Damaskus pernah dikagumi sebagai ”surga dunia”. Namun, dari kota itu pula tragedi manusia dengan pertumpahan darahnya menentukan arah sejarah di Timur Tengah.
22 Des 2024 17:16 WIB · Internasional
Jika surga ada di bumi, Damaskus pastilah tempatnya.
Jika surga berada di surga, Damaskus dapat menandinginya dan menyamainya.
Penggalan tulisan Ibnu Jubair (1145-1217), penyair, peziarah, dan ahli geografi asal Andalusia, ini dikutip Justin Marozzi, wartawan Inggris, saat mengawali uraian tentang Damaskus dalam bukunya, Islamic Empires, Fifteen Cities that Define a Civilization (2019). Dalam edisi Indonesia, judul buku itu diterjemahkan menjadi Islamic Empires, Kota-kota yang Membentuk Peradaban: dari Mekkah hingga Dubai (Penerbit Republika, Januari 2024).
”Damaskus-Surga yang Wangi (Abad Ke-8)”, demikian Marozzi memberi judul bab tentang ibu kota Suriah tersebut. Dalam bukunya, ia menempatkan Damaskus di bab kedua setelah Mekkah dan sebelum bab-bab tentang Baghdad, Kordoba, Jerusalem, Kairo, Fez, dan seterusnya.
Dalam kunjungan jauh sebelum perang saudara merajam Suriah (meletus sejak 2011), Marozzi melukiskan Damaskus dipenuhi harum melati dan indahnya kembang sepatu serta bugenvil. Bagai surga dunia, sebut Ibnu Jubair dalam puisinya. ”Kota Tuhan yang paling indah di dunia”, kata Muhammad al-Idrisi (1100-1165), ahli geografi era Dinasti Murabitun di Spanyol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/15/7c2e308db1a6ccc96608d58401b03ecd-000_36QB4ET.jpg)
Namun, keindahan Damaskus dan wilayah-wilayah lain di Suriah sekaligus menjadi tragedi bagi kota dan bangsa itu. Wilayah tersebut menjadi tujuan penaklukan dan arena perebutan bangsa dan kekuatan-kekuatan luar.
Selama puluhan abad, Damaskus sudah berpindah tangan antarberbagai bangsa: Aramaik (abad ke-11 SM), Asyuria (ke-8 SM), Babilonia (ke-7 SM), Achaeminid (ke-6 SM), Yunani dan Seleukia di bawah Alexander Agung (ke-4 SM), Nabatia dan Romawi (ke-1 SM), Persia (tahun 612), Bizantium (628), dan kemudian kekhalifahan Islam (634).
Dalam sejarah Islam, Damaskus menempati posisi penting. Damaskus menjadi kota pertama di bawah Imperium Bizantium yang direbut pasukan Muslim. Setelah era empat khalifah (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) pasca-wafatnya Nabi Muhammad, kota itu menjadi pusat pemerintahan Kekhalifahan Umayyah (660-750).
Setiap peralihan atau transisi sejarah di Damaskus tak lepas dari peristiwa kelam dan berdarah.
Namun, setiap peralihan atau transisi sejarah di Damaskus tak lepas dari peristiwa kelam dan berdarah, pun pada era pemerintahan Islam. Diawali ”huru-hara besar pertama (al-fitnah al-kubra al-ula)” dengan pembunuhan Khalifah Utsman, pecah perang saudara di dataran Shiffin—selatan Raqqah, Suriah—dalam ”huru-hara besar (al-fitnah al-kubra) kedua” antara pasukan Khalifah Ali versus pasukan Muawiyah, pendiri Dinasti Umayyah yang kemudian memindahkan ibu kota pemerintahan Islam ke Damaskus.
”Huru-hara besar” tersebut menandai salah satu lipatan sejarah yang belakangan melahirkan kubu Sunni dan Syiah dalam komunitas Muslim. Peristiwa belasan abad silam itu sedikit-banyak ikut memengaruhi pergolakan sejarah hari ini. Kemunculan kelompok-kelompok teroris, seperti Al-Qaeda dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), kerap disandarkan akar sejarah mereka pada kelompok Khawarij, yang lahir di tengah ”huru-hara besar” tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/1c6fe679-4ff5-46f0-8b1f-e410554ce6de.jpeg)
Banyak alasan kenapa Damaskus punya daya pikat bagi bangsa atau kekuatan-kekuatan luar. Salah satunya posisi strategis Damaskus (Suriah) antara Irak, Mesir, padang pasir Hijaz, dan pelabuhan Laut Tengah. Posisi di persimpangan Asia, Eropa, dan Afrika itu membuat Damaskus menggoda bangsa atau kekuatan luar untuk datang dan berebut wilayah itu demi kepentingan masing-masing.
Pertarungan kepentingan itu berulang kali mengubah sebagian besar Damaskus, ”surga dunia”, tampak seperti ”neraka di bumi”. Ini pula yang terjadi selama perang saudara di Suriah lebih dari satu dekade terakhir.
Tak hanya warga Suriah yang saling berperang, kekuatan-kekuatan luar pun bertarung. Rusia dan Iran menopang rezim penguasa Bashar al-Assad. Turki, Qatar dan negara-negara Arab Teluk, dan Amerika Serikat mendukung oposisi.
Kekacauan tersebut menjadi lahan subur tumbuhnya terorisme, ditandai dengan lahirnya NIIS. Raqqah, sekitar 437 kilometer timur laut Damaskus, pernah menjadi salah satu ibu kotanya, selain di Mossul, Irak.
Tragedi kemanusiaan selama 13 tahun perang saudara di Suriah juga tak terperikan: korban jiwa hampir setengah juta warga, separuh dari 23 juta penduduknya mengungsi, menjadi bencana kemanusiaan di banyak negara, mulai dari Jordania, Irak, Lebanon, Turki, dan bahkan hingga Eropa. Di Eropa, banjir pengungsi itu mengakselerasi bangkitnya partai-partai sayap kanan.
Tanggal 8 Desember 2024, Assad tumbang setelah Damaskus jatuh ke tangan milisi-milisi oposisi yang digalang Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Momentum ini disebut bakal menjadi penanda perubahan tektonik (tectonic shift) di kawasan Timur tengah (Natasha Hall dan Joost Hiltermann, Foreign Affairs, 9/12/2024).
Jatuhnya Damaskus ke tangan HTS dan milisi-milisi oposisi Suriah bakal menjadi salah satu lipatan sejarah yang mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Cengkeraman Rusia dan Iran memudar, pengaruh Turki menguat. Muncul pula ancaman keutuhan wilayah Suriah terkait aspirasi milisi Kurdi dukungan AS yang mendambakan otonomi, serta meluasnya wilayah caplokan Israel di Suriah.
Nasib Suriah ke depan tak hanya ditentukan oleh kemampuan HTS, yang menguasai pemerintahan transisi hingga 1 Maret 2025, dalam membentuk pemerintahan inklusif. Nasib Suriah juga dipengaruhi kekuatan-kekuatan luar itu: apakah mereka hanya mengutamakan kepentingan masing-masing ataukah membantu menstabilkan dan ikut membangun kembali negara itu.
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Kris Mada