”Conclave”, Kisah Politis Pemilihan Paus

Bagaimana seorang paus dipilih? Film ”Conclave” yang diangkat dari novel Robert Harris dengan judul yang sama memberikan jawabannya.

27 Feb 2025 11:05 WIB · Hiburan

Oleh Dwi AS Setianingsih

Conclave dibuka dengan adegan yang intens berupa kematian paus yang mendadak dan misterius. Para kardinal dari seluruh dunia pun segera berkumpul di Vatikan untuk menggelar konklaf (conclave), yakni pertemuan tertutup para kardinal Gereja Katolik untuk memilih paus baru. 

Selama konklaf berlangsung dalam batas waktu yang tidak ditentukan, para kardinal diisolasi di satu kapel. Di film ini, tradisi sakral tersebut dipimpin kardinal berkebangsaan Inggris, Thomas Lawrence (Ralph Fiennes). 

Akan tetapi, selama konklaf berjalan, satu per satu misteri dan skandal terkuak. Lawrence menemukan rahasia yang bisa menggoyahkan gereja. Beban sebagai seorang dekan kardinal yang dipikul Lawrence sangat berat. 

Ia berupaya memastikan penyelenggaraan konklaf bisa secepat mungkin agar publik tidak mengira gereja sedang berada dalam krisis. Maka, ia pun berusaha menguraikan masalah agar paus yang terpilih adalah orang yang sesuai. 

Salah satu adegan di film Conclave.

Persaingan

Bagi orang awam, film besutan Edward Berger ini menawarkan cerita baru dari Gereja Katolik. Walaupun bukan diangkat dari kisah nyata, Conclave menghadirkan suasana riil mengenai rumitnya pemilihan seorang paus yang sekaligus seorang kepala negara. 

Ternyata tidak mudah memilih seorang calon paus baru. Pertarungan pandangan politik dan etnis pun terjadi di dalam internal kardinal. Ada manusia yang haus akan takhta kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara. Ada juga manusia yang membawa agama sebagai tameng untuk pencalonannya. 

Conclave menghadirkan beberapa nama yang bersaing dalam pemilihan, seperti kardinal liberal Aldo Bellini (Stanley Tucci), kardinal garang Tedesco (Sergio Castellitto), kardinal pembohong Tremblay (John Lithgow), kardinal kulit hitam Adeyemi (Lucian Msamati) serta kardinal yang selama ini tidak pernah diketahui eksistensinya, kardinal Vincent Benitez (Carlos Diehz). 

Rivalitas para kardinal digambarkan sangat mencekam oleh Berger. Emosi penonton dipermainkan dengan adanya konflik satu ke konflik lain yang kemudian mengarah kepada konflik yang lebih besar lagi. Seakan-akan, tidak ada habisnya kegemparan di dalam konklaf. 

Namun, konflik tersebut ditujukan sebagai penggambaran sifat manusia. Para kardinal pun tetap manusia biasa yang memiliki nafsu akan sesuatu yang lebih besar. Conclave mengajak penonton untuk merenung. Apakah seorang pemimpin tidak boleh memiliki masa lalu yang tercela sama sekali? Apakah manusia bisa menerima pemberian-Nya sebagaimana adanya? 

Secara cerdas, Berger membuat permasalahan yang penuh lika-liku itu menjadi sangat menegangkan. Dengan latar musik karya Volker Bertelmann, Conclave berhasil membuat penonton betah mengikuti ragam polemik dan intrik di film itu selama 2 jam. Mulai dari suara piano yang berat dan rendah, kemudian berpindah pada suara gesekan biola yang tinggi dan dramatis, ”Arrival” terasa sangat pas untuk Conclave. 

Sinematografi Conclave pun tersimak sangat memukau. Sinematografer Stéphane Fontaine berhasil menciptakan suasana misterius lewat pemilihan warna yang terpadu. Seperti pada saat para kardinal berkumpul di ruangan seperti studio bioskop dengan cahaya di bagian belakang dan depan kursi sangat gelap. Kamera hanya fokus pada kardinal yang duduk tidak beraturan di tengah-tengah. Warna hijau kursi tersebut membuat gambar menjadi harmonis. 

Gelap dimanfaatkan juga di adegan lain. Seperti kegelapan dan keheningan di lorong kamar para kardinal yang menjadikan suasana terasa lebih mencemaskan. Begitu pula saat pemilihan suara di Kapel Sistine yang terkesan dingin. 

-

Keraguan

Kepada Variety (11/2/2025), Berger berkata, ”Anda bisa menyebutnya sebagai (film) thriller, tapi juga perjalanan batin yang luar biasa… ini tentang perjalanan batin Kardinal Lawrence.” 

Selain intrik politik, yang spesial dari Conclave adalah narasi tentang keraguan. Cerita menjadi terasa lebih kokoh dan manusiawi. Kardinal Lawrence digambarkan sebagai sosok yang memiliki rasa ragu, tapi juga humoris dalam menghadapi polemik. Selama konklaf berlangsung, iman Lawrence teruji lewat drama internal ataupun permasalahan dunia luar. 

Akting Fiennes, yang antara lain berperan di sejumlah film fenomenal, seperti The English Patient (1996), The Grand Budapest Hotel (2014), dan Maid in Manhattan (2002), ini tidak perlu diragukan lagi. Wajahnya kerap menunjukkan kegundahan, tapi ia mesti tenang sebagai seorang pemimpin konklaf. Duka yang terpancar dari raut wajah Fiennes pun terekam sangat alami. 

Quote

Anda bisa menyebutnya sebagai (film) ”thriller”, tapi juga perjalanan batin yang luar biasa…ini tentang perjalanan batin Kardinal Lawrence.

Di tengah-tengah persaingan para kandidat, ada suster Agnes (Isabella Rossellini) yang bertanggung jawab untuk para suster junior. Ia digambarkan selalu terlihat tegang.

Meski kehadiran Rossellini di film ini tidak banyak mendapatkan porsi, tetapi jika jeli, aksinya merupakan kunci untuk menyingkap kelamnya masalah institusi gereja. 

Di film ini, para perempuan lebih banyak diposisikan sebagai pemeran pendukung sehingga mereka kerap hanya diam. Keberanian Suster Agnes untuk bersuara mencerminkan pentingnya peran perempuan. 

-

Catatan : Artikel merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, Giofanny Sasmita, jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi AS Setianingsih
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari