Pihak sekolah kecewa lantaran vendor penyedia MBG malah balik menuduh sekolah melakukan rekayasa. Vendor pun secara sepihak menghentikan pengiriman MBG ke sekolah.
25 Feb 2025 13:58 WIB · Nusantara
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, bermasalah. Daging ayam yang dibagikan kepada siswa terlihat mentah karena masih berdarah. Ada juga helaian rambut yang ditemukan dalam kotak makanan.
Hamuli Ngguna Manggil, Kepala SD Inpres 3 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, lewat sambungan telepon pada Selasa (25/2/2025) mengatakan, daging mentah berdarah itu ditemukan dalam dua kotak makan. ”Pas mau makan, siswa lihat itu sehingga tidak mau makan,” katanya.
Temuan pada Rabu (19/2/2025) itu, lanjut Hamuli, menambah temuan lain sejak sekolah itu menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Senin pekan lalu. Temuan lain adalah di dalam kontak makan terdapat helaian rambut sehingga membuat anak-anak merasa jijik.
Ada juga menu yang menurut pihak sekolah tidak bergizi. ”Pada hari pertama, siswa dikasih nasi dan mi. Nasi belum matang. Kami pihak sekolah sempat pertanyakan gizi makanan itu. Nasi dan mi, di mana gizinya? Tetapi, ahli gizi (dari pihak vendor) bilang, makanan itu bergizi. Kami ikut saja,” tutur Hamuli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/78e927b99c2a6db105abe5d1c3ee9eba-1000541059.jpg)
Temuan ayam mentah berdarah itu membuat heboh sehingga pihak vendor dan aparat keamanan ramai-ramai datang ke sekolah. Bukannya meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki pelayanan, menurut Hamuli, pihak vendor malah marah-marah.
”Mereka balik menuduh kami dari sekolah yang melakukan rekayasa dan itu yang membuat kami tidak terima. Hanya Tuhan yang tahu, mana yang benar,” katanya.
Tak hanya itu, pihak vendor juga mengancam menghentikan pemberian MBG ke sekolah itu. ”Dan betul, mereka tidak antar makanan ke sekolah. Vendor bilang, MBG itu pakai uang pribadi dia,” ujarnya.
Hamuli mengatakan, ia berani mengungkapkan temuan itu demi perbaikan program MBG ke depan. Menurut dia, program Presiden Prabowo Subianto harus didukung demi masa depan generasi muda Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/13/c6d1088cd275e6fb53512523c7bd9b59-1000388062.jpg)
Terkait pelaksanaan program MBG di NTT, Florencio Mario Vieira, anggota tim pengawasan dari Badan Gizi Nasional, hingga Selasa siang ini belum memberikan komentar. Padahal, pertanyaan yang dikirim Kompas sejak Selasa pagi melalui Whatsapp sudah dibaca Mario.
Sejak program MBG diluncurkan di NTT pada 6 Januari 2025, komunikasi kepada media sangat tertutup. Vendor tidak berani bicara. Satu-satunya sumber yang pernah bicara adalah Mario ketika diwawancarai Kompas pada Senin (13/1/2025).
Kala itu ia mengatakan, di NTT terdapat 749 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Pembentukan SPPG didukung sumber daya manusia, seperti ahli gizi dan tenaga masak yang terampil. Kondisi dapur juga memenuhi standar. Satu SPPG melayani sedikitnya 3.000 penerima manfaat.
Selasa pagi tadi, Kompas memantau pelaksanaan MBG di SD Katolik St Yoseph 3 Kupang. Sebelum pukul 08.00 Wita, petugas mengantar makanan ke sekolah. Para siswa mulai menyantapnya. Sebagian besar menikmati makanan yang disajikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/ccb592ae79e853f0067f1b46c3ced197-1000540629.jpg)
Namun, ada siswa yang tidak mau menyantap menu MBG. Mereka trauma dengan menu MBG yang dibagikan pekan lalu. Saat itu, tempe dan sayuran terasa basi. ”Saya bawa sendiri nasi dan telur,” ujar Ana Maria, siswi kelas I SD Katolik St Yoseph.
Di kelas lain, ada seorang siswa menyantap nasi kuning yang dibeli dari warung. Saat ditanya gurunya, siswa itu tidak menjawab. Ia terus menyantap nasi bungkus sampai selesai. Ia sepertinya gugup.
Kepala SD Katolik St Yoseph 3 Maria Magdalena Saming mengatakan, MBG di sekolah itu baru dimulai pekan lalu. Pada awalnya, banyak murid dan orangtua atau wali protes lantaran kondisi makanan dianggap tidak layak konsumsi.
”Kami sudah sampaikan kepada pihak pengelola terkait keluhan ini. Mereka terus perbaiki dan semakin ke sini terus berubah jadi lebih baik,” ujarnya.
Sejak MBG mulai diluncurkan di NTT, banyak persoalan muncul. Sejatinya temuan itu harus dijadikan evaluasi pihak vendor, bukan malah balik mencari kesalahan orang lain. Kasus di Sumba jangan sampai terulang di tempat lain.
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum