VIENNA, SABTU — Iran siap menghentikan pembalasan ke Israel dengan satu telepon saja. Iran selalu siap berunding dengan siapa pun yang serius mencari solusi damai.
Kepada CNN, seorang pejabat Iran mengatakan, pembalasan Iran ke Israel akan berhenti cukup dengan satu telepon. ”Iran percaya pada dialog yang beradab, langsung atau tidak langsung. Presiden Trump bisa dengan mudah menghentikan perang dengan satu telepon ke Israel,” kata Juru Bicara Kantor Wakil Presiden Iran Majid Farahani.
Israel terus menyerang Iran sejak Jumat pekan lalu. Pada Sabtu (21/6/2025), serangan Israel menyasar Teheran, Qom, dan Isfahan. Sejumlah rumah susun menjadi sasaran serangan itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, sangat sulit meminta Israel berhenti menyerang. Sebab, Israel dianggap sedang dalam posisi menang. ”Sangat susah berhenti, jika anda melihat, Israel sukses dalam perang,” ujarnya sebagaimana dikutip CNN.
Ia juga menyebut upaya Eropa menghentikan serangan Israel ke Iran tidak menyelesaikan masalah. ”Mereka tidak membantu. Iran tidak mau bicara dengan Eropa. Mereka (Iran) mau bicara dengan kami,” katanya.
Pernyataan disampaikan setelah delegasi Iran bertemu perwakilan Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa di Swiss. Pertemuan pada Jumat itu berakhir tanpa kesepakatan soal serangan Israel ke Iran. Meski demikian, para pihak setuju terus membuka ruang diplomasi.
”Hasil yang baik hari ini adalah bahwa kami meninggalkan ruangan dengan kesan bahwa Iran siap membahas lebih lanjut semua pertanyaan penting. Sangat penting bagi Amerika Serikat mengambil bagian dalam negosiasi ini dan solusinya,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul.
Menlu Perancis Jean-Noel Barrot menambahkan, tidak ada solusi definitif melalui cara militer untuk masalah nuklir Iran. Operasi militer dapat menunda program nuklir Iran, tetapi tidak dapat menghilangkannya
“Berbahaya memaksakan perubahan rezim dari luar. Terserah kepada rakyat untuk menentukan nasib mereka sendiri,” ujar Barrot merujuk keinginan Israel membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Barrot mengajak Iran agar mau mempertimbangkan negosiasi tanpa menunggu serangan Israel berhenti. Walaupun mereka juga mengharapkan penghentian serangan.
Menlu Inggris David Lammy menyampaikan, sangat penting agar konflik tidak memicu eskalasi di tingkat regional. Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan, eskalasi regional tidak menguntungkan siapa pun.
Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran siap kembali berdiplomasi asalkan agresi Israel berhenti. ”Iran siap mempertimbangkan diplomasi sekali lagi dan setelah agresi dihentikan serta si agresor dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan. Kami mendukung kelanjutan diskusi dengan Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa dan siap bertemu lagi dalam waktu dekat,” kata Araghchi, dilansir dari The Guardian.
Bahaya nuklir
Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan, serangan Israel telah membahayakan keselamatan dan keamanan nuklir di Iran. Walau serangan belum menyebabkan kebocoran radiologi, tetap ada risiko hal itu terjadi.
”Serangan bersenjata dapat melepaskan radioaktif dengan konsekuensi serius di dalam dan di luar batas negara yang diserang. Saya kembali menyerukan pengendalian diri. Eskalasi militer mengancam nyawa dan menunda upaya menuju solusi diplomatik untuk jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir,” kata Grossi dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa.
Grossi pun menjabarkan situasi fasilitas nuklir Iran saat ini. Fordow adalah lokasi utama Iran memperkaya uranium hingga 60 persen. IAEA tidak mengetahui adanya kerusakan di Fordow saat ini.
Di Kota Natanz, terdapat dua fasilitas, yaitu pabrik pengayaan bahan bakar dan pabrik pengayaan bahan bakar percontohan. Infrastruktur listrik di pabrik pengayaan bahan bakar hancur, sedangkan bangunan pabrik pengayaan bahan bakar percontohan rusak parah.
Tingkat radioaktif di Natanz normal. Akan tetapi, di dalam fasilitas terdapat kontaminasi radiologis dan kimia. Ada kemungkinan isotop uranium tersebar di dalam fasilitas tersebut. Kekhawatiran utama di dalam fasilitas tersebut adalah toksisitas kimia.
Di Kota Isfahan, empat bangunan rusak, yaitu laboratorium kimia pusat, pabrik konversi uranium, pabrik pembuatan bahan bakar reaktor Teheran, dan fasilitas pemrosesan logam uranium yang diperkaya. ”Tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi. Seperti di Natanz, kekhawatiran utama adalah toksisitas kimia,” ujar Grossi.
Grossi turut mencatat kerusakan pada Reaktor Penelitian Air Berat Khondab di Arak, Pusat Penelitian Nuklir Teheran (TNRC), dan fasilitas di Karaj. Ia memperingatkan agar tidak ada serangan yang menargetkan Reaktor Riset Nuklir Teheran dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr yang sedang beroperasi karena dampaknya bisa fatal.
”Solusi diplomatik dapat dicapai jika ada kemauan politik. Unsur-unsur untuk mencapai kesepakatan telah dibahas. Melalui sistem inspeksi yang ketat, IAEA dapat menjamin senjata nuklir tidak akan dikembangkan di Iran,” kata Grossi.
Dalam laporan IAEA, Iran kini memiliki 408,6 kilogram uranium U-235 per Mei 2025. Pengayaan uranium telah mencapai 60 persen. Aras itu masih di bawah kebutuhan untuk memproduksi bom nuklir, yakni 90 persen.
Israel tidak kunjung memberi tanda akan berhenti menyerang. Panglima Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir mengatakan, warga Israel harus siap menghadapi operasi militer yang berkepanjangan. ”Operasi militer belum berakhir. Meskipun kita telah membuat pencapaian yang signifikan, hari-hari yang sulit masih akan datang,” kata Zamir.
Dalam wawancara dengan media Jerman Bild, diplomat Israel Gideon Saar menyampaikan, ia ”tidak terlalu” percaya pada diplomasi dengan Iran. ”Semua upaya diplomatik sejauh ini gagal,” ucapnya.
Baik AS maupun Israel khawatir Iran akan mengembangkan nuklir sampai ke taraf senjata. Selama ini, Iran terus membantah karena ingin menggunakan nuklir untuk kepentingan rakyat. (AFP/AP)
VIENNA, SABTU — Iran siap menghentikan pembalasan ke Israel dengan satu telepon saja. Iran selalu siap berunding dengan siapa pun yang serius mencari solusi damai.
Kepada CNN, seorang pejabat Iran mengatakan, pembalasan Iran ke Israel akan berhenti cukup dengan satu telepon. ”Iran percaya pada dialog yang beradab, langsung atau tidak langsung. Presiden Trump bisa dengan mudah menghentikan perang dengan satu telepon ke Israel,” kata Juru Bicara Kantor Wakil Presiden Iran Majid Farahani.
Israel terus menyerang Iran sejak Jumat pekan lalu. Pada Sabtu (21/6/2025), serangan Israel menyasar Teheran, Qom, dan Isfahan. Sejumlah rumah susun menjadi sasaran serangan itu.
Serial Artikel
Mengapa Trump Menunda Serang Iran?
Sudah setuju rencana serangan, Presiden Donald Trump mendadak menunda serangan sampai dua pekan. Apa alasannya?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, sangat sulit meminta Israel berhenti menyerang. Sebab, Israel dianggap sedang dalam posisi menang. ”Sangat susah berhenti, jika anda melihat, Israel sukses dalam perang,” ujarnya sebagaimana dikutip CNN.
Ia juga menyebut upaya Eropa menghentikan serangan Israel ke Iran tidak menyelesaikan masalah. ”Mereka tidak membantu. Iran tidak mau bicara dengan Eropa. Mereka (Iran) mau bicara dengan kami,” katanya.
Pernyataan disampaikan setelah delegasi Iran bertemu perwakilan Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa di Swiss. Pertemuan pada Jumat itu berakhir tanpa kesepakatan soal serangan Israel ke Iran. Meski demikian, para pihak setuju terus membuka ruang diplomasi.
”Hasil yang baik hari ini adalah bahwa kami meninggalkan ruangan dengan kesan bahwa Iran siap membahas lebih lanjut semua pertanyaan penting. Sangat penting bagi Amerika Serikat mengambil bagian dalam negosiasi ini dan solusinya,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul.
Menlu Perancis Jean-Noel Barrot menambahkan, tidak ada solusi definitif melalui cara militer untuk masalah nuklir Iran. Operasi militer dapat menunda program nuklir Iran, tetapi tidak dapat menghilangkannya
“Berbahaya memaksakan perubahan rezim dari luar. Terserah kepada rakyat untuk menentukan nasib mereka sendiri,” ujar Barrot merujuk keinginan Israel membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Barrot mengajak Iran agar mau mempertimbangkan negosiasi tanpa menunggu serangan Israel berhenti. Walaupun mereka juga mengharapkan penghentian serangan.
Serial Artikel
Trump Kirim Senjata Tambahan dan Ultimatum Pengosongan Teheran
Seperti sekutu di Surabaya 1945, kini Trump mengultimatum warga Teheran mengungsi. Trump juga mengirimkan armada tambahan ke Timur Tengah
Menlu Inggris David Lammy menyampaikan, sangat penting agar konflik tidak memicu eskalasi di tingkat regional. Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan, eskalasi regional tidak menguntungkan siapa pun.
Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran siap kembali berdiplomasi asalkan agresi Israel berhenti. ”Iran siap mempertimbangkan diplomasi sekali lagi dan setelah agresi dihentikan serta si agresor dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan. Kami mendukung kelanjutan diskusi dengan Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa dan siap bertemu lagi dalam waktu dekat,” kata Araghchi, dilansir dari The Guardian.
Bahaya nuklir
Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan, serangan Israel telah membahayakan keselamatan dan keamanan nuklir di Iran. Walau serangan belum menyebabkan kebocoran radiologi, tetap ada risiko hal itu terjadi.
”Serangan bersenjata dapat melepaskan radioaktif dengan konsekuensi serius di dalam dan di luar batas negara yang diserang. Saya kembali menyerukan pengendalian diri. Eskalasi militer mengancam nyawa dan menunda upaya menuju solusi diplomatik untuk jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir,” kata Grossi dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa.
Grossi pun menjabarkan situasi fasilitas nuklir Iran saat ini. Fordow adalah lokasi utama Iran memperkaya uranium hingga 60 persen. IAEA tidak mengetahui adanya kerusakan di Fordow saat ini.
Di Kota Natanz, terdapat dua fasilitas, yaitu pabrik pengayaan bahan bakar dan pabrik pengayaan bahan bakar percontohan. Infrastruktur listrik di pabrik pengayaan bahan bakar hancur, sedangkan bangunan pabrik pengayaan bahan bakar percontohan rusak parah.
Serial Artikel
IAEA Temukan Pengayaan Nuklir Iran Mendekati Level Senjata
Pengayaan nuklir Iran mencapai 60 persen dan hanya perlu waktu singkat mencapai 90 persen, cukup untuk bom. Iran menyangkalnya.
Tingkat radioaktif di Natanz normal. Akan tetapi, di dalam fasilitas terdapat kontaminasi radiologis dan kimia. Ada kemungkinan isotop uranium tersebar di dalam fasilitas tersebut. Kekhawatiran utama di dalam fasilitas tersebut adalah toksisitas kimia.
Di Kota Isfahan, empat bangunan rusak, yaitu laboratorium kimia pusat, pabrik konversi uranium, pabrik pembuatan bahan bakar reaktor Teheran, dan fasilitas pemrosesan logam uranium yang diperkaya. ”Tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi. Seperti di Natanz, kekhawatiran utama adalah toksisitas kimia,” ujar Grossi.
Grossi turut mencatat kerusakan pada Reaktor Penelitian Air Berat Khondab di Arak, Pusat Penelitian Nuklir Teheran (TNRC), dan fasilitas di Karaj. Ia memperingatkan agar tidak ada serangan yang menargetkan Reaktor Riset Nuklir Teheran dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr yang sedang beroperasi karena dampaknya bisa fatal.
”Solusi diplomatik dapat dicapai jika ada kemauan politik. Unsur-unsur untuk mencapai kesepakatan telah dibahas. Melalui sistem inspeksi yang ketat, IAEA dapat menjamin senjata nuklir tidak akan dikembangkan di Iran,” kata Grossi.
Dalam laporan IAEA, Iran kini memiliki 408,6 kilogram uranium U-235 per Mei 2025. Pengayaan uranium telah mencapai 60 persen. Aras itu masih di bawah kebutuhan untuk memproduksi bom nuklir, yakni 90 persen.
Israel tidak kunjung memberi tanda akan berhenti menyerang. Panglima Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir mengatakan, warga Israel harus siap menghadapi operasi militer yang berkepanjangan. ”Operasi militer belum berakhir. Meskipun kita telah membuat pencapaian yang signifikan, hari-hari yang sulit masih akan datang,” kata Zamir.
Dalam wawancara dengan media Jerman Bild, diplomat Israel Gideon Saar menyampaikan, ia ”tidak terlalu” percaya pada diplomasi dengan Iran. ”Semua upaya diplomatik sejauh ini gagal,” ucapnya.
Baik AS maupun Israel khawatir Iran akan mengembangkan nuklir sampai ke taraf senjata. Selama ini, Iran terus membantah karena ingin menggunakan nuklir untuk kepentingan rakyat. (AFP/AP)