FNPP berada di sebuah kapal dengan panjang 144 meter, lebar 30 meter, dan bobot 21.500 ton. Pembangkit ini mulai diperkenalkan pada 2019.
28 Jun 2025 09:00 WIB · Internasional
Pevek, kota di ujung utara Rusia, boleh jadi sangat terpencil. Namun, di tengah kesunyian dan suhu udara yang beku, kota itu berdenyut berkat kehadiran pembangkit listrik tenaga nuklir terapung, satu-satunya di dunia. Pembangkit itu mengalirkan listrik dan kehangatan yang sangat diperlukan penduduk di kawasan nan dingin tersebut.
Pada Rabu (25/6/2025) pagi, di tengah musim panas, Pevek hanya menawarkan suhu 1 derajat celsius. Salju tipis mengiringi langkah rombongan jurnalis dari sejumlah negara Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, menuju truk besar. Rosatom, BUMN nuklir milik Pemerintah Rusia, mengundang para jurnalis untuk mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung (FNPP) Akademik Lomonosov.
Keberadaan FNPP membuat Pevek menyandang sebutan kota nuklir. Itu sebabnya, tak mudah mengunjungi kota ini. Perlu izin khusus dari Pemerintah Rusia dengan aneka persyaratan yang harus dipatuhi.
Selain harus mendaftarkan seluruh perlengkapan liputan, jurnalis harus mendapatkan semacam ”kartu kerja” yang menandakan ia berada di kota itu untuk bekerja (meliput). Pemeriksaan ketat menyambut di pintu masuk. Paspor dengan visa Rusia dan kartu imigrasi diperiksa petugas. Begitu pula semua barang bawaan: kamera berikut kartu memorinya, alat perekam, headphone.
Setelah semua pemeriksaan selesai, rombongan mendapat pengarahan singkat tentang prosedur keamanan di FNPP. Pengunjung hanya boleh berjalan didampingi petugas dari FNPP.
”Hati-hati ketika berada di dekat berbagai peralatan. Harap membaca papan penanda. Kapal akan sangat berisik, jadi harap benar-benar memperhatikan sekitar Anda,” kata petugas keamanan yang memberikan pengarahan singkat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/27/21bdcabcf7df85022356fd704846efed-WhatsApp_Image_2025_06_27_at_19.21.56.jpeg)
FNPP ini dinamai Akademik Lomonosov sesuai nama ilmuwan Rusia, Mikhail Lomonosov. FNPP berada di sebuah kapal dengan panjang 144 meter, lebar 30 meter, dan bobot 21.500 ton. Pembangkit ini mulai diperkenalkan pada 2019 dan pada 2020 mulai mengalirkan listrik dan panas secara penuh. Hingga Januari 2025, FNPP sudah menghasilkan 1 miliar kilowatt energi untuk Kawasan Otonomi Chukotka.
FNPP didirikan antara lain dengan tujuan menggantikan kapasitas PLTN lain di kawasan Chukotka, yakni PLTN Bilibino, yang telah beroperasi sejak 1974. Selain itu, FNPP menyuplai energi bersih bagi konsumen, mengurangi jejak karbon di kawasan, dan menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada Jalur Suplai Utara.
Konsumen energi itu antara lain perusahaan-perusahaan tambang, juga warga yang tinggal di Pevek. Ada sekitar 5.000 penduduk Pevek saat ini. ”Sebelum ada FNPP, penduduk sekitar sini menderita karena dingin berkepanjangan,” kata Andrey Zaslavsky, Penjabat Direktur FNPP.
Pevek berada di lingkar Arktik dengan ekosistem tundra. Pada musim dingin yang berlangsung panjang, hingga delapan bulan, suhu udara bisa mencapai minus 40 derajat celsius. Saat puncak musim panas, suhu bisa mencapai 15 derajat celsius. Namun, suhu saat musim panas pun bisa drop hingga ke titik beku, seperti terjadi pada Rabu itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/27/6fe7b6f17ed35fb505169da164c9968f-WhatsApp_Image_2025_06_27_at_19.19.17.jpeg)
Pemerintah Rusia memilih mengembangkan pembangkit tenaga nuklir secara terapung dengan sejumlah alasan. Pembangkit akan mudah digerakkan ke tempat yang memerlukan. Tempat terpencil seperti Pevek menjadi mudah dijangkau.
Ini yang disebut menjadi keunggulan FNPP. Pulau-pulau terpencil bisa memanfaatkan teknologi FNPP untuk mandiri dalam hal energi.
Semua kegiatan berkaitan dengan nuklir berada di dalam kapal. Sistem pengolahan hingga pembuangan dibuat sedemikian rupa dengan hati-hati sehingga tidak memengaruhi lingkungan sekitarnya. Ini termasuk risiko kebocoran radioaktif yang menjadi momok keberadaan PLTN di mana-mana.
Meski terasa ”seram” karena terkait nuklir, sebenarnya ”kehidupan” di FNPP ini cukup nyaman. Kirill Klimenko, Kepala Operasi Perlengkapan Reaktor-Turbin FNPP, membawa rombongan wartawan berkeliling FNPP Akademik Lomonosov serta melihat berbagai fasilitas dan perlengkapan di dalamnya.
Ada setidaknya 135 pekerja yang harus tinggal di atas kapal untuk mengoperasikan pembangkit. Tersedia aula olahraga, fasilitas kebugaran, kolam renang, kamar tidur, tempat sauna, hingga makan tiga kali sehari. Mereka bekerja dalam giliran waktu dua bulan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/27/32bb2c80fb2b460fbeb36f3e527a35aa-WhatsApp_Image_2025_06_27_at_19.22.18.jpeg)
Klimenko lalu membawa rombongan ke ruang operasional mesin. Di situ terdapat turbin dan generator. Ada dua reaktor jenis KLT-40S yang menghasilkan daya masing-masing 35 megawatt. Ada pula ruang operasional yang dijalankan para pegawai. Mereka memastikan aliran listrik dan panas dari FNPP sampai kepada konsumen.
Selesai berkeliling fasilitas, Klimenko membawa rombongan ke dek terbuka di bagian atas kapal. Angin beku menggigit tulang langsung menyapa para jurnalis. Di hadapan membentang hamparan luas Laut Utara dengan bongkah-bongkah es yang mengapung.
Menurut Viktor Chorny, wakil kepala teknisi, FNPP aman dibangun di berbagai kondisi medan. ”FNPP didesain secara spesifik untuk area terpencil. Proyek ini dibangun untuk tipe kondisi apa pun, tahan segala jenis guncangan (gempa), iklim dingin, banjir, kebakaran,” ujarnya.
Masih banyak tempat di dunia ini yang kekurangan suplai listrik, seperti tempat-tempat terpencil atau tempat beriklim ekstrem. Membangun pembangkit listrik skala besar di area semacam itu dinilai kurang menguntungkan secara ekonomi dan kurang praktis dari segi fiturnya. Pilihan yang cukup masuk akal salah satunya membangun reaktor modular kecil (SMR), semacam FNPP.
Rosatom menawarkan kepada para mitranya kerja sama pembangunan SMR, baik berbasis di darat maupun terapung. Saat ini, Rosatom tengah dalam pembahasan proyek SMR dengan Turki. Menurut Rosatom, saat ini teknologi unit energi nuklir terapung (FPU) semakin diminati di seluruh dunia, terutama negara-negara Selatan. Ghana dan Myanmar telah menyatakan minat mereka.
Rosatom menjelaskan, isu keamanan dan pencegahan keadaan darurat menjadi prioritas dalam membangun FPU. Selain itu, dampak terhadap lingkungan diupayakan seminimal mungkin. Situasi radiasi dimonitor secara terus-menerus. Tinggal di dekat FPU yang beroperasi dengan normal pun aman bagi kesehatan publik.
Penulis:
Fransisca Romana Ninik W, dari Pevek, RusiaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti