Chelsea Juara Dunia, Resep Menjinakkan PSG Terkuak

Chelsea tidak hanya menjadi juara dunia baru. Mereka juga menemukan resep untuk menjinakkan PSG yang sempat jadi misteri terbesar. Mimpi ”quintuple” PSG pun dirusak.

14 Jul 2025 06:02 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

NEW YORK, MINGGU — Pelatih PSG Luis Enrique berkata sebelum final Piala Dunia Antarklub 2025, dominasi mereka pada akhirnya akan terhenti di satu hari buruk. Tidak lama berselang, hari terburuk itu datang. Chelsea, lewat taktik brilian Pelatih Enzo Maresca dan ”dinginnya” gelandang Cole Palmer, mengembalikan PSG ke bumi.

Enrique tampak bijak dengan ungkapan itu. Namun, sang pelatih agaknya tetap terkejut dengan kekalahan 0-3 dari Chelsea dalam partai puncak di Stadion MetLife, New York, Amerika Serikat, Senin (14/7/2025) WIB. Dia sampai sempat kehilangan kontrol seusai peluit panjang dengan beradu argumen dan mendorong wajah pemain Chelsea, Joao Pedro.

Wajar jika Enrique tersentak setelah kehilangan raihan quintuple atau lima gelar. Hasil itu agak absurd. Chelsea, berstatus juara Liga Konferensi Eropa yang merupakan turnamen kasta ketiga, sukses mengolok-olok kampiun Liga Champions. Tim asuhan Maresca itu menemukan resep yang selama ini dicari-cari oleh para lawan PSG.

Sepanjang 2025, PSG menunjukkan dominasi mutlak dengan mengalahkan nyaris seluruh tim terbaik sedunia, mulai dari Liverpool, Arsenal, Inter Milan, Real Madrid, hingga Bayern Muenchen. Semuanya dilakukan dalam enam bulan terakhir di Liga Champions dan Piala Dunia. Wajar mereka begitu diunggulkan atas Chelsea.

Chelsea datang dengan ide genius dari Maresca. Palmer menjadi eksekutor utama di lapangan dengan sumbangan dua gol dan satu asis. Pemain berjuluk ”Cold Palmer” itu masih terlalu ”dingin”di tengah sengatan cuaca panas yang mencapai 30 derajat celsius. ”Rasanya hebat, semakin baik karena kami mengalahkan tim hebat yang jauh diunggulkan,” kata Palmer.

Pelatih PSG Luis Enrique (kedua dari kiri) mendorong wajah pemain Chelsea Joao Pedro seusai final Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Metlife, New York, Senin (14/7/2025). PSG kalah 0-3 dari Chelsea dalam laga tersebut. Chelsea pun keluar sebagai juara turnamen.

Jangan bayangkan PSG yang menang 5-0 atas Inter dalam final Liga Champions, awal Juni lalu. Vitinha dan rekan-rekan bahkan tidak mendekati performa itu. Mereka sudah tertinggal 0-3 di paruh babak. Chelsea benar-benar mampu melenyapkan semua senjata tim lawan, dari pendekatan skema ofensif hingga defensif.

Maresca berkata, kemenangan Chelsea sudah terlihat sejak sepuluh menit pertama ketika laga masih 0-0. ”Tidak ada kata yang bisa mewakili untuk penampilan luar biasa anak-anak. Mereka pantas. Kami berhasil mengatur tempo pada sepuluh menit awal, menunjukkan kondisi pemain yang lebih baik. Momen awal itu kuncinya,” ujarnya.

Maresca tidak berlebihan. Chelsea memang mampu membungkam PSG sejak awal laga. Dari sampel selama sepuluh menit, taktik Maresca terlihat jauh lebih unggul atas Enrique. PSG tidak pernah bisa mengalirkan serangan. Palmer dan rekan-rekan juga tampil lebih agresif, tidak seperti skuad PSG yang seperti lesu tersengat matahari.

Tiga skema gol Chelsea cukup untuk menggambarkan rencana Maresca. Semua gol itu berasal dari transisi serangan balik di sisi kanan. ”Si Biru” mengeksploitasi posisi bek sayap PSG, Nuno Mendes, yang sering jauh maju ke depan. Vitinha sering mengisi lubang di sisi sayap, tetapi justru menjadi sasaran utama serangan para pemain Chelsea.

Permasalahan PSG ditambah dengan ketidakhadiran bek Willian Pacho yang terkena sanksi kartu merah. Bek 21 tahun Lucas Beraldo menggantikannya. Chelsea semakin nyaman mengeksploitasi sisi kiri lawan. Beraldo berkali-kali salah mengantisipasi, termasuk dalam proses sepasang gol Palmer dan gol terakhir Joao Pedro.

Gelandang serang Chelsea Cole Palmer berduel dengan bek PSG Nuno Mendes dalam laga final Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Metlife, New York, Senin (14/7/2025). Palmer menjadi bintang di pertandingan tersebut dengan menyumbang 2 gol dan 1 asis. Dia mengantar Chelsea juara setelah menang 3-0 atas PSG.

”Pelatih menyusun strategi permainan yang hebat. Dia (Maresca) tahu di mana ruang kosong dan berusaha membebaskan saya sebanyak mungkin. Saya hanya perlu membalas budi dengan mencetak beberapa gol. Dia sedang membangun sesuatu yang istimewa. Saya rasa kami menuju ke arah yang benar,” tutur Palmer.

Chelsea dengan catatan penguasaan bola 58,1 persen sepanjang turnamen menurunkan ego. Mereka enggan banyak membangun serangan dari bawah. Itu bisa diincar tekanan blok tinggi PSG yang terkenal mematikan. Mereka pun lebih banyak mengirimkan bola jauh, seperti tecermin dari penguasaan yang hanya 33,6 persen.

Seni bertahan

Petinju legendaris Floyd Mayweather Jr tidak pernah terkalahkan sampai pensiun karena punya serangan balik mematikan. Menariknya, serangan balasan itu tidak akan tercipta tanpa pertahanan yang kuat terlebih dulu. Konsep serupa digunakan Chelsea di laga tadi. Pertahanan kokoh Si Biru merupakan kunci terbesar kemenangan.

Maresca memasang dua perangkap sekaligus, di separuh lapangan lawan saat blok tinggi dan separuh lapangan sendiri ketika blok rendah. Mereka menggunakan pendekatan yang sangat berbeda. Ketika menekan tinggi, Chelsea memakai pendekatan man to man. Taktik seperti itu sempat digunakan Bayern, satu-satunya tim yang merepotkan PSG sebelum laga final.

Daftar starter Chelsea sangat menarik. Bek sayap Reece James ditempatkan di posisi gelandang jangkar. Hal tersebut merupakan bagian dari rencana sang pelatih. James ditugaskan untuk menempel Vitinha saat blok tinggi. Seperti diketahui, Vitinha merupakan konduktor utama serangan tim asuhan Enrique. Strategi itu membuat serangan PSG tersendat dari bawah.

Skema lain digunakan ketika Chelsea berada dalam blok rendah. Formasi bertahan yang semula 4-4-2 berubah jadi 5-4-1. Satu pemain ekstra bergantian membantu empat bek sejajar, salah satunya penyerang sayap Pedro Neto. Lima bek itu tidak terlalu reaktif. Mereka mengantisipasi pergerakan tanpa bola yang berbahaya dari bek sayap Achraf Hakimi dan gelandang Fabian Ruiz.

Skuad PSG terlihat sangat frustrasi. Mereka dominan dalam penguasaan bola, tetapi hanya menghasilkan delapan tembakan. Chelsea masih lebih banyak dengan sepuluh tembakan. Adapun peluang terbaik PSG baru datang pada paruh kedua lewat percobaan Ousmane Dembele di kotak penalti. Kiper Robert Sanchez yang tampil apik menggagalkan itu.

Dari kiri: Gelandang serang Chelsea Cole Palmer, kiper Chelsea Robert Sanchez, dan penyerang PSG Desire Doue berfoto dengan trofi penghargaan masing-masing seusai final Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Metlife, New York, Senin (14/7/2025). Palmer terpilih sebagai pemain terbaik, Sanchez sebagai kiper terbaik, dan Doue menjadi pemain muda terbaik.

Rasa frustrasi PSG terwakili dengan tindakan tidak sportif dari gelandang Joao Neves. Dia menarik rambut bek sayap Chelsea, Marc Cucurella, di pengujung laga. Neves diganjar kartu merah. PSG pun menyudahi laga dengan sepuluh pemain. Chelsea benar-benar mampu menjadi kryptonite untuk PSG pada partai puncak.

Kapten PSG, Marquinhos, berkata, kekalahan pahit itu tidak akan mengubah apa pun. Mereka tetap salah satu tim terbaik di dunia dan bisa semakin kuat pada musim depan. ”Tentu kami menginginkan trofi itu, tetapi (tanpa trofi pun) tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah kami lakukan musim ini. Kami belum pernah berada di titik ini (pencapaian quadruple) sebelumnya,” ujarnya.

Alhasil, Chelsea berhasil keluar menjadi juara dunia pertama dengan format turnamen yang baru. Mereka akan berstatus penguasa dunia sampai empat tahun ke depan atau sampai edisi selanjutnya digelar. Pencapaian tersebut sekaligus menjadi modal besar bagi tim asuhan Maresca untuk musim selanjutnya. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan