Cuaca Panas dan Rumput Hibrida, Kendala Terbesar Pemain di Piala Dunia Antarklub

Piala Dunia Antarklub 2025 tidak lepas dari masalah. Permasalahan itu menjadi catatan bagi Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026.

25 Jun 2025 19:21 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Musim panas di Amerika Serikat terbukti tidak ramah bagi pemain yang berlaga di Piala Dunia Antarklub. Di saat harus berjuang menghadapi iklim dengan kelembaban tinggi, pesepak bola juga harus beradaptasi dengan permukaan lapangan yang tidak menggunakan rumput alami.

Chelsea menutup persaingan di Grup D melalui kemenangan 3-0 atas Esperance Sportive de Tunis, Rabu (25/6/2025) pagi WIB, di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, AS. Catatan kemenangan 3-0 membawa ”Si Biru” finis di posisi kedua Grup D sehingga akan menantang Benfica pada babak 16 besar.

Terlepas dari kemenangan itu, skuad Chelsea tidak hanya harus berjuang menghadapi pemain Esperance. Mereka juga harus berjibaku mengatasi cuaca panas yang memayungi Philadelphia dalam beberapa hari terakhir.

”Kami kesulitan berlatih karena cuaca sangat panas. Kondisi itu menyulitkan pemain,” ungkap Manajer Chelsea Enzo Maresca tentang cuaca panas di Philadelphia, yang menyentuh 36 derajat celsius jelang laga ketiga timnya, seusai pertandingan itu, dilansir BBC.

Keputusan merotasi delapan pemain dibandingkan susunan pemain pada laga kedua kontra Flamengo, kata Maresca, juga didasari kondisi kebugaran pemain yang tidak ideal bermain di bawah cuaca panas di AS.

Pemain Chelsea, Benoit Badiashile, membasahi wajahnya pada jeda rehidrasi saat menghadapi Esperance de Tunis pada laga penyisihan Grup D Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, Selasa (24/6/2025) waktu setempat. Cuaca panas menjadi salah satu kendala terbesar ajang itu.

”Mustahil tidak melakukan rotasi kepada pemain karena mereka bermain setiap tiga hari dengan kondisi (panas) seperti ini,” ujarnya kemudian.

Borussia Dortmund menjadi tim yang menunjukkan amat berpengaruhnya terik cuaca panas pada performa mereka ketika berjumpa duta Afrika Selatan, Mamelodi Sundowns, Sabtu (21/6/2025), di Stadion TQL, Cincinnati.

Sejak babak pertama, para pemain cadangan menyaksikan rekan setimnya berlaga di ruang ganti, bukan di sisi lapangan. Suhu mencapai 36 derajat celsius menjadi penyebabnya.

Quote

Bola memantul seperti kelinci. Kondisi itu menyulitkan kami memainkan gaya permainan kami. - Luis Enrique -

Dortmund hanya mampu menjaga level permainan tinggi selama 60 menit. Mereka unggul 4-1 dalam satu jam permainan. Setelah itu, Sundowns mampu memanfaatkan kelelahan Dortmund dengan mencetak dua gol.

”Kami berkeringat layaknya tengah berada di sauna,” ujar Pelatih Dortmund Niko Kovac, seperti dikutip USA Today.

Penyerang Esperance Sportive de Tunis, Yan Sasse, meninggalkan lapangan untuk jeda rehidrasi saat menghadapi Chelsea pada laga penyisihan Grup D Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, Amerika Serikat, Selasa (24/6/2025) waktu setempat. Cuaca panas menjadi salah satu kendala terbesar ajang itu.

Panas yang merata

Dilaporkan CBS News, suhu panas ekstrem panas melanda sisi tengah dan timur AS saat memasuki akhir Juni ini. Dari 11 kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia Antarklub 2025, hanya dua kota yang dilaporkan tidak dilanda cuaca panas rerata di atas 90 derajat fahrenheit atau 32 derajat celsius. Dua kota itu adalah Pasadena (California) dan Seattle (Washington).

Tiga kota yang menggelar laga pada awal pekan ini, yakni Cincinnati, Nashville, dan Atlanta, bersuhu rata-rata lebih dari 32 derajat celsius. Adapun tiga kota lain, yakni New Jersey, Philadelphia, serta Washington DC, dikabarkan selama satu minggu ke depan bakal terkena suhu panas mencapai 38 derajat celsius.

Tidak hanya mudah lelah, cuaca panas yang dialami pemain bisa mempercepat pemain menghadapi dehidrasi, keram, hingga heatstroke. Maka, sejak matchday pertama, mayoritas laga menerapkan cooling break (jeda rehidrasi) ketika memasuki menit ke-30 dan ke-75. Jeda itu untuk memberikan waktu kepada pemain beristirahat dan minum.

Tidak hanya pemain, cuaca panas juga dikeluhkan para suporter yang datang menyaksikan pertandingan. Tidak sedikit pendukung bahkan melepas baju mereka.

”Di Eropa, panasnya lebih kering, di sini (AS) udara panas memiliki kelembaban lebih tinggi. Saya pikir udara panas ini dua kali lebih menyiksa pemain dibandingkan ketika mereka bermain di Eropa,” kata Tyler Fernando, salah seorang pendukung yang menyaksikan laga Bayern Muenchen versus Benfica di Charlotte.

infografik Piala Dunia Antarklub 2025-Pembagian Grup-Kota Penyelenggaraan dan Stadion

Pada laga yang dimenangi Benfica, 1-0, itu, suhu di sekitar stadion mencapai 36 derajat celcius. ”Sulit untuk mempertahankan performa dengan kondisi (panas) itu,” ucap Vincent Kompany, pelatih Bayern, seusai pertandingan, dilansir laman klub tersebut.

Terlepas dari udara panas, wilayah di pantai timur juga beberapa kali dihantam hujan badai. Tercatat lima pertandingan fase grup Piala Dunia Antarklub 2025 dihentikan karena hujan keras yang dibarengi petir hadir di sekitar area stadion.

Kelima pertandingan itu ialah Auckland City kontra Boca Juniors di Nashville, lalu laga Auckland melawan Benfica di Orlando. Hal serupa terjadi antara Palmeiras dan Al Ahly di New Jersey.

Pertandingan yang juga ditunda akibat hujan badai adalah RB Salzburg kontra Pachuca di Cincinnati serta duel Ulsan melawan Mamelodi di Orlando. Kondisi cuaca ekstrem itu berpeluang juga terjadi pada Piala Dunia 2026 tahun depan.

Masalah lapangan

Di luar masalah panas, tim-tim Eropa juga mempermasalahkan lapangan di AS. Sejumlah lapangan menggunakan rumput hibrida yang memadukan rumput alami dengan sintetis.

Pemain Bayern Muenchen, Sacha Boey, merehidrasi tubuhnya saat di pertengahan laga kontra Banefica pada penyisihan Grup C Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 di Stadion Bank of America, Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat, Selasa (24/6/2025) waktu setempat. Cuaca panas menjadi salah satu kendala terbesar ajang itu.

Pelatih Paris Saint-Germain (PSG) Luis Enrique melontarkan kritik tentang kualitas lapangan Stadion Lumen Field di Seattle. PSG menjalani laga versus Seattle Sounders di arena olahraga yang juga digunakan tim Liga American Football (NFL), Seattle Seahawks.

Lumen Field umumnya menggunakan rumput sintetis ketika digunakan Sounders di Liga AS (MLS) dan Seattle Seahawks di NFL. Khusus di Piala Dunia Antarklub, arena itu menggunakan rumput hibrida.

”Bola memantul seperti kelinci. Kondisi itu menyulitkan kami memainkan gaya permainan kami,” ucap Enrique, dilansir BBC.

Jude Bellingham, gelandang Real Madrid, menganggap dua lapangan yang telah dijajal Real di Piala Dunia Antarklub tidak ideal untuk menyelenggarakan pertandingan level tinggi. Menurut dia, lapangan itu membuat para pemain sulit mengontrol bola dan rentan cedera.

”Lapangan benar-benar tidak bagus. Bola sulit dikendalikan. Kondisi itu juga tidak baik untuk lutut. Saya harap kondisi ini diperhatikan secara saksama untuk perhelatan Piala Dunia tahun depan,” tutur Bellingham. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti