warga Nias, di saat jalur darat terputus, mereka tidak ditinggalkan berjuang sendirian.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan