Damailah Betlehem dan Dunia

Yesus tidak dapat dicapai sendirian, tetapi dengan bersama-sama, dalam komunitas. Gereja pun memberi ruang untuk semua orang.

25 Des 2024 07:30 WIB · Opini

Oleh Aloys Budi Purnomo

Setiap kali umat Kristiani merayakan Natal, pikiran dan hati kita dibawa berada di Betlehem, tempat Yesus Kristus lahir. Dua ribu tahun lebih yang lalu, Yesus Kristus lahir di Betlehem di tempat yang tidak semestinya.

Bahasa Alkitabiah menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di palungan karena Maria yang kala itu sedang mengandung Yesus tidak mendapatkan tempat penginapan. Bersama Yusuf dan warga lainnya, mereka harus pergi atas alasan politis, yakni pelaksanaan sensus penduduk yang dilakukan oleh Kaisar Agustus (bdk. Lukas 2:1-7).

Dalam bahasa sehari-hari, tidak mendapatkan tempat penginapan dapat pula dipahami bahwa hal itu terjadi karena adanya unsur penolakan. Itulah yang kemudian mewarnai narasi Natal hingga hari ini. Hingga muncullah lagu Natal tradisional, ”Betlehem Brikan Pintumu!” karya Paderbon, pada 1850 (Madah Bakti 328).

Warna politis

Narasi versi Injil Lukas sebenarnya sangat kental berbau politik sebagaimana ditengarai Robyn J Whitaker (2020) bahwa Christmas is political and always has been. Whitaker bahkan menyebut Natal terjadi di tengah teror.

Menurut Whitaker, dalam konteks historisnya, kisah Natal adalah kisah teror manusia dan kerahiman ilahi. Natal perdana dilatari pelecehan atas manusia dan cinta kasih Allah dengan segala kerahiman-Nya yang membela kehidupan manusia yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD).

Dalam konteks itulah, warna politis kisah asli Natal perdana mewartakan bahwa Putra Allah menjelma menjadi manusia dalam wujud seseorang yang rentan, miskin, dan telantar. Kisah Natal perdana dengan warna politisnya sesungguhnya dimaksudkan untuk mengungkapkan ketidakadilan kekuasaan tirani dan pembelaan Allah terhadap kaum KLMTD.

Sekitar 580 warga kurang mampu dan penyandang disabilitas lintas agama mengikuti Makan Siang Natal yang diadakan oleh Komunitas Domus Cordis di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (25/12/2023). Acara yang digelar secara rutin sejak lima tahun terakhir ini bertujuan untuk membangun persahabatan antarumat tanpa membeda-bedakan agamanya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 25-12-2023

Paus Fransiskus (2023) bahkan menyatakan, dewasa ini, dengan berkecamuknya perang yang terjadi di Gaza, termasuk wilayah Betlehem, di sanalah Yesus Kristus sebagai Sang Raja Damai kembali ditolak oleh logika perang yang sia-sia. Ditolak oleh bentrokan senjata yang bahkan hingga hari ini mencegah-Nya menemukan tempat di dunia.

Tahun 2023 yang lalu, akibat perang Gaza, perayaan Natal di Betlehem—tempat orang Kristen percaya bahwa di situlah Yesus lahir—dibatalkan.

Dalam perayaan Natal tahun 2023 yang lalu, kota itu hampir sepi, dengan sedikit jemaah di sekitar dan tidak ada pohon Natal yang didirikan, setelah para pemimpin gereja setempat memutuskan untuk tidak mengadakan perayaan apa pun yang tidak perlu meriah sebagai bentuk solidaritas dengan warga Gaza.

Dalam situasi itu, Paus Fransiskus memberikan pesan Natal yang dihubungkan dengan seruan lantang, ”Stop berperang! Cukup, dengan perang! Cukup dengan kekerasan!”

Kata-kata tegas ini bergema lagi di Aula Paulus VI pada hari Sabtu (7/12/2024) saat Paus Fransiskus menerima audiensi para delegasi yang menghadiahkan Adegan Kelahiran dan Pohon Natal tahun ini untuk diresmikan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Quote

Paus Fransiskus memberikan pesan Natal yang dihubungkan dengan seruan lantang, ’Stop berperang! Cukup, dengan perang! Cukup dengan kekerasan!’

Patung Kelahiran Yesus ini dibuat di kota Grado, di wilayah Friuli Venezia Giulia, Italia utara, sementara pohon cemara megah setinggi 29 meter itu berasal dari hutan Ledro, di wilayah Trentino. Hadir pula perwakilan dari Kedutaan Besar Negara Palestina untuk Takhta Suci dalam rangka peresmian ”Nativity of Bethlehem 2024” yang dibuat oleh para perajin setempat dan dipajang di Aula Paulus VI.

Seorang pengurus gereja membuat lingkaran adven dari bahan botol plastik bekas di Gereja Santa Theresia Jakarta, Kamis (19/12/2024). Pengurus Gereja Santa Theresia Jakarta membuat dekorasi Natal dengan menggunakan barang-barang bekas, salah satunya pohon Natal yang dibuat dengan botol plastik bekas. Sebanyak 900 botol bekas digunakan oleh ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Santa Theresia untuk dijadikan pohon Natal. Pohon Natal itu dibuat selama 3 hari. Selain pohon Natal, botol bekas juga dijadikan hiasan berbentuk rusa. Pemilihan botol bekas untuk hiasan Natal mengacu pada tema Natal tahun ini yaitu "Kembali ke Betlehem". Teman ini mempunyai makna sebagai refleksi atas nilai-nilai kasih, damai, keadilan, dan kesederhanaan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 19-12-2024

Pohon natal

Salah satu dekorasi natal adalah pohon natal yang merupakan metafora gereja. Merefleksikan pohon natal menjulang tinggi, yang dikabarkan dipanen dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekologis untuk regenerasi hutan alami, Paus Fransiskus menyoroti makna spiritual yang lebih dalam.

Cabang-cabang pohon itu, tua dan muda, terjalin menjulang ke langit menjadi metafora yang kuat bagi gereja. Metafora eko-eklesia pohon natal adalah gambaran simbolik ekologis bahwa seluruh umat manusia, juga seluruh anggota gereja, saling terhubung satu sama lain.

Menurut Paus Fransiskus, pohon natal adalah metafora umat dan tubuh yang melaluinya terang Kristus menyebar ke seluruh dunia, berkat suksesi generasi-generasi umat beriman yang bersatu di sekitar satu sumber utama, yakni Yesus Kristus.

Quote

Pohon natal adalah gambaran simbolik ekologis bahwa seluruh umat manusia, juga seluruh anggota gereja, saling terhubung satu sama lain.

Dunia sudah lelah dengan perang! Nativity adalah pesan kerendahan hati dan persekutuan. Beralih ke adegan Kelahiran yang digelarkan di Lapangan Santo Petrus dan dimodelkan berdasarkan casone tradisional dari Laguna Grado, Paus Fransiskus, mengamati bahwa gubuk-gubuk nelayan yang sederhana ini, yang dibangun dengan bahan-bahan sederhana, seperti lumpur dan buluh, berbicara kepada kita tentang Natal.

Putra Allah menjadi manusia untuk sepenuhnya berbagi dalam kemiskinan kita. Membangun Kerajaan-Nya di bumi bukan dengan cara yang kuat, melainkan melalui sumber daya kemanusiaan kita yang sederhana, dimurnikan, dan diperkuat oleh kasih karunia-Nya.

Gereja memiliki ruang untuk semua orang. Ia juga menarik persamaan antara batella, perahu beralas datar yang biasa digunakan untuk mengarungi laguna, dan gereja sebagai kapal yang menuntun orang kepada Kristus.

Perahu ini memberi tahu kita bahwa Yesus tidak dapat dicapai sendirian, tetapi bersama-sama, dalam komunitas, di atas kapal kecil dan besar yang terus dipandu Petrus. Di situ, selalu ada ruang untuk semua orang, selama kita berkumpul.

Di gereja selalu ada ruang untuk semua orang. Seseorang mungkin berkata, ”Tetapi bagaimana dengan orang berdosa?” Mereka adalah yang pertama yang dicari dan akan diselamatkan Yesus Kristus karena Yesus datang untuk orang berdosa, untuk kita semua, bukan untuk orang kudus!

Damailah Bethlehem di Palestina! Damailah dunia! Stop perang dan kekerasan!

Selamat Natal bagi yang merayakannya!

*Aloys Budi Purnomo Pr, Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata


Kerabat Kerja

Penulis:

Aloys Budi Purnomo
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan