Kompas.id Brief

Mengapa Trump Menunda Serang Iran?

Sudah setuju rencana serangan, Presiden Donald Trump mendadak menunda serangan sampai dua pekan.  Apa alasannya?

21 Jun 2025 08:29 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Sejauh ini, apa keputusan Trump terkait keterlibatan AS?
  2. Mengapa Trump menunda keputusan?
  3. Apa pendapat negara-negara lainnya atas sikap AS?
  4. Bagaimana gambaran kekuatan militer AS di Timur Tengah
  5. Bagaimana sikap warga dan politisi AS?

Sejauh ini, apa keputusan Trump terkait keterlibatan AS?

copy title

Trump menunda keputusan soal serangan ke Iran, Kamis (19/6/2025), waktu setempat. “Berdasarkan perkembangan situasi ada peluang untuk berunding dengan Iran. Saya akan memutuskan berperang atau tidak jadi berperang dalam dua pekan,” demikian keterangan Trump yang dibacakan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt di Washington DC.

Leavitt mengatakan, prioritas Trump adalah memastikan Iran tidak membangun senjata nuklir. Sudah 30 tahun lamanya AS-Israel berulang kali menyatakan Iran semakin dekat memiliki senjata nuklir. Padahal, pemeriksaan pengawas independen dan intelijen AS menyatakan sebaliknya.

Pernyataan penundaan itu keluar setelah Trump bolak-balik mengancam menyerang Iran. Trump bahkan sempat memberi ultimatum agar Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerah.

The Wall Street Journal dan Kantor Berita CBS sebelumnya melaporkan, Trump sudah menyetujui rencana menyerang Iran. Namun, entah kapan serangan dilancarkan.

Mengapa Trump menunda keputusan?

copy title

Salah satu alasan Israel ingin AS ikut berperang adalah kepemilikan AS atas bom GBU-57 dan pesawat pengebom B-2. Israel tidak punya senjata apa pun untuk menembus gudang nuklir Iran.

Bom GBU-57 yang seberat 13,6 ton itu kerap disebut penembus bunker. Menurut Defense Threat Reduction Agency (DTRA) AS, yang mengembangkan GBU-57, bom itu bisa menembus bunker di kedalaman hingga 60 meter. Sejak 2015, AS membuat setidaknya 20 GBU-57. Hanya pesawat pengebom B-2 yang bisa menjatuhkan bom tersebut.

Namun, tampaknya Trump tidak yakin bom itu bisa menembus fasilitas nuklir Iran. Gudang nuklir Iran diduga dibangun setidaknya 200 meter di bawah permukaan tanah. Di permukaan, ada bukit granit dan batu-batuan setebal 100 meter.

Sementara itu, gudang nuklir Iran dibangun dengan beton khusus yang dirancang bisa menyerap efek ledakan. Artinya, AS harus berulang kali terbang ke atas gudang yang disasar. ”Tidak cukup sekali serangan,” kata Mayor Jenderal (Purn) Randy Manner, mantan Wakil Direktur DTRA.

Apa pendapat negara-negara lainnya atas sikap AS?

copy title

Dilaporkan CNN, Israel kecewa karena AS tidak kunjung menyerang Iran. Sejauh ini, AS hanya membantu Israel menangkis rudal dan pesawat nirawak Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengingatkan AS untuk berpikir ulang jika ingin mengintervensi konflik terbuka Iran-Israel. “Amerika harus tahu bahwa intervensi militer apa pun niscaya akan mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki,” kata Khamenei.

Niat AS menyerang Iran dikritik sejumlah negara. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, AS bisa membuat situasi perang lebih buruk jika sampai terlibat langsung. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan diri untuk membantu proses mediasi Israel-Iran.

Bagaimana gambaran kekuatan militer AS di Timur Tengah?

copy title

AS punya aset militer di setidaknya 19 pangkalan darat di Timur Tengah. Kecuali Yaman, tidak ada negara Arab tanpa kehadiran pangkalan AS. Setidaknya ada 40.000 tentara AS di Timur Tengah. Mereka berada di Bahrain, Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Jordania, Irak, dan Suriah.

AS sedang menyiapkan dua kapal induk, USS Nimitz dan USS Carl Vinson, di sekitar Iran. Pesawat tempur AS di sekitar Iran bukan hanya di geladak Nimitz dan Carl Vinson. AS punya Skuadron A-10 Thunderbolt II di pangkalan darat di Timur Tengah.

U.S. Air Force F-22 Raptors arrived in the U.S. Central Command area of responsibility Aug. 8, 2024, as part of U.S. force posture changes in the region to address threats posed by Iran and Iranian-backed groups. The deployment of the F-22s to the Middle East is part of U.S. force posture changes in the region recently announced by the Department of Defense to mitigate the possibility of regional escalation by Iran or its proxies. (U.S. Air Force photo)

AS juga menyiagakan jet tempur F-16 dan F-15E di kawasan itu. Sampai Desember 2024, AS pernah menempatkan F-22 di Timur Tengah selama setahun. Lalu, AS memulangkan jet tempur itu.

AS pun mengoperasikan sejumlah pesawat nirawak baik untuk intai maupun serbu. Pesawat MQ-9 AS bolak-balik dijatuhkan Houthi dari Yaman.

Bagaimana sikap warga dan politisi AS?

copy title

Rakyat AS terbelah soal keterlibatan AS di Iran. Jajak pendapat Economist/YouGov selama 13-16 Juni menemukan, 60 persen dari 1.512 warga AS tidak ingin AS terlibat perang Israel-Iran. Terkait program nuklir Iran, 56 persen percaya AS harus menempuh jalur negosiasi.

Selain Partai Demokrat, beberapa orang Republikan ikut khawatir. Anggota kongres, Thomas Massie; anggota Kongres, Marjorie Taylor Greene; mantan penasihat senior, Trump Steve Bannon; aktivis politik Charlie Kirk; dan pakar konservatif Tucker Carlson menganggap keterlibatan langsung AS mengkhianati koalisi Trump dan menyebabkan perpecahan di kalangan pendukung misi MAGA (Make America Great Again).

Orang-orang yang menolak perang masih trauma akan perang Irak dan Afghanistan di Timur Tengah yang berkepanjangan. Setelah AS menyerang Irak pada 2003, perang berlangsung selama hampir sembilan tahun sampai menewaskan 4.000 tentara AS dan 100.000 warga Irak.

Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute di Washington DC Trita Parsi menuturkan, Iran mungkin tidak bertahan lama dalam pertempuran melawan AS. Akan tetapi, perang itu juga tidak akan mudah bagi AS. “Iran adalah negara yang sangat besar, yang berarti akan ada banyak sekali target yang harus diserang Amerika Serikat,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari