TEKNOLOGI

China: Dunia Butuh Tata Kelola AI

Beijing memperingatkan akan ada konsekuensi jika pemerintah-pemerintah tidak segera membuat tata kelola AI.

24 Jun 2026 19:30 WIB · Internasional

AFP/WANG ZHAO

Oleh Elsa Emiria Leba

DALIAN, RABU — Negara-negara menyoroti terobosan teknologi akal imitasi (AI) di tengah ketegangan geopolitik. Secara khusus, China menyerukan tata kelola untuk mencegah teknologi lepas kendali.

Isu mengenai AI mengemuka dalam Pertemuan Tahunan Para Juara Baru (Summer Davos) 2026 yang diselenggarakan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-17 di Dalian, Liaoning, China, pada 23-25 Juni 2026. Banyak pembicara menyoroti AI tidak hanya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai penghambat dalam isu ketenagakerjaan, keamanan, dan geopolitik.

Perdana Menteri China Li Qiang mendesak tata kelola AI. Dunia berisiko ”kehilangan kendali” atas teknologi mutakhir jika pemerintah terlalu lambat untuk mengaturnya.

”Kecepatan kemajuan teknologi belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan telah meningkatkan efisiensi inovasi. Namun, kita tidak dapat mengabaikan risiko yang semakin menonjol dari kehilangan kendali atas teknologi dan pelanggaran etika,” tutur Li dalam pidatonya, Rabu (24/6/2026).

Perdana Menteri China Li Qiang menyampaikan pidatonya pada upacara pembukaan Pertemuan Tahunan Para Juara Baru (Summer Davos) yang diselenggarakan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Dalian, Provinsi Liaoning, China, Rabu (24/6/2026).
Direktur Pelaksana Forum Ekonomi Dunia (WEF) Mirek Dusek menyampaikan pidato dalam Pertemuan Tahunan Para Juara Baru (Summer Davos) yang diselenggarakan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Dalian, Provinsi Liaoning, China, Selasa (23/6/2026).

Sehari sebelumnya, Selasa (23/6/2026), Direktur Pelaksana Forum Ekonomi Dunia (WEF) Mirek Dusek sudah menyerukan agar para pembuat keputusan di seluruh dunia harus memastikan bagaimana AI berdampak pada ekonomi riil.

Meski sudah mengubah industri dan ekonomi serta menawarkan peluang baru di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, dan lainnya, AI mengganggu pasar tenaga kerja serta keamanan. AI dipakai dalam pelanggaran pertahanan siber hingga penggunaan sistem dalam perang.

Gangguan semacam itu menambah beban pada sistem ekonomi internasional yang tertekan akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran sejak 28 Februari 2026. Gejolak global saat ini telah mendorong Bank Dunia untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan global tahun ini ke level terendah sejak pandemi Covid-19.

”Ekonomi dunia saat ini menghadapi lingkungan yang lesu. Kita tahu ada ancaman hilangnya peluang pertumbuhan global jika kita benar-benar memasuki keadaan fragmentasi yang parah,” tutur Dusek.

Perkembangan China

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China mencatat pengembangan teknologi AI yang luar biasa selama beberapa tahun terakhir. Tidak ayal, persaingan antara China dan AS meruncing beberapa tahun terakhir.

”Potensi perang di antara kedua kekuatan besar itu sangat mungkin terjadi,” ujar Graham Allison, profesor di Harvard Kennedy School.

Allison terkenal sebagai pencipta istilah ”perangkap Thucydides”. Teori politik ini menggambarkan peningkatan kemungkinan perang ketika kekuatan baru yang sedang naik daun, seperti China, bersaing dengan kekuatan yang sudah mapan, seperti AS.

Persaingan AS-China paling terlihat di bidang perdagangan dan teknologi. Hingga kini, kedua negara belum mencapai kata sepakat terkait dengan perang dagang setelah sempat mengenakan tarif impor kepada satu sama lain hingga tiga digit.

Selain itu, di bidang teknologi canggih, Washington membatasi akses Beijing ke teknologi mutakhir, seperti AI dan cip GPU. Sementara itu, Beijing memperketat ekspor logam tanah jarang (LTJ) yang penting untuk pengembangan teknologi canggih.

Tampilan unduhan DeepSeek asisten kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang diluncurkan oleh perusahaan asal China dengan nama yang sama. DeepsSeek meroket ketika meluncurkan aplikasinya di dua platform lokapasar Apple dan Android (Google) Pada 28 Januari 2025 aplikasi ini menjadi aplikasi paling banyak diunduh di pasar Amerika Serikat melalui AppStore (Apple), menggusur dominasi ChatGPT buatan OpenAI.

Namun, China sudah menunjukkan kemampuan untuk mencari celah di tengah tekanan. Tahun lalu, perusahaan rintisan China di bidang AI, DeepSeek, merilis model AI.

Model AI dari DeepSeek memiliki kinerja yang mendekati model-model AI yang populer di industri global. Padahal, DeepSeek hanya menggunakan cip canggih dalam jumlah yang jauh lebih sedikit sehingga sampai mengejutkan Silicon Valley dan industri di dunia.

Baru-baru ini, China kembali menunjukkan keunggulan di bidang teknologi canggih. Di bidang sistem komputasi, mesin LineShine yang berada di Pusat Komputasi Super Nasional di Shenzhen (NSCS) kini menduduki peringkat pertama dalam daftar TOP500 yang dirilis Selasa (23/6/2026).

LineShine menggeser mesin El Capitan dari Amerika Serikat yang beroperasi di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, California (LLNL). Keberhasilan ini menandai keunggulan China atas AS di bidang komputasi untuk pertama kali sejak 2017. LineShine bahkan menggunakan cip buatan dalam negeri.

Pencapaian China dalam sektor superkomputer cukup mengejutkan mengingat upaya pembatasan AS terus menguat. Pada Senin (21/6/2026), Presiden AS Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif. Ia memerintahkan perlindungan dan percepatan pengembangan komputasi kuantum dalam negeri.

Konflik terhindar

Terlepas dari persaingan itu, pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump, Mei lalu, memberikan optimisme bahwa perang dapat dihindari. Walau tidak ada kesepakatan yang mengakhiri permusuhan, keduanya mau meredakan ketegangan, termasuk membahas pengaturan pengamanan penggunaan AI.

”Pertemuan itu dapat melampaui perangkap Thucydides karena membentuk paradigma baru untuk hubungan kekuatan besar. Kedua presiden jelas mencoba untuk mendefinisikan atau membingkai hubungan kembali dengan cara yang akan mengatasi teori itu,” kata Allison.

Tampak figur plastik yang menggambarkan Presiden China Xi Jinping (tengah) sebagai Kaisar Dinasti Qing bersama istrinya Peng Liyuan (kiri) serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan yang dipajang di sebuah toko di Beijing, China, Minggu (10/5/2026). Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 13-15 Mei 2026 untuk bertemu Xi setelah sempat menunda pertemuan sebelumnya akibat perang di Timur Tengah.
Warga menunggu upacara penurunan bendera harian di bawah kibaran bendera Rusia (kiri) dan China di Tiananmen Square, Beijing, China, Selasa (19/5/2026). Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping untuk menegaskan eratnya hubungan kedua negara, beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Allison menjabarkan, Trump sudah memahami bahwa China berbeda. Apalagi, ia telah melihat kemampuan negara itu mencekik akses AS ke mineral langka yang penting sebagai tanggapan terhadap tarif tinggi AS.

”Trump menyadari bahwa dirinya sekarang berhadapan dengan seseorang yang kurang lebih setara dengannya,” tutur Allison.

Dari sisi China, tantangan pun tetap membayangi. China memang berhasil mencatat lonjakan ekspor meski terjadi gejolak global beberapa tahun terakhir.

Namun, China kesulitan untuk mengimbangi laju pertumbuhan pesat yang pernah terjadi beberapa dekade sebelumnya. Ekonomi domestik sedang lesu. Krisis utang di sektor properti membebani pertumbuhan domestik sejak pandemi. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji