Nuklir merupakan energi terbarukan pilihan China. Ambisinya menghasilkan 100 gigawatt, melampaui kapasitas AS.
03 Sep 2025 20:41 WIB · Internasional
MOSKWA, RABU — Rusia berniat membantu China meningkatkan kekuatan tenaga nuklirnya agar menjadi yang terkuat di dunia, melampaui Amerika Serikat. China mengembangkan tenaga nuklir secara masif guna mengurangi polusi serta ketergantungan dari pembangkit listrik bertenaga batubara.
Menurut Biro Statistik Nasional China 2024, negara itu memiliki tenaga nuklir sebesar 60,83 gigawatt (GW) atau setara dengan 1,82 persen energi keseluruhan di sana. Adapun Rusia memiliki total energi nuklir 27 GW yang dihasilkan oleh 36 reaktor, melansir data Badan Informasi Energi AS (EIA) per Agustus 2025.
”Ambisi China mengembangkan tenaga nuklir sangat besar. Mereka menargetkan harus bisa mencapai 100 GW,” kata Kepala Rosatom–badan energi nuklir Rusia–Alexei Likhachev di Moskwa, Rusia, Rabu (3/9/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/08/20/9e5a380415cdc368cd498cfaebec2472-CHINA_TECHNOLOGY_122241442.jpg)
AS memiliki tenaga nuklir terbesar di dunia, yaitu 97 GW. Menurut Likhachev, Rusia, dalam hal ini Rosatom, dengan senang hati akan membantu China menggapai cita-cita melewati AS. Kerja sama tersebut sudah berjalan.
Rusia sudah membantu China membangun empat reaktor nuklir. Sekarang, ada empat reaktor baru yang sedang dikembangkan. Reaktor-reaktor itu memerlukan bahan bakar nuklir dan uranium dalam jumlah banyak.
China membutuhkan teknologi reaktor nuklir bersiklus tertutup yang dimiliki Rusia," kata Likhachev.
Dalam siklus tertutup, material berupa uranium maupun plutonium bisa didaur ulang dari bahan bakar nuklir yang telah dipakai. Ini menjadikan kinerja reaktor lebih hemat dan efisien.
Media khusus sains dan teknologi, Interesting Engineering edisi 6 Agustus 2025”, melaporkan, China menemukan logam baru yang disebut CHSN01. Logam ini sangat tahan panas di dalam reaktor nuklir.
Penemuan ini menjadi terobosan di dalam teknologi reaksi termonuklir. Reaksi tersebut digambarkan sebagai fusi nuklir yang bisa menggabungkan dua atom proses fusi serupa yang terjadi di matahari sehingga menjadikannya pusat energi tata surya.
Sejauh ini, kendala mewujudkan fusi nuklir ialah ketiadaan logam yang mampu bertahan diterpa panas reaktor nuklir. Butuh 12 tahun bagi China untuk bereksperimen dengan berbagai macam logam sampai akhirnya tercipta CHSN01.
”Kami akan segera mengujinya guna memastikan bisa diterapkan di sektor industri,” kata Li Liafeng, fisikawan pemimpin tim peneliti.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/02/841e1f94-5a9a-4d42-af04-eaa38b7781ed_jpg.jpg)
Reaktor nuklir saat ini menggunakan teknologi fisi nuklir, yaitu membelah satu atom ke beberapa bagian. Proses fisi memerlukan energi yang sangat besar dan menghasilkan radiasi besar.
Sebaliknya, fusi nuklir lebih efektif. Ini adalah cita-cita energi terbarukan dan bersih terbesar di dunia. Menurut Forum Energi Internasional (IEF), fusi nuklir mampu menghasilkan energi 4 juta kali lebih besar dibandingkan batubara, minyak, dan gas. Fusi nuklir juga tidak menghasilkan radiasi dalam jangka lama.
Apabila ada teknologi yang bisa mewujudkannya, fusi nuklir akan menjadi jalan keluar kebutuhan energi dunia. Teknologi ini dipercaya bisa membuat energi listrik murah dan bisa dijangkau semua orang serta tidak menghasilkan pencemaran yang merusak lingkungan.
Berdasarkan rencana pembangunan China 2021-2025, di akhir tahun ini, China menyasar bisa menghasilkan energi nuklir sebesar 70 GW. Target ini berarti melebihi Perancis yang kapasitasnya 66 GW.
Di dalam majalah The Diplomat, 28 Agustus 2024, peneliti isu Indo-Pasifik dari Institut Takshashilla di India, Rakshith Shetty mengamati, terlepas dari ambisi itu, China sangat berhati-hati di dalam pembangunan reaktor. Mereka belajar dari tragedi Fukushima 2011 di Jepang sehingga menghindari membangun reaktor di daratan yang rawan terkena gempa.
”Ada 185 unit reaktor darat yang ditutup oleh pemerintah. Total energi yang dihasilkan 201 GW atau dua kali lipat AS,” papar Shetty.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/27/a67eb0b21fa26ab4c99628c3fbc2c695-WhatsApp_Image_2025_06_27_at_19.20.16.jpeg)
Tidak hanya China yang berambisi menjadikan energi nuklir sebagai energi terbarukan pilihan bangsa. India juga berniat melakukannya. Selain dibantu Rosatom, India juga menggaet Electricite de France (EDF), perusahaan energi asal Perancis.
Saat ini, kemampuan tenaga nuklir India baru 8 GW. Pada 2047, India menargetkan bisa mencapai 100 GW. Pemerintah India memberi kelonggaran aturan yang mengizinkan perusahaan asing bisa menjadi pemegang saham minoritas di proyek tenaga nuklir.
Di India, pendekatan yang diambil ialah tidak cuma berbasis pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berukuran besar. India juga memiliki rencana membangun PLTN modular yang jauh lebih kecil. Adapun EDF menekankan kepada pengoptimalan reaktor. (Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase