WHO menyatakan Myanmar Darurat Tingkat Tiga. Kerja penyelamatan kurang maksimal karena petugas mudah lelah. Situasi kian sulit karena beragam keterbatasan.
31 Mar 2025 19:02 WIB · Internasional
BANGKOK, SENIN — Memasuki hari ketiga pascagempa, cuaca panas menyengat Myanmar. Suhu panas membuat petugas penyelamatan kelelahan. Situasi itu juga membuat harapan para petugas untuk menemukan dan menyelamatkan lebih banyak korban selamat kian menipis. Hingga Senin (31/3/2025), jumlah korban tewas tercatat 2.056 orang dan luka-luka lebih dari 3.900 orang.
Sepanjang Senin siang, suhu di kota Mandalay, misalnya, diperkirakan mencapai 40 derajat celsius atau 104 Fahrenheit. Suhu panas membuat pergerakan tim penyelamatan kurang lincah.
Panas menyengat membuat petugas penyelamat kelelahan. Panas terik juga mempercepat pembusukan tubuh sehingga menyulitkan proses identifikasi.
Menurut laporan media Myanmar, Myanmar Now, pada Senin ini, gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 pada Jumat (28/3/2025) sore itu menimbulkan kerusakan luas di Naypyidaw, Mandalay, Sagaing, dan Negara Bagian Shan bagian selatan. Wilayah-wilayah itu mengalami kehancuran. Negara tetangga, Thailand, juga terdampak gempa tersebut. Gempa merobohkan bangunan, jembatan, dan merusak jalan. Sementara upaya penyelamatan masih berlangsung di wilayah-wilayah itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/3947f330-513a-4303-8532-e3748cae5bf4_jpg.jpg)
Departemen Meteorologi dan Hidrologi Myanmar melaporkan, setelah gempa dahsyat pada Jumat sore, kemudian terjadi 34 gempa susulan dengan magnitudo mulai dari 3,0 hingga 7,7. Gempa susulan semakin memperparah krisis dan menimbulkan kepanikan.
Gempa susulan mendorong penduduk mengungsi ke jalan-jalan dan ruang terbuka. Sudah tiga hari ini penduduk di wilayah-wilayah terdampak tidur di tempat terbuka.
Gempa juga merobohkan infrastruktur bandara dan tempat ibadah. Umat Muslim Myanmar menggelar shalat Id pada Senin pagi ini di masjid yang hancur di Mandalay.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/676b6fd7-7090-4761-aeea-82ea9faae34f_jpg.jpg)
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) meluncurkan penggalangan bantuan darurat pada hari Minggu kemarin. IFRC berharap bisa mendapatkan lebih dari 100 juta dollar AS guna membantu para korban.
Jaringan kemanusiaan terbesar di dunia itu mengatakan, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan meningkat setiap jam akibat meningkatnya suhu dan musim hujan yang semakin dekat meningkatkan risiko ”krisis sekunder”.
”Kehancuran telah meluas, dan kebutuhan kemanusiaan meningkat setiap jam,” ujar IFRC dalam sebuah pernyataan.
Amerika Serikat menjanjikan bantuan sebesar 2 juta dollar AS melalui organisasi bantuan kemanusiaan yang berbasis di Myanmar. AS, dalam sebuah pernyataan, mengatakan, tim tanggap darurat dari USAID yang mengalami pemotongan besar-besaran di bawah pemerintahan Trump akan dikerahkan ke Myanmar.
Sementara China, menurut Kantor Berita Xinhua, telah mengirim bantuan tahap pertama senilai 100 juta yuan atau 13,78 juta dollar AS ke Myanmar pada Senin ini. Bantuan itu termasuk tenda, selimut, dan perlengkapan pertolongan pertama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/31/bc232405b1974a594763dad8a7b228d1-FAK_9625.jpg)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, gempa Myanmar menyebabkan kondisi darurat di Myanmar ada di tingkat tertinggi. ”WHO mengklasifikasikan krisis (di Myanmar) sebagai keadaan darurat Kelas 3. Berada di level ini artinya situasi di Myanmar ada di tingkat darurat tertinggi berdasarkan Kerangka Tanggap Darurat,” kata WHO.
WHO mengatakan, diperlukan biaya 8 juta dollar AS untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah wabah penyakit selama 30 hari ke depan. Menurut WHO, tingginya jumlah korban dan cedera terkait trauma membutuhkan perawatan darurat segera.
Di saat sama, pasokan listrik dan air di Myanmar terganggu. WHO menyatakan, pemindahan korban luka ke tempat penampungan yang penuh sesak, dikombinasikan dengan kerusakan sistem air dan infrastruktur sanitasi, meningkatkan risiko wabah penyakit menular secara tajam.
”Hal itu memperburuk akses ke layanan kesehatan dan meningkatkan risiko wabah penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan,” kata WHO.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/e8a47902-5fc5-461f-8a93-31b614c35310_jpg.jpg)
WHO menambahkan, ada situasi darurat lain, yaitu risiko infeksi menjadi tinggi akibat terbatasnya kapasitas bedah di Myanmar. ”Cedera terkait trauma, seperti patah tulang, luka terbuka, dan sindrom remuk, berisiko tinggi terhadap infeksi dan komplikasi karena terbatasnya kapasitas bedah dan pencegahan serta pengendalian infeksi yang tidak memadai,” ujar WHO.
WHO menyatakan, rumah sakit di Myanmar sudah kewalahan. Sementara skala kematian, cedera, dan kerusakan fasilitas kesehatan belum sepenuhnya dipahami. ”Gempa bumi ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan, ditandai dengan pengungsian yang meluas, sistem kesehatan yang rapuh, dan wabah penyakit termasuk kolera,” kata WHO.
Menurut WHO, pengawasan penyakit harus segera diperkuat untuk mencegah wabah kolera, demam berdarah, dan penyakit menular lainnya. Itu sebabnya WHO membutuhkan pendanaan segera untuk mencegah penyakit, serta menstabilkan dan memulihkan layanan kesehatan penting.
”Tanpa pendanaan segera, nyawa akan hilang dan sistem kesehatan yang rapuh akan goyah,” kata WHO.
Sampai saat ini, menurut WHO, kebutuhan kesehatan yang mendesak meliputi perawatan trauma dan bedah, persediaan transfusi darah, anestesi, dan obat-obatan penting.
Pasokan pertama peralatan trauma untuk mengobati luka parah dan patah tulang, serta tenda serbaguna berkapasitas 1.000 tempat tidur telah mencapai rumah sakit di Ibu Kota Naypyidaw. Pasokan dikirim dari persediaan darurat WHO di Yangon. Persediaan serupa sedang dalam perjalanan lebih jauh ke utara menuju Rumah Sakit Umum Mandalay.
Selain intervensi darurat, WHO mengatakan, kesinambungan layanan penting seperti imunisasi dan kesehatan ibu dan anak juga penting selama 30 hari mendatang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/7d0745e0-4ae0-449e-8cd8-9007322067d7_jpg.jpg)
Myanmar Now juga melaporkan, junta militer melarang jurnalis internasional untuk meliput bencana gempa bumi di Myanmar. Para jurnalis tidak bisa mengakses wilayah yang hancur akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7. Junta militer ingin menutupi informasi dan pemberitaan akibat gempa.
Juru Bicara Junta Militer Mayor Jenderal Zaw Min Tun, Minggu (30/3/2025), mengeluarkan pernyataan audio. Ia mengatakan, para jurnalis asing tidak mungkin datang, tinggal, mencari tempat berteduh, atau bergerak di Myanmar. ”Kami ingin semua orang memahami hal ini,” katanya.
Junta militer beralasan, para jurnalis internasional tidak bisa melakukan peliputan dengan alasan kurangnya layanan penting, seperti air, listrik, dan akomodasi.
Meskipun demikian, media independen termasuk Myanmar Now, terus melaporkan bencana tersebut. Media-media ini mengandalkan jurnalis yang bekerja secara rahasia di Myanmar. Mereka juga mengandalkan jurnalis yang melaporkan kondisi Myanmar dari Thailand. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk memberikan informasi penting dan terkini.
Tekanan junta terhadap kebebasan media telah terdokumentasi dengan baik. Pada tahun 2023, jurnalis foto Myanmar Now, Sai Zaw Thaike, ditangkap saat mendokumentasikan dampak Siklon Mocha. Hakim memvonis dia dengan hukuman 20 tahun penjara.
Dengan situasi darurat pascagempa, penolakan akses bagi jurnalis asing menimbulkan kekhawatiran serius tentang transparansi junta militer dan kondisi sebenarnya pascagempa dan krisis kemanusiaan di Myanmar. Adapun jurnalis lokal menghadapi penganiayaan berat dan aliran informasi independen tetap sangat dibatasi. Faktor-faktor tersebut menghambat penilaian obyektif pada bencana dan efektivitas bantuan.
Komunitas internasional berulang kali mengecam tindakan junta, serta menuntut akses tanpa batas bagi bantuan kemanusiaan dan media yang independen. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo H