Arab Saudi minta tolong China untuk membujuk Iran. China lantas meminta Iran membujuk Houthi agar menghentikan serangan yang meluas dan mengancam jalur minyak dunia.
18 Sep 2026 10:05 WIB · Internasional
Ansar Allah Media Office via AP
DUBAI, KAMIS — China meminta Iran menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok Houthi untuk menghentikan perluasan serangan di Yaman. Hal ini dilakukan setelah Arab Saudi meminta bantuan China menghadapi ancaman terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyaknya.
Arab Saudi meminta bantuan China setelah Houthi bergerak cepat memperkuat penguasaannya di pesisir Laut Merah dan sekitar Selat Bab el-Mandeb. Aksi Houthi itu menekan ekspor minyak Arab Saudi karena jalur pelayaran yang semakin rentan.
Tiga sumber Iran yang mengetahui pembicaraan China-Iran, pada Kamis (17/9/2026), tidak memberikan rincian mengenai bagaimana pesan itu disampaikan atau apakah hal itu dibahas dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi ke China, Rabu lalu. Ketiga sumber itu menyebutkan respons Iran adalah bahwa stabilitas dan perdamaian di kawasan itu bergantung pada diakhirinya perang AS-Israel terhadap Iran.
China secara terbuka sudah menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah saat ini mengendalikan diri, mengupayakan dialog serta pemulihan keamanan navigasi. Tidak ada lontaran ancaman eksplisit ataupun isyarat bahwa China akan menekan Iran secara ekonomi jika mereka gagal menggunakan pengaruhnya atas Houthi.
Menanggapi kabar ini, Kementerian Luar Negeri China menyatakan China tidak ingin melihat ketegangan regional meluas hingga ke Yaman dan Laut Merah. Meningkatnya ketidakstabilan kawasan ini tidak menguntungkan bagi pihak mana pun.
”Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati dan fasilitas yang vital bagi penghidupan masyarakat tidak boleh menjadi sasaran. China menyerukan penghentian tindakan yang semakin memperumit situasi serta mendesak penyelesaian masalah melalui dialog dan negosiasi,” sebut pernyataan Kemenlu China.
China sudah menjadi mitra dagang terbesar Iran selama lebih dari 10 tahun terakhir dan menjadi pembeli utama minyak Iran. Menurut perusahaan data dan analisis komoditas Kpler, pembelian China mencakup 80 persen ekspor minyak Iran melalui jalur laut pada 2025, dengan rata-rata sekitar 1,4 juta barel per hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/06/662bcad7aac851c8cda8ef0e3d329f47-China_Iran_War.jpg)
Kelompok Houthi—yang muncul pada tahun 1990-an sebagai penentang pengaruh keagamaan Sunni Arab Saudi di Yaman—mendapatkan persenjataan, pelatihan, dan pendanaan dari Iran serta dipandang sebagai bagian dari ”Poros Perlawanan” milik Teheran yang anti-Barat dan anti-Israel.
Ancaman dari Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berisiko memperparah krisis energi global secara drastis mengingat Iran juga memblokade Selat Hormuz karena perang dengan Amerika Serikat.
Sementara akses Selat Hormuz tertutup, serangan berkelanjutan Houthi terhadap kapal atau pelabuhan di Laut Merah mengganggu dua jalur utama ekspor minyak Timur Tengah secara bersamaan. Hal itu membuka front baru dalam krisis energi serta berpotensi memperluas konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Iran dan sekutunya kini memberikan tekanan di kedua ujung jaringan maritim utama kawasan tersebut, kata salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa ”China bergantung pada keduanya”.
Direktur Program Iran di Middle East Institute di Washington, AS, Alex Vatanka, mengatakan, meskipun China mungkin menentang tekanan AS terhadap Iran, kepentingan China di Timur Tengah jauh melampaui sekadar hubungan dengan Iran. Sekitar separuh dari impor minyak China berasal dari kawasan tersebut, sementara nilai perdagangan antara China dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mencapai total sekitar 300 miliar dolar AS per tahun.
”Iran memang bisa mengganggu jalur Hormuz. Namun, pada titik tertentu, daya tawar itu justru mulai merugikan pihak yang menjadi tumpuan ketergantungan Teheran yang kian besar,” ujarnya.
China merupakan salah satu dari sedikit negara yang memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan investasi yang dibutuhkan Iran guna mempertahankan industri minyaknya serta meringankan tekanan terhadap perekonomiannya yang terpukul akibat perang dan sanksi.
China juga sudah menunjukkan pengaruh diplomatiknya. Pada 2023, China menengahi kesepakatan yang memulihkan hubungan antara Iran dan Arab Saudi setelah bertahun-tahun diliputi permusuhan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/26/a14bcb99-1c4f-403a-bb45-823911736368_jpg.jpg)
Namun, pengaruh tersebut memiliki batasan. Para pengkritik di dalam negeri Iran mengeluhkan rendahnya tingkat perdagangan dan investasi nonmigas dari China sejak kedua negara menandatangani pakta kerja sama 25 tahun pada 2021, terutama jika dibandingkan dengan komitmen investasi China yang terus meningkat di negara-negara Arab Teluk.
Meski begitu, China tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan Iran. Namun, dua sumber Iran menyatakan, kepentingan China hanya salah satu dari sekian banyak pertimbangan karena keputusan Iran dibentuk oleh berbagai prioritas strategis, ekonomi, dan politik.
Para analis berpendapat, ujian utamanya adalah apakah China bersedia menerapkan konsekuensi nyata atas tuntutannya. Pada akhirnya, menurut mereka, tanda paling jelas mengenai keseriusan China adalah adanya bukti kesediaan mereka untuk menggunakan daya tawar yang dimilikinya terhadap Iran.
Dalam sepekan terakhir, Houthi merebut kota pelabuhan Mokha dan sejumlah pulau strategis di dekat Bab el-Mandeb. Houthi juga menyerang wilayah Arab Saudi, termasuk fasilitas dan infrastruktur minyaknya, dengan pesawat nirawak dan rudal.
Arab Saudi menyebutkan puing pesawat nirawak Houthi yang berhasil dicegat menewaskan seorang warga dan melukai dua orang lainnya. Insiden itu menjadi kematian warga sipil pertama yang dilaporkan Arab Saudi dalam eskalasi serangan terbaru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/cfac2090db12dc43098edd7078683400-Mideast_Wars_Yemen_2.jpg)
Arab Saudi juga melakukan serangan udara terhadap Houthi di Yaman. Kedua pihak kini saling menyerang, sementara lebih dari 100.000 warga Yaman meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran ini. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia karena Bab el-Mandeb menjadi jalur penting bagi pengiriman energi. Serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi juga menambah tekanan terhadap pasar energi.
Di tengah meningkatnya pertempuran, upaya diplomatik terus berlangsung. Oman menjadi tuan rumah pertemuan antara pejabat AS dan perwakilan Houthi. AS sejauh ini tidak berencana untuk terlibat langsung dalam pertempuran.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman baru-baru ini juga mengunjungi Mesir yang menjadi mediator regional. Seorang pejabat pemerintah di Turki, yang juga mediator, mengatakan, pihaknya sedang berbicara dengan Iran dan Uni Emirat Arab untuk mencoba meredakan ketegangan.
Yaman adalah negara Arab termiskin. Bahkan sebelum perang saudara negara itu telah mengalami kelaparan yang meluas dalam beberapa tahun terakhir akibat konflik dan blokade yang dipimpin Arab Saudi. (REUTERS/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase